Monday, November 07, 2005

gie

Akhirnya selesai baca Catatan Seorang Demonstran. Yup, Soe Hok Gie. Soe Hok Gie yang
idealis.

Pertama beli, semangat dan penasaran. Seperti apa sih sosok Soe Hok Gie itu sampai dibuat filmnya? Seperti apa sih isi buku yang katanya inspiratif buat banyak orang?

Sayang, ternyata membaca bukunya itu cenderung membosankan. Pengennya cepet-cepet selesai. Membaca hanya untuk menyelesaikan buku itu aja, bukan untuk dinikmati. Come on, another book's still waiting for me.

Sama seperti dulu waktu baca buku harian Anne Frank (korban holocaust). Bosan.
Engga ngerti keadaan yang sebenarnya dan bagaimana lengkapnya peristiwa yang terjadi saat itu. Namanya juga catatan harian, bisa dimengerti oleh penulisnya karena dia yang mengalami kejadian dalam tulisannya tapi untuk pembaca tulisannya itu? seperti membaca sepotong cerita yang ga ada awalnya dan akhir cerita bisa ada bisa engga. potongan-potongan cerita yang kadang nyambung kadang engga.

Bukan bermaksud untuk men-judge kalau buku itu jelek tapi mungkin gw-nya aja yang ga cocok baca buku yang bertipe catatan harian seperi itu. Mungkin juga karena gw bacanya engga kontinu (baah!!)

Seperti yang ada dalam lampiran dalam buku, catatan harian ini memang lebih baik diperuntukkan bagi orang-orang yang memang mengenal dan hidup ketika Soe Hok Gie masih hidup. Untuk nostalgia.

Buat gw? Soe Hok Gie meninggal pun, gw belum lahir. Tau ada mahasiswa bernama Soe Hok Gie yang pernah hidup di dunia ini pun baru tahun 2005 ini. Sedikit percuma walaupun ga percuma-percuma amat. Karena menurut gw, Soe Hok Gie benar-benar seorang mahasiswa. Apa yang terjadi di kehidupannya saat itu, terjadi di hadapan gw sekarang. Kemahasiswaan dengan berbagai permasalahannya. Meskipun gw hanya penonton jarak menengah.

Ada perasaan kagum dan kasihan ketika membaca buku itu. Kagum dengan perjuangannya, dengan semangatnya, dengan prinsip yang benar-benar dia pegang teguh, dengan kecintaannya pada Indonesia meskipun dia seorang warga keturunan (dan gw? sorry ya :P). Kasihan dengan apa yang dirasakannya akibat dari sikap yang dipilihnya itu. Padahal apa yang dirasakannya itu tidak sepenuhnya benar. Pity.

Baru sadar, overall memang membosankan tapi banyak yang bisa didapat. Gw ga harus tau bagaimana peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Soe Hok Gie secara lengkap, gw hanya tinggal membaca dan memaknai.

Seperti salah satu judul bab dalam buku itu, Mencari Makna.


<< home

0 komentar: