Sunday, February 27, 2011

merahnya sore

suara burung-burung mengiringi matahari yang tenggelam. sebuah rumah putih di pojok jalan baru saja dihidupkan lampu tamannya. terlihat mobil tua berhenti di depan pos penjaga rumah. sesosok pria berjaket tampak keluar dari mobil kemudian berbincang dengan satpam rumah. pria itu dipersilakan masuk, disambut oleh seorang perempuan muda di depan pintu.

"silakan tunggu disini. bapaknya saya panggil dulu," ujar perempuan muda.
pria itu hanya tersenyum simpul, tak bergeming di depan pintu. hingga perempuan muda itu hilang dari pandangannya, baru pria itu bergerak, mengedarkan pandangannya, mempelajari ruang tamu. vas-vas kristal dan kursi besar mendominasi ruangan. pun tak terdengar suara dari dalam, tampak sepi tanpa penghuni.

perlahan, tanpa suara, pria itu berjalan ke arah tempat perempuan tadi menghilang. lalu berdiri tegak di sudut mati. menunggu.

akhirnya suara langkah kaki berat diiringi dehaman sesekali terdengar mendekat.
dekat.
dekat.
suaranya semakin mendekat.

tangan pria itu masuk ke saku dalam jaketnya. otot tangannya menegang.

pria tambun pemilik rumah tampak kaget melihat tamunya tak ada di ruang tamu. terlihat bayangan hitam sekelebat...

JLEB! JLEB! JLEB!

tiga kali pisau menusuk cukup dalam di perut sebelah kiri. baju pria tambun berubah warna. merah pekat. raut wajahnya pias, matanya membelalak melihat pria di hadapannya.

napasnya memburu, tatapannya dingin. tak ada marah. tak ada sesal.

***

actually, i wrote this piece two years ago :))

made some revision here and there tho'. when i read the third theme, i just remembered this piece and couldn't get it out of my mind. maybe it really wanted to be published :p

3 komentar:

Zakka Fauzan Muhammad said...

jadi maksud ceritanya apa nih? :D

piqs said...

moral of the story: jangan sampai berperut tambun! #eh

ronamentari said...

lanjut komen diatas. Gayus dong.. ? *hmm