Wednesday, April 02, 2008

satu setengah jam

cerita ini basi-basi-basi banget tapi saya baru sempat untuk mem-publish-kannya sekarang :P

beberapa minggu yang lalu, di kampus saya ada acara yang mendatangkan andrea hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi. satu auditorium penuh sesak oleh mahasiswa, termasuk saya. well, i have to meet the writer whom his books i found interesting and worth to read when i have the chance ;)

dari acara satu setengah jam itu, ada beberapa hal yang terendap dalam pikiran saya ketika itu. salah satunya adalah saat bang andrea mengajak mahasiswa untuk menulis, untuk menjadi penulis sastra, karena sastra sekarang sedang bergairah. Penulis sastra yang berhasil ketika diundang menjadi pembicara di acara/seminar, bayarannya bisa setara dengan pembicara bisnis!

well,well,well...

speaking of that, saya jadi teringat mengenai satu hal yang menganggu pikiran saya beberapa waktu sebelumnya.

saya masih ga ngerti atau masih belum memutuskan apakah menjadi penulis itu menjadi pekerjaan yang menjanjikan atau tidak. saat saya berpikir: "ya, jadi penulis itu menjanjikan..", di saat yang sama, pikiran saya akan menambahkan kata 'tapi' di belakangnya. "..tapi jika kamu itu penulis yang hebat. if you're a good, great one."

saya setuju bahwa menjadi penulis itu menjanjikan ketika saya melihat orang-orang yang memang berhasil dalam tulis-menulis. J.K.Rowling, misalnya. bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia karena bukunya. but she's one in a million! kalo orang lain nyebutnya, itu hoki!

berapa banyak penulis lain yang pendapatannya ga sama kayak J.K. Rowling dan mungkin nasibnya mirip-mirip sama Rowling sebelum bukunya meledak? engga terdeteksi. saya rasa banyak banget.

contoh lainnya, salah satu dosen saya udah punya banyak tulisan yang dipublikasikan dan memang bidang keahliannya disana, bidang tulis menulis dan kebudayaan. dari penampilannya saat di kelas, saya rasa beliau sangat tercukupi kebutuhannya. dengan kata lain, beliau berhasil mencukupi hidupnya dengan pekerjaannya sekarang yang sebagian besar ya menulis itu.

yang membedakan mereka berdua dari penulis-penulis lain, menurut saya, adalah ide yang mereka miliki. untuk menjadi penulis yang berhasil, kita harus punya ide yang memang bagus, kreatif, beda serta penyampaiannya pun harus menarik. dan saya pikir, itu ga gampang.

di kehidupan saya, menjadi penulis itu bukan pekerjaan. pandangannya, menjadi penulis itu ga layak untuk menjadi mata pencaharian. kasarnya, gimana bisa hidup kalo nulis doang?

teringat pada satu film norwegia yang cerita tentang dua orang pemuda yang menjadi penulis. masih muda tapi sudah bertekad untuk menulis, menjadikan sebagai mata pencaharian karena saya ga melihat mereka mengerjakan hal lain. how can they be so sure?

*start of oot*
hal menarik di film itu, saat masih sekolah mereka menggunakan uang makan siang untuk membeli buku! sepertinya yg kayak gitu disini masih jarang banget. masih milih beli makanan daripada laper karena buku ga bisa dimakan. masih milih mengisi perut daripada mengisi kepala. termasuk saya.
*end of oot*

di kehidupan saya, menulis diarahkan hanya menjadi hobi, bukan hal yang primer.

tapi bagaimana ketika saya hanya ingin menulis?
tapi bagaimana ketika saya hanya bisa menulis?
menulis hal ga mutu..

hal lain yang mengganggu pikiran saya ketika hadir di diskusi bersama bang andrea, yaitu masalah pendidikan. bang andrea menyebutkan sistem pendidikan sekarang memaksa kita untuk menjadi oportunis. kesempatan (dalam pendidikan) yang ada tidak sebanyak orang yang menginginkan kesempatan itu.

ketika beliau menyebutkan contohnya, saya tertohok karena saya termasuk yang oportunis itu. contoh yang diberikan oleh bang andrea persis banget. saya berasal dari SMA x yang disebutkan oleh bang andrea, saya belajar di bimbel untuk lulus SPMB buat masuk kampus ini, dan orang tua saya mengarahkan untuk kerja di tempat yang disebut oleh bang andrea.

sistem pendidikan memaksa kita untuk menjadi seperti itu. lantas, apakah menjadi oportunis menjadi sebuah kesalahan? saya rasa tidak. saya namakan itu bertahan hidup :D

lalu bang andrea mengatakan sebagai solusi dari sistem pendidikan seperti ini adalah dengan melaksanakan KB. yang saya tangkap dari solusi ini, dengan lebih sedikit orang maka tiap orang bisa mendapatkan kesempatan yang ada. berhubung saya ingin punya lebih dari dua anak, saya rasa ada solusi lain selain KB. penyamaan mutu pendidikan mungkin? masing-masing sekolah yang ada di indonesia ini memiliki mutu pendidikan yang sama. jadi, orang-orang ga akan berbondong-bondong untuk mencoba masuk ke salah satu sekolah aja.

yaa..tiap orang punya pendapatnya masing-masing sih :)

home

0 komentar: