Tuesday, December 12, 2006

Hohohoho...

Hohohoho...

Seminggu yang lalu, tepat 1 tahun saya menyetir mobil sendiri.

Sejak itu, boleh dibilang saya jarang naik angkot. Sesekali kalo males nyetir atau mobilnya masuk bengkel atau mobilnya dipake kakak, baru saya naik angkot. Naik angkot itu menyenangkan sebenarnya. Bisa liat-liat orang. Yang paling saya suka, bisa nguping pembicaraan orang! Hahahahahaha...Loh, mau gimana lagi? Emang kedengeran kok :P

Ngomong-ngomong tentang naik angkot dan nguping-menguping, ada suatu kejadian yang ga akan saya lupain seumur hidup saya.


Saya masih ingat tuh, saat SMA, hari Sabtu, pulang sekolah, saya dan 2 teman saya, sebut saja A dan O, berencana untuk membeli sebuah buku di gelap nyawang. Jauh ya? Demi buku murah, bo! Sebelum naik angkot Kelapa-Dago di depan sekolah, saya dan teman-teman saya berdebat. Bernarsis-narsis ria sebenarnya. Jadi, saya dan O SMPnya sama sedangkan A SMPnya di sebelah SMP kami. Kami membanding-bandingkan luas sekolah kami.

“Luas SMP 5 dong!”

“Ya engga lah! SMP 2 jelas lebih luas!”

Begitu terus hingga kami masuk ke angkot, dengan posisi duduk dekat jendela paling belakang, A, saya, dan O. Saat kami masuk ke angkot, saya melihat ada seorang pria yang duduk di seberang kami sedang menelpon. Selesai dia menelpon, dia memperhatikan perdebatan kami.

Di tengah-tengah perdebatan, saya berhenti. Cape debat terus. Hanya A dan O saja yang terus berdebat. Saya hanya tertawa melihat mereka. Kembali saya memperhatikan pria di seberang kami. Dia masih memperhatikan sambil senyam-senyum. Ya ampun...

Sampai di persimpangan BIP, angkot berhenti. A dan O udah selesai berdebat dan saya pun sudah selesai tertawa. Kami semua terdiam. Tiba-tiba A nyeletuk:

“Kok macet ya?”

Saya pun menoleh pada A dengan wajah bingung.

“Macet apaan? Kan lagi lampu merah!”

Kami pun tertawa dengan kebodohan A. Tak sengaja saya menoleh ke pria di depan kami, ternyata pria yang ada di depan kami pun ikut tertawa!

Seperti biasa, melihat pria itu tertawa, saya pun ikut tertawa. Padahal kedua teman saya sudah selesai tertawanya. Tinggal kedua teman saya yang kebingungan.

“Kamu kenapa sih?”

“Ada apaan sih ketawa-ketawa sendiri?”

Saya hanya menggeleng dan tertawa lagi :P Kedua teman saya ga menyadari kalau pria di depan kami menguping pembicaraan.

Beberapa saat kemudian, saya sudah selesai tertawa. Lalu A cerita tentang pulsa hp-nya yang tinggal sedikit.

“Duh..pulsa tinggal dua ribu tiga ratus nih...”

Mendengar perkataannya, saya balas, “dua puluh tiga ribu sih masih banyak!”

Sekarang A yang menoleh ke saya dan kebingungan.

“Kok dua puluh tiga ribu sih? Dua ribu tiga ratus!”

Saya kebingungan.

“Oh? iya ya?”

Kami pun tertawa kembali dengan kebudekan saya dan pria di depan kami ikut tertawa! Lalu pria tersebut berkata kepada saya:

“Belum makan siang ya mbak?”

...siiiiiiingggg...

Ga sooopaaaaaannn!!!

“Iya! Baru mau makan!”

Kedua teman saya tertawa-tawa kucing (halah. Emang ada ya? Maksudnya tertawa malu-malu gitu), baru sadar kalau selama perjalanan ada yang menguping.

Untung saja setelah percakapan-ga-sopan-karena-nguping terjadi, kami turun dari angkot. Bukan, bukan karena malu tapi karena sudah sampai tujuan :P Sesudah turun dari angkot pun, kami masih tertawa-tawa.

“Ya ampuun...”

“Masa kalian ga nyadar sih kalo dia nguping?”

“Engga!”

“Dia tuh udah merhatiin sejak kita naik angkot!”

“Haaa? Masa sih?”

“Iyaaaa...makanya dari tadi aku ketawa terus!”


home

1 komentar:

Blog_septa said...

Artikel yang bagus gan, cerita kocak...
Harga Sunblock | pure skin oriflame | Lipstik Matte
Terima Kasih atas artikelnya.....