Saturday, October 14, 2006

4 tahun

hari ini, genap 4 tahun.

setiap orang pasti memiliki ceritanya masing-masing. jika perjalanan yang dilalui mulus, maka dia diberi kemudahan. jika perjalanan yang dilalui begitu berat, maka semua itu dinilai perjuangan.

perjalanan yang saya rasakan cukup berat tapi rasa berat itu berasal dari diri saya sendiri. semuanya berawal dari peraturan baru untuk hari jumat di sekolah. sebelumnya, saya sudah sering kok berpakaian seperti yang ada di peraturan itu, tapi jumat-jumat di tahun itu begitu berbeda. saya dikelilingi oleh teman-teman yang selalu mengingat dalam kebaikan dan saya bersyukur bisa bertemu dengan mereka semua.

sampailah saya dengan sebuah pertanyaan apakah harus dilaksanakan atau tidak atau apakah saya harus memakainya setiap hari. tentunya, hanya satu jawaban yang saya dapatkan. sejak itu, saya menjadi bimbang. saya ingin melaksanakannya tapi mulut ini begitu berat untuk berkata kepada orang tua. pertimbangan lain, kakak saya pun belum melaksanakannya. apakah dia tidak akan keberatan?

pada minggu saya ingin mengungkapkan keinginan saya, saat itu ibu mengajak saya untuk shalat di masjid. suatu hal yang jarang dilakukan, entah kenapa bisa terjadi. saya berpikir, inilah saat yang tepat untuk mengatakannya. sepanjang perjalanan ke mesjid, jantung saya bergemuruh. apa yang harus saya katakan? bagaimana penyampaian yang baik? bagaimana jika tidak boleh?

"bu..."
"hm?"
"mmm..."
"apa?"
"mmm..."
"apa? ngomong yang jelas dong."
"bu, gimana kalo saya pake jilbab?"
"umm...terserah. kamu bener mau? udah dipikir masak-masak?"
"..."
"semuanya harus dipikir dengan masak-masak."

saya sedikit kecewa dengan jawaban ibu. saat itu saya dalam keadaan bimbang dan saya membutuhkan kepastian. saya tidak membutuhkan jawaban 'terserah', saya butuh 'ya' atau 'tidak'. Jika 'ya', maka saya akan melaksanakannya, jika 'tidak', saya tidak akan memikirkannya lagi.

setelah percakapan itu, sepertinya ibu saya memberitahukan ke kakak saya.

"ran, katanya kamu mau pake jilbab ya?"
deg!
saya mengangguk.
"kenapa?"
tiba-tiba mata saya terasa panas.
"karena takut..."
saya tidak bisa meneruskan kalimat itu. saya berusaha agar bulir tidak jatuh.
"kamu...ga ikutan aliran-aliran kan?"
"haa? engggaaaa..."
"hoo..baguslah."

sudah, saya anggap itu jawaban positif dari kakak saya. percakapan lain dengan bapak saya.

"tuh, rani, ngomong dong ama bapak kamu kalo kamu mau pake jilbab."
saya terdiam sebentar, menghimpun kekuatan.
"bapak, saya pengen pake jilbab."
"jilbab gimana? jilbab yang panjang nutupin dada kan? bukan yang nutupin kepala doang?"
"iyaaaa..."

dengan segala jawaban yang saya dapatkan, saya sudah menemukan akhir dari kebimbangan saya. akan tetapi, mulut ini masih begitu berat. sungguh, godaan itu begitu besar. keputusan ini adalah keputusan besar yang akan saya laksanakan selamanya (amiin), bukan keputusan yang main-main karena ada konsekuensi di sana (setiap keputusan sebenarnya ada konsekuensi).

saya belum juga mengungkapkan (kembali) keinginan saya kepada ibu. sampai suatu hari tiba-tiba badan saya demam. kepala pusing, kedinginan, ingin muntah. bahkan saya sampai mengenakan sweater tebal dan kaos kaki. entah pikiran dari mana, saya memutuskan untuk mengutarakan keinginan saya saat itu.

"bu..."
"apa?"
"mau pake jilbab."
"bener?"
"iya."
"yakin?"
"iya."
"ya sudah."

setelah saya berkata seperti itu, panas badan saya tiba-tiba turun, kepala saya terasa ringan. apakah itu 'peringatan' agar segera berbicara dengan ibu? saya juga tidak tahu.

saat itu, saya tidak langsung pakai jilbab karena saya belum beli seragam baru. cukup lama jeda waktu antara saya mengungkapkan keinginan dan ketersediaan baju. kakak saya bahkan selalu mengingatkan.

"kapan kamu pake jilbab?"
"katanya mau pake jilbab?"

sampai suatu hari, sabtu, 12 oktober 2002, teman sebangku saya, yang senasib dengan saya (ingin pakai jilbab juga), telah mewujudkan keinginannya. hari itu, pelajaran pertama adalah olahraga dan dia telah memakai jilbabnya. saya kaget, saya senang, tapi sedih lebih mendominasi. saya memberi selamat kepada teman saya dengan wajah yang ceria tapi itu hanya diluar. bukan, bukan saya tidak senang teman saya memakai jilbab tapi saya sedih karena saya belum bisa seperti dia.

saya berusaha tidak menatap teman saya. ketika lari pemanasan, saya tidak berlari bersama dia. hati saya sedih sekali. airmata ini tidak keluar tapi batin saya menangis.

besoknya, 13 oktober 2002, karena lecutan rasa sedih itu, saya 'memaksa' ibu untuk segera mempersiapkan seragam saya. pergi ke tukang jahit, potong bagian bawah rok karena kepanjangan, pasang nama, pasang lokasi.

akhirnya, senin, 14 oktober 2002, semuanya terwujud :)


teruntukmu yang berada dalam kebimbangan. percayalah apa yang kamu lakukan adalah benar. pada akhirnya, hal ini bukanlah sesuatu yang harus dipertimbangkan tapi kepastian yang harus dilaksanakan.

home

0 komentar: