Sunday, November 09, 2014

#20

“Blok M! Blok M!”
“Ayo, duduk duduk! Sudirman! Sudirman!”
“ Ayo Bu! Mbak! Masuk masuk!”
“Kosong di belakang, Pak!”

Keriuhan pagi yang telah dikenal Kirana bertahun-tahun. Ia menaiki Kopaja yang akan membawanya ke kantor di daerah perkantoran Sudirman. Sebagai alat transportasi terbanyak yang ada di ibukota ini, Kopaja menjadi transportasi yang umum digunakan oleh penduduk Jakarta. Tarifnya yang relatif murah dibanding Transjakarta juga menjadi salah satu alasan bus-bus ini tetap dipertahankan di jalanan.

Kirana memilih-milih kursi yang akan didudukinya. Sebagian besar busa kursi telah tercerabut, menyisakan sebagian kecil kursi mulus yang layak diduduki. Meskipun bentuk busnya sudah hampir tidak bisa dibilang layak, Kirana tetap memilih Kopaja yang mengantarkannya setiap hari. Memang sedikit tidak nyaman dengan kurangnya perawatan tapi dengan armadanya yang masih lebih banyak dibanding Transjakarta, Kirana bisa lebih cepat sampai di kantor. Kopaja yang dijuluki oleh salah satu media online sebagai The King of the Road mampu menerobos kemacetan-kemacetan dibandingkan transportasi roda empat lainnya.

Kirana memilih kursi kedua dari belakang, menjauhi jendela. Duduk dekat jendela sama saja dengan membiarkan polusi untuk terhisap lebih mudah. Kirana membuka kantong kecil tasnya dan tak menemukan maskernya. Aduh, maskernya dimana? Kirana mengaduk-aduk isi tas. Masker sudah menjadi barang yang sering dipakai oleh penduduk Jakarta yang ada di jalanan. Semakin lama polusi tidak semakin berkurang.

Ah, kemarin disimpan di meja, lupa dimasukin lagi! Kirana teringat yang dilakukannya tadi malam.
Trrrt. Trrrt. Trrrt.
Ia meraih ponselnya yang bergetar dari dalam tas.

From: Pak Andri (Work)
 Sebelum meeting nanti, saya ingin melihat berkas-berkasnya dulu. Bisa ketemu sebelum jam 9:30?
Jam di pergelangan kanan Kirana menunjuk angka 7:30. Ok, masih ada waktu.
Baik, Pak. Kirana membalas singkat.

Hubungannya dengan Pak Andri memang tidak terlalu bagus di proyek ini. Semuanya diawali dengan permintaan vendor untuk mengubah jadwal pekerjaan mereka agar dimundurkan waktunya. Kirana tidak setuju karena kemunduran pekerjaan ini semata-mata karena keteledoran vendor sendiri. Seharusnya mereka menerima penalti sedangkan Pak Andri membela habis-habisan vendor tersebut.
“Tapi mereka itu sudah menjadi partner kita sejak lama, Na! Give them a break!”
“Justru karena mereka itu sudah lama jadi partner kita, bukan berarti mereka bisa seenaknya mundurin jadwal. Profesional dong! Kita sudah banyak menerima komplain karena pekerjaan mereka yang engga selesai!”

Kirana teringat pembicaraannya dengan Neno di kafe Langit Biru sepulang dari kantor kemarin malam. Neno, salah satu kolega Kirana, mengetahui konflik antara Kirana dan Pak Andri berusaha menengahi demi kelancaran proyek perusahaan mereka.
“Gue engga ngerti dengan Pak Andri ini – ADUUH!“
Teh pesanan Kirana tertumpah di meja karena keteledoran waiter yang mengantarkan pesanan. Air teh terciprat ke pangkuan Kirana.
“Maaf, maaf, mbak!” Sang waiter berusaha membersihkan tumpahan teh yang terciprat ke rok Kirana.
“EH! Biar saya bersihkan sendiri! Gimana sih mas, matanya lihat yang bener dong! Pesenan datangnya lama, malah ditumpahin!” Kirana menyambut tisu pemberian Neno dan membersihkan roknya.

Sang waiter meminta maaf berkali-kali, “Maaf, mbak, maaf mas! Biar saya ambil lagi pesanannya! Maaf mbak!” Setelah membersihkan teh yang tertumpah, sang waiter segera kembali ke dapur.
“ARRGHH! Kenapa engga ada yang bener kerjaan orang-orang sih, Nenoooooo???” tanya Kirana gemas.

Neno hanya tergelak. 

***

Dengan gontai Angkasa berjalan ke arah halte bus. Baru saja dia menyelesaikan shift malam di kafe Langit Biru, tempat part-timenya. Meskipun hitungannya kerja part-time, akhir-akhir ini dia bersedia mengambil waktu lebih di kafe 24 jam itu. Demi mendapatkan ekstra uang, tentunya.

Pandangannya teralih ke baliho besar di seberang jalan. Ah, terpampang ponsel yang diidam-idamkannya selama ini. Tertulis pula rayuan-rayuan telco provider untuk pembeli. Setiap hari melihat baliho itu, Angkasa akhirnya termakan rayuannya.

Sebentar lagi, kamu ada di genggamanku, Sayang!

Triing. Ponsel di sakunya tiba-tiba berbunyi.  Ada pesan dari Andi.

Sa, udah pulang blm?
Blm. Lg nunggu kopaja.
Jd ga beli hp barunya? Kmrin si Tito udh pamer2 bawa hp baru
Jadi! Liat aj tgl mainnya!

Darah Angkasa sedikit mendidih. Tito! Anak itu punya ponsel nyicil aja pamer!

“Blok M! Blok M!”

Kopaja yang ditunggu Angkasa sudah datang. Dengan sigap Angkasa naik lewat pintu depan Kopaja dan menyisir pandangan mencari kursi yang bisa ia duduki. Triiing. Tidak ada tempat duduk yang kosong, Angkasa terpaksa berdiri. Triiing. Ia menoleh ke ponsel yang ada di tangannya. Pesan dari Andi muncul lagi.

Sa, kmren ditanyain Sita.
Katanya knapa smsnya g dibls?
Duh, ga punya pulsa. Cuma bs bbm doank

Angkasa mencoba mengetik sambil menyeimbangkan tubuhnya di Kopaja yang sedang mengebut. Sudah hal yang biasa mendapati bis Kopaja mengebut meski jalanan ramai di pagi hari. Ada banyak keterampilan yang diperlukan untuk bisa selamat naik Kopaja ini. Pertama, siapkan mental. Kopaja banyak melakukan manuver-manuver yang kadang membuat jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya. Kedua, harus bisa menyeimbangkan tubuh saat Kopaja mengebut. Kemampuan untuk tahu kemana badan harus condong ketika Kopaja berbelok-belok.

Ketiga, saat turun dari Kopaja, selalu gunakan kaki kiri. Penting, karena seringkali Kopaja tidak akan berhenti sepenuhnya untuk menurunkan penumpang. Dengan menggunakan kaki kiri terlebih dahulu ketika turun, tubuh lebih bisa diseimbangkan. Setelah turun, harus sadar dengan kondisi di arah sebelah kiri karena bisa saja ada motor yang sedang melaju atau mobil, jika Kopaja menurunkan penumpang di tengah jalan besar. Tak disangka naik bis tak semudah mengayunkan kaki bukan?

Angkasa memperhatikan wajah perempuan yang sedang duduk di depannya. Terasa familiar.

Mbak yang tadi malam!

Merasa diperhatikan, sang perempuan menoleh ke arah Angkasa, kedua pandangan mata mereka bertumbukan sekilas.


Mungkin orangnya engga ingat. Huh, mbak ini, kecipratan dikit aja heboh. Orang-orang itu memang suka berlebihan. Omongannya juga marah-marah terus selama di kafe. Lebay!

***

Yeaaaayyyyy, akhirnya writing challengenya selesaaaai......dalam waktu 3 tahun 9 bulan :))))) 
Cerita ini terakhir kali ditulis hampir 2 tahun yang lalu. Belum selesai, tentu saja. Tadinya cerita ini mau dikirimkan ke lomba cerpen, tapi di tengah jalan saya putuskan mengubah ceritanya tanpa menghapus cerita ini. Tema lomba cerpennya mengangkat hal unik di kota-kota Indonesia. Saya pilih mengangkat Kopaja karena waktu nulis ini memang tiap hari naik Kopaja dan baca artikel ini :))

In case you wonder, engga, saya ga menang di lomba cerpennya. Ha.ha.

0 komentar: