Saturday, January 06, 2018

Mencoba hal baru


Melihat di tahun 2017 kemarin, saya punya banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal baru. Menyenangkan sekali. Dari dulu saya selalu terpikir hal-hal apa yang bisa saya lakukan supaya hidup ini tidak begitu-begitu saja. Hal-hal baru yang ingin dicoba ini memunculkan semangat-semangat kecil untuk memulai hari. Semangat melakukan sesuatu yang ditunggu-tunggu atau semangat hasil melakukan hal yang baru. Menurut artikel ini, melakukan hal-hal baru mempunyai banyak keuntungan untuk diri kita sendiri.

1. Mengalahkan rasa takut
Rasa takut kadang menjadi penyebab utama untuk memulai sesuatu yang baru. Takut tidak bisa dan takut gagal. Semua itu adalah kekhawatiran yang belum tentu terjadi. You never know until you tried.

2. Kenal diri lebih dalam
Melakukan sesuatu yang baru bisa jadi mengeluarkan potensi yang tidak pernah kita ketahui. Waktu ikut Kelas Jahit IIP, pengajarnya berkomentar kalau saya lancar menjahitnya. Wah, kalau tidak ikut kelas ini, saya tidak pernah tahu kalau saya bisa juga menjahit.

3. Menstimulasi kreativitas
Ketika melakukan hal-hal baru, otak kita terstimulasi untuk berpikir di luar "kotak". Memang kerja otak itu ajaib ya. Selain itu, saya pikir rasa senang dalam melakukan hal baru juga berperan dalam kreativitas. Refresh the brain!

4. Membuat diri kita lebih menonjol
Lebih bagus kalau hal-hal baru yang kita lakukan juga untuk menambah atau meningkatkan skill yang berguna. Tahun lalu saya ikut pelatihan singkat Basic Life Support Skill yang mengajarkan pemberian bantuan dalam keadaan darurat seperti tersedak, terluka atau membutuhkan CPR. Bukan skill yang ingin saya pakai sering-sering tapi tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga kan?

Mungkin bisa jadi masih banyak keuntungan yang dirasakan dalam mencoba hal baru. Hal-hal baru apa yang akan dicoba di tahun 2018 ini? :)

Wednesday, January 03, 2018

Uli dan Flip


Perkenalkan sahabat saya yang sudah menemani selama hampir 7,5 tahun. Sedikit flashback, kami bertemu seperti jodoh, tidak diduga-duga. Awalnya laptop yang saya incar bukan yg ini. Sudah menimbang-nimbang laptop yang lain sampai bolak-balik dua kali ke toko, tapi tiba-tiba ditawarkan ASUS UL20A a.k.a si Uli ini. Langsung klik, bungkus!

Katanya umur laptop (dan perangkat mobile lainnya) itu sekitar 4-5 tahun, optimalnya. Setelah itu performanya mulai menurun dan muncul teknologi-teknologi baru yang akan menggantikan. Seperti adik (atau cicit??) Uli yang baru muncul, ASUS Vivobook Flip TP410, mari kita sebut saja Flip.



Cakep ya?

Sepertinya Flip cocok untuk menggantikan Uli. Flip memiliki prosesor Intel® Core™ i7 7500U. Generasi ketujuh mikroprosesor Intel ini memiliki dua core dengan kecepatan maksimal 3,5 GHz dan daya 15W dinilai lebih efisien dalam power dan lebih tinggi performanya dibanding generasi sebelumnya. Dengan Hyper-Threading, mikroprosesor ini dapat menangani beberapa task tanpa hambatan yang berarti.

(Intermezzo: Ternyata Intel juga punya nama kode untuk prosesornya. Kalau Android punya kode makanan manis untuk sistem operasinya, Intel menggunakan nama tempat yang dekat dengan fasilitas Intel. Untuk i7 nama kodenya adalah Kaby Lake (mengingatkan saya pada Krabby Patty #penting), kependekan dari Kabinakagami Lake di dekat Ontario, Kanada.)

Untuk SDRAM, Uli cuma punya 2 GB sedangkan memory SDRAM Flip bisa sampai 16 GB.  Dulu punya 2 GB tuh rasanya udah gede banget! Untuk sistem operasinya menggunakan Windows 10 asli. Entah kenapa, setelah instal Windows 10 di Uli, performanya terasa lebih lambat dibanding sebelumnya. Ini yang paling terasa di Uli. Mungkin karena spesifikasi Uli yang kurang cocok untuk Windows 10. Atau mungkin Ulinya saja yang sudah uzur. Hiks.

Dengan spesifikasi ini, saya pikir Flip cukup untuk kebutuhan kerja saya yang sudah tidak berat di programming lagi. Untuk mengerjakan dokumen, presentasi, atau sekedar remote ke server, Flip bisa menjadi pilihan yang tepat. Engga hanya untuk kerja, kalau pakai laptop sebagus ini sih bisa menambah semangat untuk nge-blog atau buat tulisan untuk kelas menulis IIP ya kaaan. #modus

Flip memiliki storage 1 TB HDD dan 128 GB SSD. Jauh banget dengan Uli yang "hanya" 320 GB! Sekarang saja dua drivenya udah merah, hahahaha. Apalagi setelah punya anak, isinya foto dan video anak semua yang memakan banyak tempat.
Mengklaim sebagai laptop 2-in-1 (laptop dan tablet), Flip memiliki display touch screen berukuran 14.0" dengan ukuran body 13.0". Ngiler sama touch screen-nya sih. Kalau sudah ada anak, lihat ibunya pakai laptop, pasti ingin ikutan. Entah lihat foto-foto (fotonya sendiri, narsis memang), video, atau menggambar di aplikasi Paint atau 3D-Paint. Dengan posisi Flip yang bisa standing display, enak banget buat dipakai anak. Kalau untuk menggambar pakai touch pad agak susah ya, apalagi anak baru 2.5 tahun, koordinasi tangannya masih belum bagus. Dengan touch screen yang akurat, ibu ga perlu susah-susah pake touch pad anak bisa bebas berekspresi dalam menggambar. Tinggal clickswipescroll! Cucok!

Selain itu, dengan standing display, layar resolusi Full HD, built-in stereo ASUS SonicMaster Technology dan prosesor i7 yang disebut cocok untuk penggunaan video,  jadi perpaduan yang mantap untuk streaming film! Terbayang kejernihan layar dan suara saat dipakai nonton. Daripada nonton di layar ponsel yang kecil terus bikin sakit mata, apalagi TV di rumah juga belum diperbaiki sama suami udah berbulan-bulan. #curcol

Keyboard menggunakan jenis yang sama dengan Uli, chiclet keyboard. Perbedaannya, Flip punya backlit, Uli engga. Untuk otentikasi, Flip menyediakan fingerprint. Dengan fingerprint proses login bisa lebih cepat! Soalnya sekarang kalau laptop mau dipakai oleh anak, harus mengetik password dulu kan, loading dulu, dan anaknya sudah engga sabaran. Lalu dipencetlah tombol Power lagi, dikiranya bakal bisa buat lebih cepat. Zzzzzzzz.

Web camera VGA masih oke untuk dipakai video call. Sekarang sih biasanya video call dengan orang tua yang kangen dengan cucunya. Kalau dulu video call-nya sama.....*sinyal hilang*
Konektivitas dengan perangkat lain bisa menggunakan 1 Microphone-in/Headphone-out jack, 2 port USB 3.0, 1 port USB-C, slot card reader, dan port HDMI. Cukup banget lah ya. Uli saja masih pakai port VGA. Hahaha. Hari gini...

Yang paling penting lagi untuk saya adalah berat Flip yang 1.6 kg. Berat adalah salah satu faktor penting dalam memilih laptop karena saya punya skoliosis. Tidak boleh membawa beban terlalu berat di pundak. ASUS pun mengklaim baterai dapat bertahan selama 10 jam. Lebih dari cukup kalau ingin jalan-jalan cantik sambil bawa laptop.

ASUS juga memberikan garansi 2 tahun untuk Flip. Dengan service center-nya yang tersebar dimana-mana, engga perlu khawatir lagi kalau ada kerusakan. Ah, semoga saya berjodoh juga dengan kamu Flip!



(Informasi dari ASUS, sini, sana, situ, dan sebelah sana. Gambar dari ASUS dan sini.)
(Tulisan ini dibuat untuk #DianaRikasarixASUSGiveaway)

Tuesday, January 02, 2018

Selamat tinggal 2017!



Tahun 2017 ini terasa berjalan cepat sekali. Di akhir tahun 2016, saya pindah divisi di kantor dan kerjaannya makin banyak. Akhir-akhir ini malah sampai ga sempet ngecek feed reader di kantor. We o we.

Alhamdulillah di tahun 2017 banyak hal baru yang dialami. Mulai dari ikut komunitas Institut Ibu Profesional dan grup ITB Motherhood cabang Jakarta, Tangerang dan Tangerang Selatan. Ikut IIP karena saya merasa menjadi ibu itu perlu banyak belajar dan di IIP pembelajaran sebagai ibu tersusun dengan rapih dengan kurikulumnya. Salut dengan pendiri IIP, Ibu Septi dan Pak Dodik beserta komunitasnya. Semoga amal dan ilmunya menjadi amal jariyah. Aamiin.

Dari komunitas IIP, pertama kalinya saya belajar jahit. Dari bikin pola, gunting, sampai jahit sendiri. Ternyata saya bisa juga buat baju sendiri dan engga sesulit yang dibayangkan. Di komunitas IIP juga saya ikut kelas menulis rutin sebagai "motivasi" menulis di blog. Dibandingkan tahun 2016 saja jumlah postingan sudah naik 50%! Amazing. #keprok

Di komunitas ITB Motherhood JakTangSel juga rutin setiap bulan mengadakan playdate untuk ibu dan anak. Selain serangkaian playdate anak, diadakan juga beauty class untuk ibu-ibu dan basic life training (CPR). Kayaknya kalau engga diinisiasi di grup, saya engga akan ada kesempatan untuk ikut seperti itu. Ibu-ibu hebat! #jempol

Menjelang akhir tahun 2017, saya mulai olah raga rutin dengan aerobic di rumah dan ikut kelas Muay Thai di klub dekat rumah. Dari dulu sebenarnya saya ingin ikut kelas bela diri. Sebelumnya pernah ikut Taekwondo dengan ibu-ibu ITBMh, sayang tidak diteruskan. Memilih Muay Thai juga karena tidak ada pilihan lain dengan waktu yang cocok. Ternyata asyik juga ikut Muay Thai, kalau lagi kesal atau bad mood tinggal pukul-pukul samsak sekuat tenaga. Hahaha.

Target membaca tahun 2017 tercapai! Membaca 13 buku dari target 12 buku. Kesal sendiri dengan tumpukan buku yang belum terbaca dari tahun-tahun kemarin, ditambah dengan tumpukan BBW baru, mulai konsisten baca satu buku per bulan.

Tahun 2017 juga pertama kalinya saya kena radang tumit (plantar fasciitis) karena ternyata saya memiliki flat feet. Penyebabnya adalah saat hamil, berat badan bertambah tapi tidak ditopang dengan sandal yang mumpuni. Dulu saya pakai sendal teplek saja. Ternyata sendal seperti itu kurang bagus sebenarnya, yang bagus adalah yang bersol dan empuk. Untuk kasus flat feet seperti saya, alas kaki harus mempunyai "gundukan" di tengah telapak kaki, karena dengan gundukan itu bisa memperbaiki postur kaki ketika menopang tubuh. Alhamdulillah radangnya sembuh setelah berkali-kali fisioterapi yang menguras jatah medis di kantor. Akibat flat feet ini sekarang engga bisa pakai sepatu unyu-unyu lagi. :(

Di tahun 2017 saya sedikit mempraktekkan konsep Konmari: miliki barang yang membuat diri kita senang, terutama masalah baju. Selain karena faktor Konmari dan ukuran lemari yang terbatas, baju yang dibeli harus sama dengan baju yang dikeluarkan. Tahun 2017 bisa dibilang paling sedikit belanja baju, lebih banyak baju yang dikeluarkan malah. Tapi ternyata baju yang membuat saya senang itu banyak, jadi ukuran lemari masih menjadi masalah. Hahahah.

Untuk pengalaman yang bukan pertama kali adalah kedua kali anak masuk rumah sakit karena kejang demam. Pengalaman terburuk sebagai orang tua. Saya kesal sekali dengan diri sendiri karena lupa stok obat anti kejangnya. Padahal dengan penanganan yang baik, kejang demam dapat dicegah. Sekarang tiap sebentar, mengecek kepala anak dan selalu siap siaga dengan obatnya. Jangan sampai terjadi lagi ya Allah.

Tahun 2017 ditutup dengan kejutan yang mampir di inbox email! Hihihi..rasanya engga sabar untuk mengumumkan tapi harus ditunda dulu. Sabaaarrrr.

Not a bad year, eh?

Terima kasih 2017, selamat datang 2018! Let's seize the day(s)!

Saturday, December 30, 2017

ITB Motherhood


Hari Sabtu yang lalu, 23 Desember, saya dan keluarga datang ke acara ITB Motherhood Homecoming di kampus. Berawal dari grup di media sosial beranggota ibu-ibu alumni kampus gajah, para panitia bisa mendatangkan alumni dari seluruh penjuru dunia (katanya ada yang dari Dubai) untuk datang berkumpul. Ramai banget acaranya dari pagi sampai sore. Tapi kali ini saya engga akan bercerita tentang acaranya. (Sekilas review bisa baca di blog ibu rajin satu ini)

Memang manusia itu senangnya berkumpul, apalagi orang Indonesia. Apalagi ibu-ibu dengan segudang aktivitasnya. Butuh tempat pelarian berkeluh kesah. Hidup Market Day! Hahaha.
Ikut grup ITB Motherhood setelah menikah karena direkomendasikan oleh teman sekampus. Bergabung selama hampir 4 tahun, saya berdoa semoga semua anggota grup ini selalu diberkahi karena banyak informasi tentang keibuan dan kewanitaan yang dibahas di sini. Dari hal-hal sepele sampai kontroversi.

Dengan anggota grup yang cukup heterogen, salut dengan anggota-anggotanya yang tetap santun jika ada perbedaan pendapat. Berbeda dengan di tempat lain yang menyerang satu sama lain. Saya kira ini karena kita semua punya satu identitas bersama.

Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki ibu-ibu ini membuat saya sadar bahwa menjadi orang tua itu engga bisa sembarangan dan butuh support dari lingkungan di luar keluarga. Perjalanan menjadi orang tua ini mungkin berat, mungkin banyak lelahnya. Ungkapan "It takes a village to raise a child" bukan sesuatu yang berlebihan. ITB Motherhood menjadi support group yang berharga buat saya. I am not alone. We are not alone.

Terima kasih sudah bisa bertemu dengan ibu-ibu hebat ini. Semoga kita semua diberi kemudahan dalam menjalani peran masing-masing. Amiin.

(Foto diambil dari artikel ini.)

Saturday, December 16, 2017

Ibu 2,5 tahun


Bulan ini tepat 2,5 tahun saya menjadi ibu. Dulu kalau membayangkan menjadi ibu, mikirnya bisa jadi ibu yang super. Bisa ini, bisa itu. Ke sana, ke mari. Kenyataannya? Ga sesuai yang dibayangkan. Hahaha.

Bayangannya akan sabar menghadapi bayi yang rewel. Ternyata engga.
Bayangannya ingin selalu dampingi anak. Ternyata butuh waktu sendiri.
Bayangannya akan buat semuanya ideal. Ternyata engga bisa, harus kompromi dengan kenyataan.

Apakah saya kecewa karena ga sesuai yang dibayangkan? Engga juga.

Remember, the root of all disappointment is expectation.

Perjalanan menjadi ibu masih sangat sangat panjang (insya Allah jika diberi umurnya), ga usah berharap semuanya sempurna karena karena semuanya butuh proses, butuh belajar. Tetap berusaha memberikan yang terbaik.