Tuesday, January 10, 2006

sekrup-sekrup kapitalis

beberapa waktu lalu, gw diberi kesempatan untuk berdiskusi (lebih tepatnya mendengarkan karena gw cuma bisa ngangguk-ngangguk doang) dengan salah seorang, let's say, aktivis kampus lah. kami bertanya-tanya mengenai apa saja sih permasalahan yang terjadi di sekitar kita, khususnya kampus?

menurut beliau, permasalahan pertama yang paling terlihat adalah pragmatis. memang beda kalau ngomong dengan aktivis. banyak menemukan kosakata baru. hehehe...

pragmatis secara kasar artinya adalah ingin cari gampangnya aja. misalnya, jika ada masalah cari solusinya yang gampang aja. padahal engga semua persoalan bisa diselesaikan dengan cara seperti ini.

kedua, kecenderungan mahasiswa sekarang yang apatis. kosakata baru lagi. apatis disini maksudnya cenderung tidak peduli dengan lingkungannya. kejamnya, hanya memikirkan diri sendiri. SO, bukan study-oriented tapi self-oriented. kok bisa ada yang kayak gitu? setiap ada pertanyaan ini pasti jalan pemikirannya: oke lah, hidup itu pilihan. kalau dia memilih untuk bersikap apatis trus emang kenapa? suka-suka dia dong.

ada perkataan beliau yang cukup membuat gw terpana.

"jadi kita belajar terus, selesai tepat waktu, ip bagus, kerja di perusahaan terkenal, gaji dollar. pada akhirnya, kita hanya akan menjadi sekrup-sekrup kapitalis!"

sekrup-sekrup kapitalis. gw suka kata-kata itu :D (bukan berarti gw suka menjadi sekrup..)

"iya kan? semua ini adalah mesin besar kapitalis dan kita hanya menjadi sekrup-sekrup yang membuat mesin ini berjalan."

gw jadi teringat sama fenomena sekarang. tidak ada kaderisasi. anak-anak 2005 seakan-akan 'dituntut' untuk menjadi study-oriented. engga boleh ikut ini, itu. bahkan lapangan rumput yang biasa menjadi tempat OSKM dilaksanakan sekarang udah ada plang gede, "Dilarang Menginjak Rumput". Keliatan banget usahanya supaya panitia OSKM engga bisa pake lapangan rumput itu lagi.

gw jadi teringat lagi ama kata-kata senior gw di suatu forum. kira-kira begini:

"kita hanya akan menjadi sebuah produk output dengan cap ITB."

produk. barang.

jadi teringat juga ama baligo yang pernah dipajang di depan gerbang kampus. something like "penjaminan mutu". gw bingung liat baligo itu. mungkin gw salah mengartikannya tapi yang ada di pikiran gw, nanti ketika kita akan lulus, kita akan di-tes apakah "mutu" kita terjamin atau tidak. oalah.

bener-bener produk. bener-bener barang.

hellooooo...gw kan manusiaaaaa...

balik ke perkataan temen aktivis gw ini tentang sekrup-sekrup kapitalis. meskipun terdengar begitu negatif tapi, engga usah munafik, semua orang juga mau kalau lulus tepat waktu, ip bagus, gaji dollar.

terkadang gw berpikir bahwa saat ini kita begitu idealis. apakah nanti setelah lulus kita masih tetap berpegang pada idealisme seperti ini? apalagi kalau kita udah berkeluarga. udah punya buntut yang kudu diurusin. apakah idealisme ini masih akan ada?

dulu, bapak gw pernah cerita. katanya, sewaktu menjadi mahasiswa memang idealisme itu ada tapi ketika keluar kampus untuk sebagian orang (entah sebagian kecil atau besar) idealisme itu akan menguap.

liat aja, yang sekarang jadi pejabat pastinya pernah jadi mahasiswa dong? tapi korupsi juga.


home

2 komentar:

purnomo said...

wow 2006 nulisnya, sekarang gimana? apa sama seperti saya yg menjadi sekrup kapitalisme? toh sudah berkeluarga & berbuntut masih cari cara supaya tidak terus menjadi sekrup.

Rani said...

sama. sekarang kenyataannya kita emang ga bisa lepas sepenuhnya dari kapitalisme. hanya mencoba untuk ubah sudut pandang. jika memang menjadi sekrup kapitalisme, tapi pilihlah kapitalisme yang memberi manfaat untuk orang banyak :)