Saturday, April 08, 2017

Make up vs skin care

Dulu saya tidak terlalu memperhatikan perbedaan make-up dan skin care. Keduanya hanya terlihat satu: kosmetik. Wajah saya memang gampang berjerawat dan bekasnya susah-banget-nget hilang but I try to embrace it. I don't need layers of layers of products to cover it up. This is just the way I am.

Sampai akhirnya saya tercerahkan tentang perbedaan make-up dan skin care (kemana ajaaa), saya menyesal tidak mengetahuinya lebih cepat. Intinya, skin care untuk merawat wajah supaya sehat dan make up untuk menyempurnakan penampilan. Either put some concealer for that tired eyes or lipstick to complete the look. Saya bisa bilang make-up itu tidak terlalu perlu (untuk saya), tapi skin care sepertinya semuanya butuh (Hello sunscreen!). Mungkin untuk beberapa orang yang kulitnya tidak high maintenance bisa tenang-tenang saja. Tapi tidak dengan saya. Sekali tidak cuci muka di malam hari, besoknya langsung muncul jerawat. Sigh.

Ini jadi pelajaran buat saya, terutama untuk memberikan pengertian untuk anak saya nanti berhubung sepertinya anak saya ini punya kulit seperti saya. Huhu.

Cintai dan rawatlah kulitmu sebelum menyesal di kemudian hari!

Sekarang untuk perawatan sehari-hari yang biasanya hanya sabun pembersih muka dan pelembab, mulai ditambah dengan toner, serum, dan sunscreen. Kalau lagi rajin, semuanya dikerjain. Kalau malas, skip skip aja. Haha. Setidaknya seminggu sekali scrub wajah dan maskeran. Memang agak repot, tapi lumayan sih sekarang kalau muncul jerawat gak parah-parah amat. Tetap semangat!



Saturday, February 25, 2017

I choose to stay


Last year, I was trying to add more blogs to my feeds. Most of my blog friends has not updated their blog for a long time (years!). Then I searched for other peoples's personal blog.  A blog that not just telling me about their traveling stories or fashion or whatever they show off on the blog. I want to know about their life. Their daily struggle. Their opinions about things. Their silly stories and jokes. Like old times. When the blogosphere were simple and...less sponsored.

The rising of internet user and social media has shifted how we do with blogs. We are not blogging for pleasure anymore, we blog for work. Or even abandon our blog because social media is more interesting and easier.

And then I was thinking about my blog. This blog. I started on 2004. I write what I want to write. My daily life. My babbling. My dreams. It was fun. People start blogwalking and making friends in real life. But now, it seems people have left this side of blogosphere. Even I make less and less post each year. Should I left my blog too?

But it's too much stories written here. Almost all my ups and downs, the big moments I shared. This blog has become a part of my life. Thirteen years, and counting.

And then I came across a post by Claradevi. I was like: so, it's not just me who feel this!
And then The Blog Project ID. I was so happy. It's like the universe telling me that there are still people like me who get sentimental with a blog. Haha.

So, I choose to stay here.


And you should too.


written as monthly challenge on TheBlogProjectID

Sunday, February 19, 2017

Yang baru


Gak terasa sudah bulan  Februari lagi. Tadinya masih mikir-mikir mau nulis apa tapi baru ingat ada yang terlewat di bulan Januari: saya resmi berkepala tiga! Biasanya jauh-jauh hari saya sudah menyiapkan rencana kegiatan apa yang mau saya lakukan di hari istimewa itu. Tapi kali ini, karena kesibukan, hari itu berlalu begitu saja. Gak apa-apa karena saya menghadiahi diri dengan: domain sendiri! Woohoo!

Tadinya saya masih ragu-ragu untuk beli domain. Perlu apa engga, namanya mau apa, lamaaa mikir nama yang pas. Awalnya ingin bikin "brand" biar namanya ga terlalu "terkenal" pede banget tapi ga dapat-dapat idenya. Ya sudah, pakai nama sendiri aja, sekarang sudah gak jaman jadi anonimous ya kan. Semoga dengan domain baru bisa nambah pecut buat lebih banyak nulis! Aamiin.


Sunday, January 29, 2017

good bye




Tanggal 5 Desember 2005 adalah kali pertama kita berdua menyusuri jalan raya. Mulai saat itu, kamu bukan hanya sekedar kendaraan tapi juga teman:
Ketika saya berjadwal penuh dari pagi sampai malam
Ketika saya karaoke dari kaset (!), cd atau radio
Ketika saya berargumen khayalan entah tentang apa
Ketika saya nangis sambil nyetir yang sekarang saya lupa penyebabnya apa
Ketika saya membawa teman-teman sampai duduk di bagasi 😄
Ketika saya terheran-heran kenapa titik merah kamu selalu hilang (dan kembali!)

Terima kasih atas momen-momen itu... 


Dan saya minta maaf:
Ketika nabrakin, nyenggolin, baretin kamu dengan segala macam
Ketika kamu penuh dengan t*i burung karena parkir di sebuah institut di bandung 🙈
Ketika sampai akhir pun kamu masih kena tabrak orang 😳 (meskipun bukan saya yang nyetir)

I may not be your last driver but let me give a proper goodbye. May you will be happier with your new owner! Mwah! 😘❤ 

dipost juga sebagai bagian dari #30haribercerita di instagram.

Tuesday, January 10, 2017

book review: Critical Eleven

Sedikit intro tentang Ika Natassa. Buku-buku Ika Natassa sudah lama saya dengar. Beberapa teman pernah merekomendasikan, namun entah kenapa saya belum tertarik untuk membaca bukunya. Mungkin karena genrenya "chicklit" or "metropop" yang membuat saya berasumsi kalau jalan ceritanya ya begitu, ada laki-laki dan perempuan, konflik cinta-cintaan, dan akhir happy ending. Begitu kan umumnya kemasan chicklit? Dulu saya belum tertarik.

Hingga 2 tahun lalu, keinginan untuk membaca buku chicklit tiba-tiba muncul. Saat itu buku Antologi Rasa versi Illustrated Edition baru terbit dan Ika Natassa sendiri yang buat ilustrasinya. Menarik. Akhirnya saya beli buku Ika Natassa pertama saya. Setelah membaca Antologi Rasa, saya akhirnya mengerti kenapa banyak teman dan orang yang suka dengan cerita-cerita Ika.
Sama juga dengan Critical Eleven. Sudah lama lihat berseliweran di timeline dan toko buku, sudah masuk juga dalam daftar buku yang ingin dibeli. Entah kenapa prioritasnya masih di bawah buku-buku lain. Padahal saya suka dengan premis bukunya. Saya sendiri suka dengan bandara. Beberapa kali bikin cerita dengan setting bandara, tapi belum ada yg kelar. Hahaha. 

Sampai akhirnya saya menemukan aplikasi iJakarta. Senang banget waktu buku Critical Eleven muncul di halaman pertama. Pucuk dicinta ulam tiba!

Kesan pertama baca Critical Eleven: multi POV again? Apa semua buku Ika Natassa multi POV? (Beberapa waktu lalu saya baru tahu kalau Antologi Rasa adalah buku pertama yang multi POV dan Critical Eleven adalah yang kedua). Seperti Antologi Rasa (dan mungkin buku-bukunya yang lain), cerita Critical Eleven mengalir enak dibaca. Ikut larut dalam penggalan-penggalan romantis antara Ale dan Anya yang bikin senyum-senyum sendiri. Humor, sarkasme, beserta bahasa dan bahasan urbannya seperti sedang mendengar teman sendiri yang langsung bercerita. Dan tentu saja bagian New York!

Paris has its light, Rome its crooked alleys, London its misty Thames. But nowhere is as breathlessly romantic as New York City.

Oh we all have a thing for the concrete jungle, yes?

Dengan karakter Ale dan Anya yang digambarkan hampir sempurna (ganteng-cantik, kaya, dan mapan), cerita mereka hampir seperti too good to be true. Maybe we are all longing for what Ale and Anya have, and Ika gave what we want in a story. Gaya cerita yang banyak flashback kadang bikin bingung dengan timeline cerita kalau bacanya tidak teliti. Ketika saya memulai baca buku ini, saya tidak membaca blurp yang ada di kover belakang. 'Tragedi besar' Ale dan Anya jadi kejutan tersendiri buat saya. Pengungkapan detailnya yang perlahan, jadi salah satu alasan untuk terus membuka halaman demi halaman.
Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing...it's kinda the same meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama...And then there's the last eight minutes before you part with someone..delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Tapi saya merasa konflik utama cerita agak tidak nyambung dengan premis Critical Elevennya. I mean, they are what they are right now. Based on those eleven minutes, they already made a decision. So, they already passed the eleven minutes critical moment, amirite?

(Pembaca kok banyak protesnya, bikin cerita sendiri gih *toyorkepalasendiri*)  
...expectation is the root of all disappointments.
Just as what she mentioned, mungkin saya menyimpan banyak ekspektasi terhadap buku ini sehingga banyak protesnya. Put the expectations aside, this book is entertaining and a well-told story. 

Tentang filmnya yang akan muncul nanti, belajar dari bukunya, saya tidak akan menyimpan ekspektasi apa-apa. Lihat dari posternya sih bagian New York ada ya. Atau bisa jadi ceritanya akan berbeda dibanding bukunya (Surprise me, Jenny Jusuf!). Kalau ditanya siapa yang pantas berperan sebagai Ale dan Anya, melihat penggambaran karakter mereka, tentu saja: Dian Sastro dan Nicholas Saputra! Hahahahaha #anak90an. But seriously, memang ga ada yang lain ya selain Reza?