Thursday, August 23, 2007

imaji

Minuman yang saya pesan baru saja sampai saat saya melihat perempuan itu melangkah memasuki kafe. Melihat dirinya yang menyapu pandangan ke seluruh tempat duduk yang ada, tangan saya melambai ke arahnya. Saya di sini. Senyumnya mengembang, berjalan agak cepat menuju tempat duduk kosong di depan saya.

“Haaaaaaiiii…” kami berpelukan melepas rasa rindu setelah lama tidak bertemu. Dia tidak berubah. Eh, ada ding yang berubah. Pipinya makin bulat.

“Ih, pipi kamu makin tembem aja!”
“Iya! Abis KP, aku naik 2 kilo! Huhuhu…”
“Hahahahaha…semua lemak pindah ke pipi ya?”
“Hahaha…iya nih,” dia mencubit-cubit pipinya sendiri.
“Tenang, waktu ngerjain TA pasti kurus lagi!”

Tawanya kembali berderai. Tawa khas yang tidak berubah.

“Eh, udah lama? Sorry ya, tadi aku nganterin kakakku dulu. Pesen apaan tuh?”
“Jus mangga. Pesen gih sana.”

Tangannya melambai memanggil waiter. Setelah memesan minuman dan makanan kecil, kami bercakap-cakap, bertukar kabar. Dia bercerita telah selesai membaca dua buah buku yang menegaskan mimpinya. Dengan bersemangat, dia merekomendasikan kepada saya untuk membaca buku-buku tersebut.

“Baca deh. Bukunya baguuus! Setelah baca buku itu, aku jadi makin pengen banget keliling dunia! Eh, ga dunia banget sih. Eropa dan Asia aja cukup.” ujarnya sambil mengunyah kentang goreng yang ada di atas meja.

“Emang kamu mau kemana aja?” tanya saya.
“Pertama nih ya,” dia mengacungkan jari telunjuknya, “Prancis!”
“Haruslah itu. Entah gimana caranya. Asal ga berenang aja kesana. Hehehehe…”

Saya tertawa kecil. Kemudian dia melanjutkan, “aku udah tau pertama kali mau ngapain kalo nyampe sana!”

“Emang kamu mau ngapain?” tanya saya ingin tahu.
“Aku mau ke Eiffel, terus meluk salah satu kaki besinya!”
“Haaaaa?”

Dia tertawa melihat kekagetan saya. “Ngapain kamu meluk kaki besinya?”

“Ga tau. Pengen aja.”

Saya hanya menggeleng mendengar jawabannya. “Terus, kamu mau kemana lagi?”

“Terus…mau ke Venesia!” sahutnya sambil menerawang. Mungkin membayangkan bagaimana rasanya berada di kota romantis itu.
“Udah tau juga pertama kali mau ngapain?”
“Mmm…naik gondola sih pastinya. Tapi untuk ke Venesia, aku netapin syarat nih.”

Kening saya berkerut. “Syarat? Syarat apaan?”

Perempuan di depan saya ini terdiam sebentar. Matanya bersinar penuh arti. Senyumnya mengembang hingga memperlihatkan deretan kawat giginya.

“Aku ke sana harus bareng suami.”

Kemudian dia tertawa. Saya masih bertanya ingin tahu. “Maksudnya pengen bulan madu gitu?”

“Hmmm…engga juga sih…bertahun-tahun setelah menikah baru kesana juga gak apa-apa…” dia menggantungkan kalimatnya.
“Tapi?”
“Tapiiii…yaaa…gak ada malam pertama sebelum ke Venesia. Hahahahahaha…”

Kali ini, kami tertawa bersama. “Dasar gilaaa…kasian banget suami kamu! Parah…parah…”
“Hahahahahaha…”

“Trus, kemana lagi? Inggris? Inggris?”
“Iya, mau! British! London!” kemudian dia meminum jus strawberry di hadapannya, “tapi aku gak terlalu tertarik ke Jerman lho.”
“Hm? Kenapa?”
“Sejarahnya ‘gelap’ sih. Belanda juga. Secara penjajah gitu. Yah, sekedar lewat aja deh gak apa-apa.”

Saya hanya mengangguk-ngangguk kecil sambil mencomot potongan kentang goreng terakhir.

“Yah, abis itu paling Negara Balkan, Mediteran, Rusia boleh deh, trus Asia.”
“Kenapa ga ke Amerika?”
“Mmm…pengen sih. New York, Walk of Fame, Hollywood. Tapi…males aja. Lagian Amerika tuh ga terlalu banyak yang bisa diliat juga. Kalau dibandingkan dengan Eropa, nilai historis di Eropa lebih banyak daripada Amerika karena peradaban kan lebih dulu ada di Eropa.”
“Iya sih…”

“Eh, ada satu lagi.”
“Apa?”
“Aku pengen ke suatu tempat. Tapi aku gak tau tepatnya dimana.”
“Loh? Gimana sih?”
“Jadi, suasana tempat itu ada di dalam pikiran aku tapi ga tau tempat itu dimana. Kayaknya suasana kayak gitu ada di suatu tempat di dunia ini.”
“Emang suasana kayak gimana yang ada di pikiran kamu?”

Kedua matanya menutup, mencoba menghadirkan imajinasinya.

“Suasananya…di musim gugur. Udara tidak terlalu dingin. Daun-daun berjatuhan, bayangkan dalam slow motion. Di kiri dan kanan pohon berjejer dengan daun-daunnya yang berwarna keemasan, merah tua, dan coklat. Jalanan yang berada di antara deretan pohon penuh dengan daun-daun yang berguguran. Yang terdengar hanya suara semilir angin, daun-daun yang bergesekan, dan keramaian di kejauhan.”

Kini, matanya terbuka. “Tau tempat seperti itu dimana?”

Saya menggeleng. “Belum pernah ke tempat seperti itu,” saya meminum tegukan terakhir jus mangga, “Romantis juga tuh. Bareng suami lagi?”

Dia tersenyum. “Kalau bisa sih. Hehehehe…Tapi sendiri juga gak apa-apa.”

“Minuman kamu udah habis?”
“Udah. Pergi sekarang kita?”
“Yuk.”

Setelah membayar pesanan, kami melangkah ke pintu keluar. Saya kembali bertanya, “Terus, itu semua mimpi doang? Ada usaha buat mimpi itu jadi kenyataan ga?”

“Eits, ada dong!”

Saya menghentikan langkah. Sudah mulai menjadikannya kenyataan? Boleh dong saya ikut!

“Oh ya? Ngapain emang?”

Dia menahan pintu setengah terbuka dan berbalik menatap saya.

“Berdoa! Hahahaha…” tawanya kembali berderai.

Dasar gila…

home

0 komentar: