Tuesday, April 29, 2008

230408

minggu kemarin, di salah satu matakuliah, dosen saya mendatangkan seorang tamu, yaitu seorang wartawan di koran lokal bandung. beliau ini bukan pekerja tetap, masih berstatus freelancer di koran itu tapi katanya sih jadi pengasuh tetap sebuah rubrik.

hal pertama yang beliau tekankan dari pertemuan kemarin itu adalah menulislah dari hati. tulislah apa yang ingin diungkapkan tanpa menghilangkan tujuan dari tulisan itu sendiri. agak sulit sih sebenernya. apalagi kalau apa yang mau diungkapkan berseberangan dengan tujuan tulisan. TA misalnya. inginnya memaki-maki, ya ga mungkin dong ditulis di file TA itu :P

"ayat pertama dalam agama jurnalisme adalah jurnalisme untuk masyarakat."

dalam membuat tulisan, tentukan apakah ingin membuat masyarakat menjadi berpikir, berperang, atau menjadi bodoh? bukan hanya sekedar memenuhi keinginan masyarakat ingin mendapatkan informasi seperti apa.

lalu, tidak ada objektivitas dalam jurnalisme. putuskan mau berpihak kemana dan menulislah sesuai keputusan itu. dan menjadi jurnalis harus 'tercebur' tanpa 'terbawa arus'. contoh menarik yang disampaikan adalah ketika meliput topik mengenai gay. meliput tentang gay bukan menulis 'dari jarak satu/dua meter' tapi kenali gay itu, dalami kehidupannya. tapi perlu berhati-hati, karena "gay itu menular!".

"ada suatu paduan suara dari universitas ternama di bandung yang semua laki-lakinya gay. tapi ketika mereka lulus, semuanya menikah dengan perempuan. ketika ditanya apakah masih gay, mereka bilang, engga."

ckckckck...so, beware, you guys! ;))

dari penjelasannya juga saya sadar lagi kalau peran media itu sangat kuat dalam mempengaruhi masyarakat. contoh peran media yang membuat masyarakat berperang adalah mengenai konflik di poso. peran media sangat penting karena sebenernya masyarakat dipanas-panasi oleh media. media yang ditunggangi oleh oknum-oknum biadab! *saaah..*

yang terakhir, menulislah dengan bahasa yang semua orang mengerti. setuju banget. percuma aja nulis dengan bahasa tinggi-tinggi, tapi orang ga ngerti, ya engga sampai juga apa yang ingin disampaikan lewat tulisan itu. ya kan?

"misalnya, seperti (beberapa) tulisan Goenawan Mohammad. kayaknya hanya Tuhan dan dia saja yang mengerti."

hahahaha...kayaknya sih gitu :P

home

0 komentar: