Sunday, December 25, 2005

angels&demons

Ujiannya emang udah selesai. Untuk sementara. Dilanjutin tahun depan huhuhu...
Lupakan sejenak.
Akhirnya beli buku deh :P

Pilihan jatuh pada Angels&Demons nya Dan Brown. Teracuni ama omongan temen yang menurut dia buku ini lebih bagus daripada The Da Vinci Code. Menurut gw, The Da Vinci Code aja udah rame, Angels&Demons lebih rame lagi? kan jadi penasaran pengen baca.

Nah, sekarang karena udah selesai baca, izinkan gw untuk menjadi seorang peresensi buku yang sok tau. Jika ada yang kurang berkenan, maaf-maaf saja. Ini kan pendapat pribadi :)
Oh ya, ada sedikit-sedikit spoiler. Jadi, buat yang belum baca novelnya, berhati-hatilah. Hwahahahahaha....(apa sih...)

Entah ya, pertama-tama baca engga semangat. Penyebabnya ada 2 kemungkinan. Entah gw nya yang lagi ga mood baca atau jalan ceritanya yang lambat. Memang ada kan penulis yang kurang dapat menarik pembacanya untuk terus membaca pada saat-saat pertama. Padahal itu sangat penting. Ya ya ya dan gw terus membacanya berusaha untuk meyakinkan diri sendiri tentang kejutan-kejutan yang akan dibaca nanti.

Di tengah-tengah udah mulai menegangkan nih! Engga bisa lepas. Pengen baca, baca, dan baca lagi. (Jadi inget hari-hari minggu kemarin. Keadaannya terbalik. Pengennya tuh lepas dari diktat kuliah. Menjauh dari meja belajar tapi engga bisa >_<) Ya, kejutan-kejutan itu mulai berdatangan. Menimbulkan 'soundeffect-soundeffect' (the 'waow..', 'haaa..?', 'lhooo...' thing) dan ketakjuban.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Gw pernah mengalami hal ini, segala 'soundeffect' dan ketakjuban, ketika membaca The Da Vinci Code. Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada 'hal baru' pada jalan ceritanya. Ada tokoh utama pria dan wanita, mayat (mayat yang pertama kali ditemukan adalah lelaki yang berhubungan dekat dengan tokoh wanita), pembunuh dan bos pembunuh yang misterius (bahkan pada bagian Prolog terasa mirip dengan The Da Vinci Code), petunjuk, simbol, pengartian simbol, mencari simbol selanjutnya, terus begitu sampai akhir. Menjelang akhir tepatnya.

Yang terasa membedakan dengan The Da Vinci Code adalah konfliknya. Menurut gw, konfliknya lebih menarik. Ketika masalah utama udah selesai, masih tersisa banyak halaman. Gw perkirakan masih ada kejutan lain yang menanti. Hal itu memang benar, kejutan itu berhasil membuat gw untuk menahan napas untuk sesaat. Untuk sesaat! Kalau lama-lama, ntar ga bisa napas doong...

Hal lain yang gw perhatikan adalah tokoh. Tentang tokoh pria, gw kebayang James Bond yang dalam setiap filmnya pasti ada wanita. Seperti novel ini, The Da Vinci Code dan Angels&Demons, peran utama pria berdampingan dengan wanita. Disisipi pula adegan Mas Bond itu dengan para wanitanya (you know what i mean). Mirip kan?

Untuk Angels&Demons, gw sarankan minjem aja deh. Soalnya engga jauh beda ama The Da Vinci Code. Tapi, kalau ingin bertindak dengan 'benar' dan ingin baca dan ingin punya, ya udah, beli aja. hehehe...

Oh ya, ada quote yang gw suka:
...jangan sembunyikan siapa dirimu. Begitu kamu mencobanya, hari itu juga kamu sudah tidak berarti. Berdirilah dengan tegap, tersenyumlah dengan lebar, dan biarkan mereka bertanya-tanya rahasia apa yang membuatmu tertawa.
-- Chinita Macri's mother

gila, gw banget kan? :D


<< home

0 komentar: