Sunday, January 03, 2010

pembicaraan menarik di penghujung tahun

ah, postingan ini harus tertunda karena saya harus migrasi komen ke blogger. haloscan yang saya pakai selama ini akan jadi berbayar. humph. komen-komen sebelumnya udah disimpan sih, jadi ga hilang tak berbekas. saya menanti kalo ada yang buat script export komen xml ke blogger :P :P :P

di hari terakhir di penghujung tahun 2009, saya terlibat percakapan menarik dengan 2 orang kolega *tsaah* di kantor.

pertama itu tentang shalat. seorang kolega, sebutlah kolega 1, menyatakan bahwa shalat adalah media untuk mengumpulkan energi yang ada di dunia ini. untuk me-recharge tubuh kita minimal 5 kali sehari.

kolega 1 memberikan analogi yang unik tentang shalat. shalat adalah waktu untuk men-download energi secara wireless!

lalu shalat tahajud. pastinya sering mendengar manfaat shalat tahajud untuk me-recharge lebih ruh kita. mengapa hal itu bisa terjadi? karena pada waktu tahajud, sebagian besar orang sedang tidur. bandwidth lebih lebar, energi yang di-download lebih banyak!

interesting-yet-freaky analogy, isn't it? :))

pembahasan beralih ke gerhana yang akan terjadi malam itu. mengapa kita disunahkan untuk shalat pada saat terjadi gerhana? karena pada saat gerhana adalah ketika matahari, bulan, dan bumi ada pada satu garis dan energi yang dihasilkan begitu besar. waktu yang tepat untuk men-download! menurut pengamatan kolega 1, banyak kejadian di bumi yang terjadi setelah gerhana. contohnya, tsunami di aceh. pengamatan ini membuat kami bertanya-tanya, kejadian apa yang akan terjadi setelah ini?

FYI, bukan bermaksud memberikan definisi lain tentang shalat atau menakut-nakuti. ini semua hanya hipotesis yang belum terbukti kebenarannya :D

daaaaan...entah saya lupa sedang membahas apa, tiba-tiba..
kolega 1: makanya, lafra cepet-cepet nikah! udah punya pacar belum? udah ketemu calon?
saya: ga tau udah ketemu atau belum...
kolega 1: hm...kalau kata saya ya, kalau kamu mau (sekolah) ke luar negeri, sebaiknya punya calon dulu sebelum pergi karena laki-laki di indonesia kebanyakan males dengan perempuan yang lulusan luar negeri...
saya: oh ya?
saya melirik ke kolega 2.
kolega 2: *ngangguk-ngangguk*
saya: oooh yaaaaaaaa?
saya agak speechless. dan sedikit panik. makanya cuma bisa bereaksi begitu :))
kolega 1: itu kalo di indonesia tapi kalo bule engga. jadi kalo engga punya calon sebelumnya, ya cari orang indonesia di sana (di luar negeri maksudnya)
saya: emang iya ya? *masih engga percaya*
kolega 2: iya, kebanyakan kayak gitu...
saya: berapa persen (laki-laki) kira-kira? 90?
kolega 2: yaa...85 deh..
saya: waaww...emang kenapa sih?
kolega 2: yaa...biasanya sih alasannya harga diri! suka males sama perempuan yang lebih berprestasi. kan laki-laki itu merasa superior...
saya: ya ya ya, ego laki-laki...
ah, you have got to be kiddin'!

jadi wahai laki-laki, apakah hal ini benar? apakah kamu termasuk yang 85%? atau 15%? jujur saja, silakan beri komentar anonim kalau mau :)

7 komentar:

petra said...

ditunggu yah undangannya :D

piqs said...

:)) jadi iniiiiiii postingan yang ditunda ituuu :))

*dan gw udah terlanjur bilang mau komen banyak, so behold! >:)

pertama, ini muncul angka 85 darimanaa,, lol, jadi inget RS gw :)). keknya temen2 yang gw tau kebanyakan ngga gitu deh. Ok2 aja sama s2 lulusan luar. Mungkin lingkaran pergaulan juga kali ye.

kedua, gw aga ngga ngerti dengan pemikiran para perempuan di luar sana yang memutuskan untuk "menghambat diri" (ga cuma s2 ya, karir juga) dengan alasan belum menemukan pasangan. If he can't handle you then he isn't meant for you, isn't it that simple?

ketiga, apa bener2 ngaruh kalo cuma 15%,10%,5% yang mau? bukannya yang biasanya gw denger dari para perempuan itu mereka mencari lelaki yang bukan lelaki kebanyakan? The One? *enter the matrix! :p*

between a damsel in distress and a girl who use a machete to cut through red tapes, i guess my preference is clear :P

jadi kalo kata gw sih, pedal to the metal, girl! :D



.
atau mungkin gw emang masuk golongan yang 15, tp 15% itu cukup banyak lho :P

..
(woot) kepanjangan! ini bisa jadi posting blog sendiri keknya :))

Roberto said...

IMO, harusnya kalo mau menunjukkan superioritas, bukan dengan cara mencegah berlangsungnya 'pertandingan', tapi ya dengan memenangkan 'pertandingan'.

Kalo perempuannya S2 di luar negeri, kalo emang ga mau kalah, ya S3 lah di universitas yg lebih oke. :P

Anyway, 85% kayanya koq terlalu berlebihan yah... Ga tau jg sih. Tp moga2 laki2 Indonesia ga se-pathetic itu. :D

Rani said...

@petra:
iya pet, tunggu aja undangannya dengan sabar yaa :D


@piqs:
ckckckck..gila komennya panjang bukan kepalang selalu riang kemari! :))

pertama, yang bilang 85 itu orang statistik cap gajah. cukup kredibel kan? :P

kedua, "If he can't handle you then he isn't meant for you, isn't it that simple?" couldnt agree more! jempol abiiss...

ketiga, ngaruh dong! pilihannya kan jadi makin dikit...
tapi bener juga sih, sedikit pilihan, tingkat kepusingan memilih lebih rendah...hmmmmmmmm...


@roberto:
lah, kamu kan laki2 indonesia juga, se-pathetic itu ga? :P

pebbie said...

IMHO, penyebabnya bukan harga diri tetapi pola pikir dalam memandang sesuatu (lulusan s1 jelas beda dengan lulusan s2, in some ways) yang didasari selain pendidikan ya pergaulan juga. singkat cerita, nyambung n cocok atau nggak kalo lagi ngebahas sesuatu. bisa jadi yang malas justru bukan laki-lakinya tetapi wanita yang sudah sekolah lebih tinggi di luar. itu untuk masalah ketertarikan sebelum menikah. klo masalah superioritas-inferioritas kyknya cuma masalah sudut pandang aja, toh tiap orang punya kekurangan untuk setiap kelebihannya.

kalo sudah berkeluarga, sepertinya tergantung gimana karakteristik keluarganya. ada yang istri s2 tapi suami masih lulusan s1, selama peran di dalam keluarga dijalankan kenapa tidak? klo gw sendiri berprinsip kesempatan untuk maju sama-sama tapi pilihan untuk terus maju (sekolah) itu terserah masing-masing yang penting komitmen bersama untuk saling dukung.

Lelly Dwi Ambarini said...

Postingannya bagus Laf. Menurut gw, tingkat pendidikan ga ngaruh ah, yang penting cocok dan ada "chemistry"-nya. Haiah,,
Ini terbukti kok.. ;)

Jadi, ditunggu undangannya ya Laf. Hihihi :)

Roberto said...

@lafra:
Yah, IMO itu tadi, kayanya laki2 Indo ga se-pathetic itu lah... ga nyampe ah kalo 85%. Paling jg setengahnya, 40-60%an.