Friday, September 02, 2016

book review: Lelaki Harimau

Yay, selesai baca satu buku lagi!

Kalau dihitung dari awal tahun, sampai saat ini sudah selesai 9 buku dari target......36 buku. *sigh*

Ok, saatnya realistis: 12 buku aja lah. Dengan waktu 4 bulan yang tersisa, sepertinya cukup feasible untuk baca 3 buku lagi. *cari buku-buku tipis*

***

Nama Eka Kurniawan sebenarnya sudah lama saya dengar. Lelaki Harimau, Cantik Itu Luka, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, O, sudah sering berseliweran di depan mata saya. Banyak review yang merekomendasikan buku-buku Eka tapi entah kenapa saya tidak terlalu tergerak untuk mulai membaca. Akhirnya memutuskan untuk mencecap Lelaki Harimau pun karena termasuk dalam long list Man Booker Prize 2016.

Well, that book must be good, pikir saya.

Dan memang, mereka tidak salah.

Lelaki Harimau ditulis sebagian besar dalam bentuk narasi, minim dialog. Hal yang jarang terjadi di buku-buku yang pernah saya baca. Meskipun minim dialog, tapi cerita mengalir dengan lancar. Menariknya, Eka menuliskan ceritanya seperti lapis per lapis. Diberikannya sedikit demi sedikit lapisan cerita kepada pembaca, yang membuat pembaca menjadi penasaran akan menjadi apa lapisan-lapisan itu.

Alur cerita dibuat maju dan mundur dengan banyak menceritakan latar belakang masing-masing tokoh. Kadang saya lupa tentang harimau yang menjadi judul buku ini. Bahkan harimaunya pun hanya sepersekian porsinya dari cerita. But still, catchy title.

Ada sedikit 'kecelakaan' waktu saya baca buku ini. Saya membuka halaman terakhir, ternyata klimaksnya di sana. Hahahaha. Tapi tidak membuat saya berhenti membaca. Saya kagum dengan diksi Eka. Banyak kalimat yang membuat saya bertanya-tanya apakah Eka menulisnya dengan lancar atau sengaja memilih-milih dari kamus. Kata-kata yang dirangkai dalam kalimat baru yang belum pernah saya baca. Penuh perumpaan tanpa terasa berlebihan. Tidak heran dengan keahliannya ini, ia disebut sebagai Pramoedya selanjutnya.

3 komentar:

putri setiani said...

Why ini direview why.. kan jadi mau beli aaaaa..

putri setiani said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Rani said...

Hahahaha...baca puut :p
Yg lupa ditulis, agak risih baca bukunya, banyak adegannya. Tapi kelihatannya sih buku Eka emg begitu kl baca2 sinopsis yg lain.