Sunday, September 24, 2017

Go!


On a major throwback: I want to suggest people to leave their hometown. No, not just for vacation or traveling for a few days or weeks, no. Leave and stay at another place for a long time. Be the local people.

I have lived in Bandung since I was 2 yo. I spent my whole 23 years in that city. Well, for a half year I worked in Jakarta but I could come home every weekend. I knew I could go to my comfort zone anytime I wanted. When I continued my study outside my hometown, there's one thing that I learned.

I learned how to miss. I missed the place, I missed the food, I missed the air. I missed the people.
I learned how to not take things for granted. Even small things. Small things become important things when you missed it.

For a person that has never been outside for a long time, that is a new thing for me. I hope I won't forget that because it makes me appreciate more what I can not have at that time.

I understand that our way of thinking is also influenced by the environment. Some people don't want to leave their hometown just because nobody around him/her does that. Some people asked why I want to go outside this country. Well, why not? I said, this earth is pretty big and I want to see the other side of the world.

So, pack your bag and leave. Go!

Thursday, August 03, 2017

S3 ASI

Alhamdulillah di bulan Juli kemarin genap dua tahun saya menyusui K. Kalau melihat awal perjalanan menyusui, saya tidak menyangka akan sampai garis finis terakhir. Setelah melahirkan, saya bukan termasuk yang berASI banyak. Berbekal dorongan dokter untuk terus menyusui dan menghitung kecukupan ASI pada K (minimal BAK lebih dari 6 kali sehari, pup lancar, tidak ada tanda dehidrasi, dll) saya coba untuk menyusui dan menghiraukan selentingan-selentingan yang ada.


Dengan kondisi yang seperti ini, saya mencoba untuk realistis: OK, mari pasang target sampai ASI eksklusif. Alhamdulillah tercapai walau sempat umur 5 bulan hasil perahan defisit karena jam perah yang kacau dan mulai haid lagi. Deg-degan juga, tapi alhamdulillah stok cadangan masih mencukupi.

Masuk MPASI, produksi ASI masih ada dan porsi minum ASIP jg mulai berkurang. Hasil perahan yang tadinya defisit akhirnya sedikit-sedikit mulai surplus.

Di masa menyusui ini saya juga coba macam-macam booster ASI. Memang sih kata konselor laktasi booster ASI itu sebenarnya tidak perlu/tidak ada, tapi tidak ada salahnya mencoba kan?

Coba susu kedelai Mamasoya, tidak suka dan tidak enak. Huek.
Coba coklat Hijrah, dari sekotak yang mahal itu bagi-bagi sama ibu-ibu perah lain. Hahaha. Coklatnya enak sih tapi karena cobanya sedikit jadi tidak terlihat penambahan ASInya.
Coba susu almond, sampai beberapa merek, enak enak enak. Tapi rasanya ga terlalu kentara juga penambahan ASInya. Harus benar-benar rutin sih konsumsinya ya. Kalau saya coba sekali-sekali doang. Hahaha.
Coba kurma, kukis herbal, tidak ada yang mempengaruhi secara signifikan pada ASI. Sigh. Terima saja kenyataan yang segini saja ASInya.

 

Satu tahun lewat. Alhamdulillah masih mengASIhi. Satu setengah tahun lewat. Hasil perahan mulai berkurang sangat. Yang tadinya sekali perah 100ml, jadi 80ml, lalu 60ml, lalu 30ml. Sedih. Ditambah melihat teman-teman pemerah lain yang banyak sekali hasil perahannya, tambah sedih. Saya sampai sengaja tutup-tutupin hasil perahan saya. Hahaha. Tapi memang sih yang lain anak-anaknya lebih muda dibanding K. *menghibur diri*


Tiap ibu menyusui punya perjuangannya masing-masing. Kondisi lingkungan yang kondusif baik di keluarga dan di kantor sangat membantu keberhasilan menyusui sampai dua tahun ini. Dari ASI yang tidak banyak ini semoga sudah memenuhi haknya K. 

Untuk ibu-ibu yang masih menyusui, tetap semangat! You can do it!

Saturday, July 15, 2017

Review E-book

Sampai bulan Juli ini, terhitung delapan buku yang sudah saya baca sampai selesai. Rekor! Baik buku fisik dan e-book. Dulu saya pernah review sedikit beberapa aplikasi e-book yang pernah saya pakai. Memang ternyata penggunaan aplikasi e-book itu sangat bergantung dengan layar ponsel yang dipunya. Setelah upgrade ponsel dengan layar yang lebih besar, rasanya beda bangeeet. Dengan layar yang lebih besar, bacanya lebih enak! *yaiyalah*

Ada tiga aplikasi e-book saat ini yang ada di ponsel saya:
1. iJakarta
Buku-buku di iJakarta semuanya versi bahasa Indonesia (sependek yang saya temukan) dan koleksinya cukup banyak dari berbagai genre. Seperti yang sudah pernah saya ulas, iJakarta ini sistemnya seperti perpustakaan, maksimal 3 hari peminjaman, dan gratis.


Kalau buku yang dipinjam belum selesai dan tidak terlalu populer, bisalah setelah 3 hari dipinjam lagi bukunya. Kalau bukunya  populer, beuh...butuh banyak keberuntungan untuk bisa baca. Kita bisa "mengantri" untuk buku tersebut tapi sayangnya, notifikasi buku sudah available hanya bisa dilihat kalau sedang membuka aplikasi. Selain itu, entah kenapa setelah update kemarin, aplikasinya restart terus, jadi tidak bisa baca dan bug-bug yang ada sebelumnya juga belum diperbaiki. :(

2. Bookmate


Aplikasi ini di review sebelumnya tidak terlalu bagus tapi setelah upgrade layar ponsel (dan mungkin ada update juga di aplikasinya), Bookmate jadi aplikasi e-book favorit saya saat ini! Koleksi bukunya banyak dan bagus-bagus. Ada buku bahasa Indonesia tapi buku bahasa Inggris (dan bahasa lain) lebih banyak. Yang penting lagi, gratis! Ada premium subscriptionnya sekitar 75 ribu rupiah per bulan. Masih OK lah ya. Untuk para dermawan bisa upload buku juga dengan format EPUB atau FB2. Fitur-fiturnya juga cukup banyak, ada shelf, quotes (kita bisa highlight kalimat-kalimat yang oke dan orang lain bisa melihat di halaman review buku tsb), notes, kamus, dan review buku dengan tambahan sticker yang lucu-lucu (disebutnya impressions).



3. Google Play Books
Play Books dipilih kalau memang buku yang mau saya baca tidak ada di koleksi aplikasi e-book lain. Biasanya bukunya harus dibeli karena koleksi buku gratis di Play Books cuma yang classic literature atau buku-buku tidak jelas non populer. Untuk fitur, lebih sedikit dari Bookmate, ada notes, highlight, dan kamus. Kalau Bookmate bisa dibilang social medianya para bookworm, bisa add friend, lihat shelf teman dan reviewnya. Sejenis Goodreads tanpa fitur baca bukunya. Tapi untuk Google Play Books memang mengkhususkan sebagai library pribadi saja tanpa sosialisasi dengan yang lain. Tapi kelebihan Play Books yang saya suka, canggihnya di Play Books ada fitur Night Light yang menghilangkan sinar biru di layar sehingga mata tidak cepat lelah saat membaca. Secara otomatis layar akan menyesuaikan dengan kondisi cahaya di sekitar. Top!


Masih banyak aplikasi e-book lain tapi dengan yang ada ini saja sudah banyak banget buku yang ingin dan bisa dibaca. Semangat kejar target membaca tahun ini!

Saturday, April 08, 2017

Make up vs skin care

Dulu saya tidak terlalu memperhatikan perbedaan make-up dan skin care. Keduanya hanya terlihat satu: kosmetik. Wajah saya memang gampang berjerawat dan bekasnya susah-banget-nget hilang but I try to embrace it. I don't need layers of layers of products to cover it up. This is just the way I am.

Sampai akhirnya saya tercerahkan tentang perbedaan make-up dan skin care (kemana ajaaa), saya menyesal tidak mengetahuinya lebih cepat. Intinya, skin care untuk merawat wajah supaya sehat dan make up untuk menyempurnakan penampilan. Either put some concealer for that tired eyes or lipstick to complete the look. Saya bisa bilang make-up itu tidak terlalu perlu (untuk saya), tapi skin care sepertinya semuanya butuh (Hello sunscreen!). Mungkin untuk beberapa orang yang kulitnya tidak high maintenance bisa tenang-tenang saja. Tapi tidak dengan saya. Sekali tidak cuci muka di malam hari, besoknya langsung muncul jerawat. Sigh.

Ini jadi pelajaran buat saya, terutama untuk memberikan pengertian untuk anak saya nanti berhubung sepertinya anak saya ini punya kulit seperti saya. Huhu.

Cintai dan rawatlah kulitmu sebelum menyesal di kemudian hari!

Sekarang untuk perawatan sehari-hari yang biasanya hanya sabun pembersih muka dan pelembab, mulai ditambah dengan toner, serum, dan sunscreen. Kalau lagi rajin, semuanya dikerjain. Kalau malas, skip skip aja. Haha. Setidaknya seminggu sekali scrub wajah dan maskeran. Memang agak repot, tapi lumayan sih sekarang kalau muncul jerawat gak parah-parah amat. Tetap semangat!



Saturday, February 25, 2017

I choose to stay


Last year, I was trying to add more blogs to my feeds. Most of my blog friends has not updated their blog for a long time (years!). Then I searched for other peoples's personal blog.  A blog that not just telling me about their traveling stories or fashion or whatever they show off on the blog. I want to know about their life. Their daily struggle. Their opinions about things. Their silly stories and jokes. Like old times. When the blogosphere were simple and...less sponsored.

The rising of internet user and social media has shifted how we do with blogs. We are not blogging for pleasure anymore, we blog for work. Or even abandon our blog because social media is more interesting and easier.

And then I was thinking about my blog. This blog. I started on 2004. I write what I want to write. My daily life. My babbling. My dreams. It was fun. People start blogwalking and making friends in real life. But now, it seems people have left this side of blogosphere. Even I make less and less post each year. Should I left my blog too?

But it's too much stories written here. Almost all my ups and downs, the big moments I shared. This blog has become a part of my life. Thirteen years, and counting.

And then I came across a post by Claradevi. I was like: so, it's not just me who feel this!
And then The Blog Project ID. I was so happy. It's like the universe telling me that there are still people like me who get sentimental with a blog. Haha.

So, I choose to stay here.


And you should too.


written as monthly challenge on TheBlogProjectID