Monday, September 07, 2015

book review: Dimsum Terakhir, Blue Romance

Akhirnya ada juga buku yang selesai dibaca tahun ini!




Dimsum Terakhir dari Clara Ng ini emang udah lama banget terbitnya. Udah sering lihat di rak toko-toko buku dan biasanya cuma dipegang-pegang aja. Akhirnya beli di pop-up booth, tempat yang biasanya berisi buku-buku lama yang dibanting harganya, sisa stok yang harus disingkirkan. Begitu lihat ada buku ini, langsung sikat! I am cheap, i know.

Buku ini bercerita tentang kehidupan saudari kembar 4 Cina peranakan yang 'dikumpulkan' oleh takdir ketika ayah mereka sakit parah. Masing-masing anak memiliki permasalahan tersendiri di kehidupan mereka yang terkuak ketika anak-anak ini kembali ke rumah untuk mengurus ayah mereka.

Dari cerita ini yang gw pertanyakan adalah apakah seks bebas itu sudah biasa di kalangan Cina peranakan? Memang kalau di zaman sekarang, semuanya 'kembali ke diri sendiri' atau 'selama pakai pengaman, ok' tapi sepertinya di antara semua anak ini tidak ada yang mempersoalkan masalah moral, bahkan oleh anak yang religius sekalipun. Aneh kan?

Beberapa kali baca buku Clara Ng, memang mbak Clara ini cukup piawai dalam bercerita.Tapi buat gw buku ini ga sebagus buku-bukunya yang lain yang pernah gw baca. Konfliknya kurang untuk mengikat gw untuk terus buka halaman-halamannya. Poin menariknya buat gw ada di latar belakang budaya Cina peranakan yang sebelumnya belum gw tahu. Dari buku ini gw baru tahu kalau dulu, sebelum hari Imlek menjadi hari libur nasional, jika hari Imlek jatuh di hari sekolah, semua anak Cina peranakan harus masuk sekolah, tanpa boleh ada izin. Tega benerrr.

Anyway, it is still a good book and worth the money :P


pic taken from goodreads

Buku kedua adalah Blue Romance oleh Sheva. Sama kayak Dimsum Terakhir, gw udah tahu buku ini dari lama. Di toko buku cuma dipegang-pegang aja. Akhirnya beli karena ada diskon gede-gedean dari salah satu toko buku online :p

Sebelumnya buku ini ga gw beli karena buku-buku Plotpoint itu kebanyakan penulis baru dan muda dan anggapan gw kalau penulis yang seperti itu ceritanya 'konflik remaja' gitu ya. Ga terlalu tertarik. Kenapa akhirnya beli buku ini? Karena judulnya ada kata Blue-nya dan setting ceritanya di coffee shop yang namanya Blue Romance. The coffee shop 'looks' cozy so I just wanna 'try'.

Memang, coffee shop Blue Romance ini diceritakan jadi tempat nongkrong yang cukup hits dan dari deskripsi interiornya instagrammable banget. Buku ini berupa kumpulan cerita yang punya latar belakang tempat yang sama, yaitu Blue Romance. Karena Blue Romance ini coffee shop, tiap cerita selalu dimulai dengan deskripsi sebuah jenis minuman kopi. Gw ga ngerti apa makna deskripsi itu perlu disebut di awal cerita. Entah gw yang ga teliti atau ga peka tapi jenis kopi yang disebut di awal itu cuma jadi informasi pelengkap untuk kopi yang dipesan oleh si tokoh utama. Kecuali di satu cerita, The Coffee and Cream Book Club yang memang kopi krim ini ada benang merah dengan konflik cerita. Kayaknya lebih menarik kalau bisa mengaitkan filosofi tiap jenis minuman kopi dengan ceritanya. Mungkin memang cuma jadi informasi buat pembacanya yang awam tentang kopi seperti gw ini. Terima kasih atas informasinya, Sheva.

Baca Blue Romance, gw tahu anggapan gw salah, penulis baru dan muda ga selalu buat cerita konflik remaja. Sheva memang ga bercerita tentang konflik remaja, tapi tidak bercerita dengan tema yang berat juga. Buku ini ada dengan berbagai tema ringan, dari kehilangan sampai pertemuan kembali. Di ceritanya juga banyak referensi tahun 90an yang bikin gw bertanya-tanya kalau remaja sekarang tahu atau engga referensinya. Bagus juga sih kalau ga tahu, semoga yang baca tertarik buat cari tahu dan mungkin tahun 90an bisa bangkit kembali!


0 komentar: