Saturday, December 13, 2014

#TantanganMenulisKPP


Okay, that's it. I am done.

Aku arahkan kursor ke arah tombol 'Send'. Artikel terakhir ini aku kirimkan ke editor yang sudah mencaciku dari berjam-jam yang lalu. Seperti biasa, aku mengirim artikel saat injury time dari deadline. Hei, bukan aku yang ingin artikel ini untuk selesai jam segini. Salahkan si angkuh Diva yang sulit sekali untuk dicari. Tentu saja meskipun begitu aku tetap meminta bantuan dari jaringan informanku untuk cari tahu gosip tentang si Diva.

Jam di meja menunjukkan pukul 10 malam. Masih belum terlalu larut bagiku. Aku memindai email-email yang masuk ke inbox. Beberapa dari redaksi, terkait penerbitan majalan minggu ini. Satu, dua email spam masih tidak terfilter. Beberapa email lelucon dari teman-teman kerja. Sisanya, seperti biasa, email-email hujatan atas artikel yang aku tulis.

Halo Lena,

Apa kamu tidak punya kerjaan lain selain menulis artikel-artikel bullshit?

Your meanest enemy,
Rina


Dear Lena,

Try to eat your own articles. How does it taste?

Leo

Hmm, baru pertama kali Leo sang aktor mengirim email kepadaku. Tampaknya gosip yang aku tulis tentang dia sangat mengena. Tiba-tiba ada yang mencolekku dari belakang. Aku terkaget menoleh.
“Gio! Kebiasaan deh!”

Gio hanya terkekeh. “Habisnya, serius banget sih lihat emailnya. Sasaran empuk buat dijailin!” Ia memperlihatkan cengirannya yang paling lebar.
“Lihat apaan sih?” Gio menarik kursi dan duduk mendekat. Aku hanya menunjuk ke arah monitor.
“Oh, surat-surat cinta pembaca lo ya?”

Aku menghela nafas.

“Gue tahu kadang artikel yang gue tulis banyak orang yang merasa terganggu. Tuntutan kerja. Tapi setelah bertahun-tahun kayak gini, kayaknya gue sudah muak dengan reaksi orang-orang.”
Gio hanya mengangguk-angguk.

Ponselku bergetar. Ada pesan masuk.

Mama
Lena, kamu dimana? Msh di kantor? Hati2 pulang. Kalo kamu punya pacar, jam segini kan bisa diantar pulang.

Ugh. Itu lagi, itu lagi yang diungkit. Mama, mama. Tak bisakah Mama melupakan hal ini?

“Siapa?” tanya Gio.
“Mama.”

Gio merebut ponselnya dari tanganku. “Hei, Gio!” seruku. Gio membaca pesan dari Mama lalu ia tergelak.

“Lena, Lena. Hal seperti ini masih saja diributkan?”

Aku mengalihkan pandangan ke monitor. Menggerak-gerakkan kursor asal-asalan.

“Mau coba blind date?”

Aku menoleh. “Maksud lo?”

“Iya, blind date. Biar Mama lo senang sementara.” Gio memperlihatkan cengiran lebar khasnya lagi.

Aku berpikir sebentar. Tidak ada salahnya mencoba. I got nothing to lose anyway.

“Ok. Caranya?”

“Besok malam kosong? Nanti gue kasih tahu jam berapa dan dimana ketemunya. Ok?”

“Ok.”

“Ok. Yuk pulang? Kasihan Mama lo khawatir kalau lo pulang sendiri.” Gio dengan seenaknya membereskan barang-barangku dan berjalan ke arah pintu keluar.

Aku mematikan monitorku dan berjalan mengikutinya.



Jam tujuh malam tepat aku sampai di salah satu kafe terkenal di kota ini. Aku menyisir satu-satu pengunjung yang duduk sendiri dan sesuai dengan ciri-ciri yang Gio berikan padaku. Seorang pemuda berbaju coklat tampak memperhatikanku dari jauh. Rambut cepak, kemeja coklat. Sepertinya dia yang aku cari.

“Hai, Neno ya?” tanyaku ketika mendekati. Ia tersenyum menyambut jabat tanganku.

Setelah itu, perkenalan kami berjalan dengan lancar. Setiap obrolan mengalir dengan Neno. Tampaknya, aku suka padanya.

Di akhir pertemuan, ketika kami berpisah di rumahku, Neno membisikkan sesuatu.

“Maaf ya, aku tidak bilang ini dari awal.”

Aku bingung dengan perkataannya.

“Maksudnya?”

“Aku,” Neno mengambil napas pendek, “gay.”

Aku mematung. Sebuah suara menggema di kepalaku. “GIO SIALAN!”

0 komentar: