Sunday, November 13, 2016

The battle


Sebagai seorang pembaca buku, perseteruan antara buku virtual dan buku fisik selalu ada. Saya selalu memilih buku fisik karena lebih menyenangkan. Pengalaman memilih-milih cover, membuka halaman demi halaman, melihat buku bertumpuk atau berdampingan itu me-nye-nang-kan.

Tapi perkembangan teknologi selalu berkembang dan terus berusaha memenuhi kebutuhan para konsumen bandwidth. Beberapa kali saya mencoba untuk membaca buku virtual (Tidak, saya berusaha tidak mengkhianatimu, oh, tumpukan-buku-yang-tidak-pernah-habis). Pertama, lewat iBook di iPad. Hanya mencoba membaca buku-buku gratis, biasanya buku-buku sastra klasik luar. Beberapa buku diunduh tapi tidak ada yang selesai dibaca.

Kedua, lewat aplikasi Bookmate. Awal tahu ada Bookmate, karena ada SMS promo dari Indosat. Hahaha. Lumayan bisa baca gratis selama sebulan. Cicip, cicip, secara koleksi, ada buku dalam dan luar negeri. Sayang, secara user experience, aplikasinya kurang smooth. Beberapa kali nemu bug. Mungkin sekarang sudah lebih baik lagi. Secara reading experience, melelahkan. Membaca huruf-huruf kecil berdempet dari layar ukuran kurang dari 5 inchi bukan cara yang bagus untuk menjaga kesehatan mata. Jadi terpikir Kindle yang punya layar berbeda dan (katanya) tidak membuat mata lelah (Tidak, saya tidak mengkhianatimu, oh, tumpukan-buku-yang-tidak-pernah-habis). Akhirnya saya hapus aplikasinya.   

Sedikit bosan baca buku, saya menjajal Scoop. Saya membaca....majalah. Dari ponsel saya yang berukuran kurang dari 5 inchi itu. Egh. Swipe-Zoom in-Drag leftrightleftright-Zoom out-Swipe. Egh. Kurang kerjaan. Saya hapus aplikasinya setelah membaca majalah itu.

Hingga suatu hari, di feed instagram saya, ada repost dari sebuah akun buku, seseorang yang membaca buku dari aplikasi iJakarta. Aplikasi apa lagi nih? Iseng-iseng install dan halaman pertama di daftar koleksinya ada....Critical Eleven! Wait, what? Serius nih bisa dibaca? Itu salah satu buku yang ingin saya baca tapi masih berat hati untuk membeli bukunya. Buku itu langsung dipilih dan ternyata di iJakarta sistemnya seperti perpustakaan. Kita bukan membeli buku tapi meminjam. Waktu pinjaman selama 3 hari. Jika buku habis dipinjam, kita bisa antri untuk meminjam buku tersebut dan akan diberitahu kalau buku tersebut sudah available. Menarik sekali kan? Selain pinjam, kita juga bisa donasi.Tapi...saya belum pernah coba :D Bilang aja pelit.


Secara koleksi, iJakarta cukup oke dibanding aplikasi-aplikasi lain. Meskipun koleksinya hanya berisi buku dalam negeri dan terjemahan. Dari Ika Natassa sampai Okky Madasari. Dari Boim Lebon sampai Sapardi Djoko Damono. Dari Agatha Christie sampai Neil Gaiman! Bahkan seri buku Tokoh Tempo pun ada. Tinggal nunggu seri Sastra Dunianya KPG nih. Kemarin saya senang karena yang tadinya hanya iseng cari buku #Girlboss-nya Sophia Amoruso, ternyata ada! Langsung saya kebut baca hanya dalam 3 hari. Haha. Memang tidak semua koleksi buku penulis-penulis itu ada di iJakarta, tapi lumayanlah kalau mau coba cicip-cicip buku yang masih setengah hati ingin dibeli. (Saya tidak mengkhianatimu, tumpukan-buku-yang-tidak-pernah-habis! Jangan baper deh.)

Secara user experience, aplikasi masih ada bug-bugnya sedikit tapi masih termaafkan. Secara reading experience, memang melelahkan lihat layar ponsel itu. Tapi pakai aplikasi di ponsel, membaca jadi mudah sekali. Saya bisa baca waktu pompa asi, waktu ngelonin anak, atau waktu break di kantor tanpa terlihat terlalu santai membaca buku. Hahaha. Yah, akhirnya supaya tidak terlalu lelah mata, harus sering mengistirahatkan mata atau memberi jeda waktu baca antar buku.

Jadi, tumpukan-buku-yang-tidak-pernah-habis, saya tidak mengkhianatimu. Saya hanya menambah tumpukan-buku-virtual-yang-tidak-pernah-habis!

0 komentar: