Tuesday, September 11, 2018

Manfaat Membaca Fiksi


Fiksi seringkali dipandang sebelah mata karena dianggap sebagai khayalan semata. Tunggu dulu. Membaca buku fiksi sama-sama bermanfaat lho seperti membaca buku non-fiksi. Apa saja manfaat membaca fiksi?

1. Hiburan
Menurut Wikipedia,
Fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi—dengan kata lain, tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta. ... Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya.
Memang fiksi adalah cerita khayalan sesuai imajinasi penulisnya, tetapi di situlah kekuatan fiksi. Penulis dapat menciptakan suatu dunia lain yang berbeda dengan kenyataan dan mengajak pembaca untuk 'merasakan' dunia yang berbeda itu. Sensasi ini menjadi hiburan tersendiri bagi pembaca hingga larut dalam dunia khayalan penulis. 

2. Menambah pengetahuan dengan cara menyenangkan
Tidak sedikit penulis yang melakukan riset mendalam untuk menunjang cerita. Sebut saja, serial Supernova dari Dee Lestari. Kadang baca serial Supernova ini seperti baca karya ilmiah yang dinovelkan. Buku terbarunya, Aroma Karsa, mengeksplor dengan detil tentang indera penciuman manusia, anggrek, dan parfum. Lain lagi dengan serial Dan Brown yang mengungkap banyak sejarah peradaban manusia dengan alur cerita yang menegangkan. Membaca buku-buku seperti ini tidak jarang menimbulkan rasa ingin tahu tentang fakta-fakta yang diceritakan.

3. Meningkatkan kualitas tidur
Berhubungan dengan poin 1, membaca fiksi dapat menjadi hiburan sebelum tidur. Hiburan ini membuat badan menjadi rileks, sehingga bisa tidur lebih lelap. Perlu diingat, hati-hati juga dengan pilihan ceritanya, jangan sampai malah mengganggu waktu tidur karena penasaran membaca bab-bab selanjutnya.

4. Meningkatkan kepekaan terhadap orang lain
Ada kalanya kita ikut larut secara emosi ketika membaca fiksi. Ternyata, emosi yang turun naik itu melatih kepekaan kita terhadap orang lain. Saat membaca, kita belajar mengenali emosi tokoh-tokoh dalam fiksi, mengapa mereka menangis atau marah atau bersikap biasa saja. Selain itu, kita juga melatih untuk melihat perspektif orang lain melalui tokoh-tokohnya.

5. Menambah perbendaharaan kata
Bahasa terus berkembang, banyak kata yang diserap dari bahasa asing atau dialihbahasakan atau dibuat kata baru. Tidak ada cara lain untuk tahu kata-kata baru selain dari membaca. Novel terakhir yang saya baca adalah Aroma Karsa dan banyak kata yang baru saya temui, seperti tempiar dan tergemap.

Cukup banyak ya manfaat membaca fiksi. Mungkin untuk sebagian orang, alasan tidak mau membaca fiksi adalah malas membaca novel buku yang tebal-tebal. Tidak perlu terburu-buru. Untuk memulai, bisa pilih cerita yang tidak terlalu panjang, misalnya kumpulan cerpen atau kumpulan flash fiction yang lebih pendek lagi (Pesan antologi flash fiction saya dan teman-teman di sini ;) ). Lalu, pilih genre tulisan yang disukai, seperti fantasi, chick-lit, petualangan, thriller, horor, dll.

Selamat menemukan asiknya membaca fiksi!

Friday, August 31, 2018

#Modyarhood: Tentang Mainan Anak

Bicara tentang mainan anak, saya termasuk yang pemilih, berusaha memilihkan mainan yang sesuai dengan usia, kebutuhan dan memang belum ada di rumah. Hal ini juga untuk menghindari tumpukan mainan yang terlalu banyak dan berantakan. Alhamdulillah anak saya bisa diajak kerjasama, kalau ke toko mainan jarang minta untuk dibelikan. Paling dipegang-pegang aja. Anak solehaaaa. #dompetaman

Tapiii...yang saya perhatikan, meskipun sudah dibelikan mainan yang sesuai usia, belum tentu anak akan tertarik atau malah cepat bosan dengan mainannya. Awalnya sedih sih, udah dibeli tapi engga dipakai. Tapi ternyata, mainan itu bisa jadi dimainkan lagi......beberapa bulan kemudian! Bahkan bisa sampai setahun, baru anak menemukan asiknya main mainan itu. Jadi, kalau ada yang senasib, engga usah sedih dulu, mungkin anak memang belum "butuh" dengan mainan itu.

Apalagi anak saya tipe yang engga mau diam, kalau dia sudah bosan dengan mainannya, saya menahan dulu untuk membeli mainan baru. Saya membebaskan anak untuk memakai barang-barang di rumah. Daripada stress tiap kali lihat dia pegang-pegang barang, menurut saya lebih baik membebaskan selama tidak berbahaya dan dalam pengawasan. Lebih aman untuk emosi saya dan anak :D (Remember, happy mom happy child!). Anak juga akan tertantang untuk berkreasi menggunakan barang-barang yang sudah ada. Berimajinasi.

- Main dokter-dokteran dengan botol obat luka
- Main cetak pasir kinetik dengan alat masak mainan
- Main beras dan sayur untuk masak-masakan
- Main tutup panci sebagai alat musik
- Main panci sebagai topi
- Main bowling pake botol-botol minum dan bola, dll.


iseng banget XD

Karena saya membebaskan anak untuk menggunakan barang-barang yang ada di rumah, childproofing menjadi penting. Benda-benda tajam dan berbahaya dijauhkan dari jangkauan anak dan menghindari terlalu banyak perabotan mudah pecah (kalau ini alasan utamanya malas beli perabotan aja sih karena rumah masih ngontrak hehehe).

Selain itu, di rumah saya juga membebaskan coret-coret tembok! Mungkin kalau orang lain bertamu ke rumah akan geleng-geleng melihat tembok-temboknya, but this is my house, my rule. :D


washi tape ditempel-tempel T_T padahal kan cita-citanya dipake buat journalling. baru cita-cita doang tapi. huehuehue.

Menurut Femi Olivia di bukunya "Gembira Corat-Coret":
Apalagi tembok bisa dibersihkan dari coretan, tapi kalau hati anak yang sedih karena dimarahi akibat mengotori tembok akan sulit diobati. Jadi jangan buru-buru melarang anak Anda coret-coret, tapi sediakan media yang tepat! Jika masih gagal, siapkan selalu cat tembok baru, karena kreativitas anak jauh lebih mahal ketimbang cat tembok.
See, selama engga berbahaya, bebaskaan saja permirsaaahhh :D

Tulisan ini dibuat dalam rangka ikutan proyek #Modyarhood oleh @byputy dan @mamamolilo.

Monday, August 13, 2018

Yang Lebih Baik dari Mainan

Suatu hari saya menemukan sebuah blog, The Babybirds, cerita tentang keluarga kecil kreatif yang senang membuat macam-macam DIY. Salah satu yang saya sukai dari keluarga kecil ini adalah kebiasaan mereka dalam merayakan ulang tahun anaknya, bukan dengan limpahan hadiah tetapi pergi liburan bersama keluarga. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel yang sejalan dengan kebiasaan The Babybirds ini. Daripada membelikan mainan baru, hadiah yang lebih baik untuk anak adalah dengan memberikannya pengalaman baru.

1. Stimulasi Otak Anak 
Liburan tidak hanya berguna untuk men-charge baterai orang dewasa, untuk anak pun perlu. Liburan ternyata juga menstimulasi perkembangan otak anak. Datang ke tempat-tempat baru menstimulasi otak anak area limbik bagian dalam, area "PLAY" dan area "SEEKING". Bagian ini jarang terstimulasi jika hanya di rumah saja. Area "PLAY" terstimulasi ketika mengubur kaki di dalam pasir atau bermain ciprat-ciprat air ketika berenang. Area "SEEKING" terstimulasi ketika mengeksplorasi tempat-tempat baru.

2. Membentuk kepribadian anak
Otak adalah organ tubuh yang unik. Area-area otak seperti otot yang perlu dilatih. Dengan lebih sering stimulasi area "PLAY" dan "SEEKING", membantu anak membentuk kemampuannya untuk menjadi lebih kreatif. Hal ini tentunya berguna hingga dewasa nanti.

3. Membangun hubungan emosional yang lebih baik
Berkegiatan bersama dapat menghasilkan hormon-hormon "bahagia" seperti oksitosin dan dopamine. Dengan perasaan bahagia tentu bisa mempererat hubungan antar keluarga lebih baik lagi.

Jadi tidak perlu ragu-ragu lagi untuk merencanakan liburan keluarga ya. Bisa dimulai dari yang sederhana, pergi piknik ke taman kota yang belum pernah didatangi. Bisa juga mengikuti jejak The Babybirds yang sudah melanglangbuana di dalam dan luar negeri. Atur saja sesuai budget masing-masing. :)

Friday, August 03, 2018

Lembaran baru

Beberapa waktu yang lalu ikut kulwhapp di Kejar (Kelas Belajar) Menulis IP Tangsel, narasumbernya Indari Mastuti - owner Indscript Creative. Tema kulwhappnya “Konsistensi Menulis”, ringan tapi sangat menampar. Lihat aja blog ini, tiap bulannya bisa dihitung pakai jari berapa tulisan yang diposting.

Mbak Indari ini sudah menelurkan 65 buku sejak 2004. Wow kan. Kenapa bisa sebanyak itu? Apa rahasianya? Konsisten menulis setiap hari. Dari sharingnya, konsistensi menulisnya benar-benar diukur, ada matriksnya dan ada targetnya. Kalau hari ini tidak mencapai target, akan di-rollover ke hari berikutnya. Macam kuota paket data.

Rahasia ini bukan hal baru sebenarnya. Setiap penulis hebat ditanya pasti jawabannya itu. Menulislah. Menulislah setiap hari. Meski hanya satu kalimat. Paksa pantat itu untuk duduk di depan laptop atau buku tulis, lalu menulis.

Selama ini, saya merasanya memang kurang motivasi untuk menulis. Kurang ‘paksaan’. Salah satu tujuan saya ikut Kejar Menulis dan Kontributor Artikel IP Tangsel ini untuk menciptakan ‘paksaan’ itu. Minimal satu tulisan setiap bulan untuk setoran artikel.

Matriks dan target ini bisa jadi pedang bermata dua. Bisa jadi paksaan yang positif, bisa jadi negatif. Bisa jadi beban yang bikin stres sendiri. Stres bisa bikin buntu ide. Buntu ide bisa bikin matriks dan target tidak tercapai. Jadinya, lingkaran setan.

Untuk saya sepertinya akan pelan-pelan dulu. Matriks bisa dipakai untuk evaluasi konsistensi dalam menulis. Target disesuaikan dengan tugas Kejar Menulis dan Kontributor Artikel. Nilai plus kalau ada ide tambahan yang bisa ditulis. Hehe.

Selain matriks dan target, mbak Indari juga mempunyai alokasi waktu tetap untuk menulis. Waktu menulis dijadwalkan, bukan di waktu-waktu sisa.

Selama ikut kelas di IP Tangsel yang banyak tugas menulisnya, saya jadi mempunyai waktu menulis yang pas. Setelah subuh, sebelum anak bangun. Atau selama anak tidur siang, dengan catatan engga ikut ketiduran. Hehe.

Tapi masalahnya, selama kelas libur, menulisnya ya libur juga. Kalau mau konsisten kan seharusnya menulis terus yaaa.

Oke, berhubung di Kejar Menulis mulai membuka lembaran baru, mari mulai konsisten menulisnya. *Pecut pecut pecut!*

Saturday, July 14, 2018

Membangun Self-esteem Anak Sensitif


Menyambung dengan topik anak sensitif yang pernah ditulis sebelumnya, salah satu kunci untuk membesarkan anak sensitif adalah membangun harga diri anak atau self-esteem. Bagaimana cara orang tua untuk membangun self-esteem itu?

1. Berikan contoh oleh orang tua
Kadang di lingkungan luar, kesensitifan anak dapat dianggap aneh atau tidak biasa. Hal ini dapat mempengaruhi pandangan anak terhadap dirinya sendiri, dengan menganggap dirinya aneh atau menjadi tidak percaya diri. Orang tua perlu yakin jika pandangan anak sensitif itu aneh hanya pendapat saja. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Orang tua juga harus percaya diri untuk memiliki anak sensitif.

2. Kata-kata yang berharga
Akui kesensitifan anak. Akui bahwa kesensitifannya tidak membuatnya menjadi lebih buruk dari anak lain. Puji sifat sensitifnya, perhatian terhadap detail atau berempati tinggi, itu adalah kelebihannya yang patut dimiliki.

3. Habiskan waktu bersama anak
Psikiater anak merekomendasikan untuk membersamai anak setengah jam setiap hari. Biarkan anak yang memilih permainannya, orang tua hanya mengikuti. Ini dapat menyembuhkan luka, seperti rasa sedih karena bersalah atau rasa malu.

4. Hargai anak
Hargai perasaan anak, kebutuhannya, pendapat, pilihan dan keputusan. Meskipun pilihannya salah, hargai keinginannya dalam memilih. Misal, "Ibu tahu kamu sangat suka kue, tapi kamu harus makan dulu." atau "Iya, main ke taman memang menyenangkan, tapi ini sudah malam, sudah waktunya tidur."

5. Bantu anak mengenali dirinya dalam berhubungan dengan orang lain
Anak sensitif perlu belajar jika tidak semua orang seperti dirinya. Kadang orang lain mengatakan sesuatu yang tidak mereka maksudkan, berbuat impulsif, atau tidak semua orang bisa membaca hal yang tersirat. Untuk orang-orang seperti ini, anak perlu latihan untuk mengungkapkan pendapatnya atau apa yang sebenarnya ia inginkan.

6. Ungkap kekuatan ketika anak mengalami kegagalan
Ketika anak sensitif mengalami kegagalan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah akui perasaannya. Lalu, ceritakan hal serupa yang bisa menunjukkan kekuatannya. Misalnya, "Adik sedih ya tidak dapat juara menggambar. Tidak apa-apa, kemarin adik kan sudah menang lomba menari bersama teman-teman." Tidak perlu berlebihan dalam memuji, ungkapkan pendapat orang tua dengan tulus.

Baru satu kunci pengasuhan yang dibaca tapi sudah banyak PR yang harus dilakukan. Bukunya juga masih banyak halaman yang belum dibaca. Mudah-mudahan bisa ditulis lagi di lain kesempatan.

(Dirangkum dari buku The Highly Sensitive Child oleh Elaine Aron)