Monday, August 13, 2018

Yang Lebih Baik dari Mainan

Suatu hari saya menemukan sebuah blog, The Babybirds, cerita tentang keluarga kecil kreatif yang senang membuat macam-macam DIY. Salah satu yang saya sukai dari keluarga kecil ini adalah kebiasaan mereka dalam merayakan ulang tahun anaknya, bukan dengan limpahan hadiah tetapi pergi liburan bersama keluarga. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel yang sejalan dengan kebiasaan The Babybirds ini. Daripada membelikan mainan baru, hadiah yang lebih baik untuk anak adalah dengan memberikannya pengalaman baru.

1. Stimulasi Otak Anak 
Liburan tidak hanya berguna untuk men-charge baterai orang dewasa, untuk anak pun perlu. Liburan ternyata juga menstimulasi perkembangan otak anak. Datang ke tempat-tempat baru menstimulasi otak anak area limbik bagian dalam, area "PLAY" dan area "SEEKING". Bagian ini jarang terstimulasi jika hanya di rumah saja. Area "PLAY" terstimulasi ketika mengubur kaki di dalam pasir atau bermain ciprat-ciprat air ketika berenang. Area "SEEKING" terstimulasi ketika mengeksplorasi tempat-tempat baru.

2. Membentuk kepribadian anak
Otak adalah organ tubuh yang unik. Area-area otak seperti otot yang perlu dilatih. Dengan lebih sering stimulasi area "PLAY" dan "SEEKING", membantu anak membentuk kemampuannya untuk menjadi lebih kreatif. Hal ini tentunya berguna hingga dewasa nanti.

3. Membangun hubungan emosional yang lebih baik
Berkegiatan bersama dapat menghasilkan hormon-hormon "bahagia" seperti oksitosin dan dopamine. Dengan perasaan bahagia tentu bisa mempererat hubungan antar keluarga lebih baik lagi.

Jadi tidak perlu ragu-ragu lagi untuk merencanakan liburan keluarga ya. Bisa dimulai dari yang sederhana, pergi piknik ke taman kota yang belum pernah didatangi. Bisa juga mengikuti jejak The Babybirds yang sudah melanglangbuana di dalam dan luar negeri. Atur saja sesuai budget masing-masing. :)

Friday, August 03, 2018

Lembaran baru

Beberapa waktu yang lalu ikut kulwhapp di Kejar (Kelas Belajar) Menulis IP Tangsel, narasumbernya Indari Mastuti - owner Indscript Creative. Tema kulwhappnya “Konsistensi Menulis”, ringan tapi sangat menampar. Lihat aja blog ini, tiap bulannya bisa dihitung pakai jari berapa tulisan yang diposting.

Mbak Indari ini sudah menelurkan 65 buku sejak 2004. Wow kan. Kenapa bisa sebanyak itu? Apa rahasianya? Konsisten menulis setiap hari. Dari sharingnya, konsistensi menulisnya benar-benar diukur, ada matriksnya dan ada targetnya. Kalau hari ini tidak mencapai target, akan di-rollover ke hari berikutnya. Macam kuota paket data.

Rahasia ini bukan hal baru sebenarnya. Setiap penulis hebat ditanya pasti jawabannya itu. Menulislah. Menulislah setiap hari. Meski hanya satu kalimat. Paksa pantat itu untuk duduk di depan laptop atau buku tulis, lalu menulis.

Selama ini, saya merasanya memang kurang motivasi untuk menulis. Kurang ‘paksaan’. Salah satu tujuan saya ikut Kejar Menulis dan Kontributor Artikel IP Tangsel ini untuk menciptakan ‘paksaan’ itu. Minimal satu tulisan setiap bulan untuk setoran artikel.

Matriks dan target ini bisa jadi pedang bermata dua. Bisa jadi paksaan yang positif, bisa jadi negatif. Bisa jadi beban yang bikin stres sendiri. Stres bisa bikin buntu ide. Buntu ide bisa bikin matriks dan target tidak tercapai. Jadinya, lingkaran setan.

Untuk saya sepertinya akan pelan-pelan dulu. Matriks bisa dipakai untuk evaluasi konsistensi dalam menulis. Target disesuaikan dengan tugas Kejar Menulis dan Kontributor Artikel. Nilai plus kalau ada ide tambahan yang bisa ditulis. Hehe.

Selain matriks dan target, mbak Indari juga mempunyai alokasi waktu tetap untuk menulis. Waktu menulis dijadwalkan, bukan di waktu-waktu sisa.

Selama ikut kelas di IP Tangsel yang banyak tugas menulisnya, saya jadi mempunyai waktu menulis yang pas. Setelah subuh, sebelum anak bangun. Atau selama anak tidur siang, dengan catatan engga ikut ketiduran. Hehe.

Tapi masalahnya, selama kelas libur, menulisnya ya libur juga. Kalau mau konsisten kan seharusnya menulis terus yaaa.

Oke, berhubung di Kejar Menulis mulai membuka lembaran baru, mari mulai konsisten menulisnya. *Pecut pecut pecut!*

Saturday, July 14, 2018

Membangun Self-esteem Anak Sensitif


Menyambung dengan topik anak sensitif yang pernah ditulis sebelumnya, salah satu kunci untuk membesarkan anak sensitif adalah membangun harga diri anak atau self-esteem. Bagaimana cara orang tua untuk membangun self-esteem itu?

1. Berikan contoh oleh orang tua
Kadang di lingkungan luar, kesensitifan anak dapat dianggap aneh atau tidak biasa. Hal ini dapat mempengaruhi pandangan anak terhadap dirinya sendiri, dengan menganggap dirinya aneh atau menjadi tidak percaya diri. Orang tua perlu yakin jika pandangan anak sensitif itu aneh hanya pendapat saja. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Orang tua juga harus percaya diri untuk memiliki anak sensitif.

2. Kata-kata yang berharga
Akui kesensitifan anak. Akui bahwa kesensitifannya tidak membuatnya menjadi lebih buruk dari anak lain. Puji sifat sensitifnya, perhatian terhadap detail atau berempati tinggi, itu adalah kelebihannya yang patut dimiliki.

3. Habiskan waktu bersama anak
Psikiater anak merekomendasikan untuk membersamai anak setengah jam setiap hari. Biarkan anak yang memilih permainannya, orang tua hanya mengikuti. Ini dapat menyembuhkan luka, seperti rasa sedih karena bersalah atau rasa malu.

4. Hargai anak
Hargai perasaan anak, kebutuhannya, pendapat, pilihan dan keputusan. Meskipun pilihannya salah, hargai keinginannya dalam memilih. Misal, "Ibu tahu kamu sangat suka kue, tapi kamu harus makan dulu." atau "Iya, main ke taman memang menyenangkan, tapi ini sudah malam, sudah waktunya tidur."

5. Bantu anak mengenali dirinya dalam berhubungan dengan orang lain
Anak sensitif perlu belajar jika tidak semua orang seperti dirinya. Kadang orang lain mengatakan sesuatu yang tidak mereka maksudkan, berbuat impulsif, atau tidak semua orang bisa membaca hal yang tersirat. Untuk orang-orang seperti ini, anak perlu latihan untuk mengungkapkan pendapatnya atau apa yang sebenarnya ia inginkan.

6. Ungkap kekuatan ketika anak mengalami kegagalan
Ketika anak sensitif mengalami kegagalan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah akui perasaannya. Lalu, ceritakan hal serupa yang bisa menunjukkan kekuatannya. Misalnya, "Adik sedih ya tidak dapat juara menggambar. Tidak apa-apa, kemarin adik kan sudah menang lomba menari bersama teman-teman." Tidak perlu berlebihan dalam memuji, ungkapkan pendapat orang tua dengan tulus.

Baru satu kunci pengasuhan yang dibaca tapi sudah banyak PR yang harus dilakukan. Bukunya juga masih banyak halaman yang belum dibaca. Mudah-mudahan bisa ditulis lagi di lain kesempatan.

(Dirangkum dari buku The Highly Sensitive Child oleh Elaine Aron)

Friday, June 22, 2018

Book Review: Yuk, Jadi Orangtua Shalih!

Di zaman now, arus informasi mengenai parenting mengalir sangat kencang. Banyak pakar parenting yang muncul di luar sana, orang tua tinggal pilih mau ikut madzhab mana. Adalah Abah Ihsan yang cukup populer dengan pelatihan Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)-nya. Pelatihan ini disenangi karena umumnya yang menjadi orangtua belum dibekali dengan ilmu yang mumpuni dalam pengasuhan anak. Abah Ihsan pun menerbitkan buku parenting yang terdiri dari 2 jilid, kali ini yang akan saya rangkum adalah buku jilid pertama Yuk, Jadi Orangtua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih.



Seperti judul buku, Abah Ihsan mengajak kita untuk mengevaluasi diri dahulu sebelum menghadapi anak: menjadi orangtua shalih terlebih dahulu sebelum meminta anak shalih. Karena keteladanan sangat penting dalam pengasuhan anak.

Menurut Abah Ihsan, sesungguhnya orangtua telah diberi lima karunia sebagai modal dalam pengasuhan anak:

1. Karunia Belajar
Belajarlah sebagaimana anak belajar. Setiap tahapan pertumbuhan anak, anak belajar dengan caranya masing-masing. Penting bagi orangtua untuk melihat dari 'kacamata' anak. Jika anak sedang bermain, sesungguhnya ia sedang belajar. Jika ia senang mengacak-acak isi tas, ia sedang melatih otot tangannya, sensorinya, dan koordinasi mata dan tangannya. Jika orangtua mengerti hal ini, tentu orangtua tidak akan buru-buru memarahi, yang malah akan menghambat proses belajarnya anak.

2. Karunia Konsistensi
Tidak jarang orang tua melonggarkan aturan karena alasan lelah atau anak merengek tak habis-habisnya. Konsistensi adalah salah satu kunci dalam pengasuhan anak. Konsistensi memberi anak rasa aman dan membantu anak merasa bertanggung jawab karena tahu apa yang diharapkan dari dirinya. Konsistenlah antara ayah dan ibu, konsisten dalam aturan, konsisten dalam rutinitas, konsisten antara kata dan perbuatan orang tua, dan konsisten dalam larangan.

3. Karunia Kiblat
Kiblat di sini maksudnya fokus. Kadang orang tua lupa untuk memfokuskan pada hal-hal yang lebih baik. Jika anak melakukan kegagalan dan orang tua fokus pada kegagalan itu. bisa berdampak negatif pada anak. Fokuslah pada keberhasilan, bahwa kegagalan adalah proses menuju keberhasilan. Fokuslah pada kelebihan, bukan kekurangan. Fokuslah pada solusi, bukan masalah.

4. Karunia Mendengarkan
Ada alasan Allah SWT menganugrahkan dua telinga dan satu mulut. Dengarkan dengan baik sebelum bereaksi (berbicara). Pertama, dengarkan diri sendiri. Telusuri diri orang tua adakah luka-luka masa kecil yang belum selesai. Selesaikan dan berdamailah. Dengarkan pasangan, komunikasi yang baik dengan pasangan menjadikan orangtua tim yang kuat untuk menghadapi berbagai masalah. Dengarkan anak, pahami kebutuhan dan kesulitannya. Berempati dan hargai perasaannya.

5. Karunia Al Shaffat
Komunikasi efektif adalah salah satu kunci penting dalam pengasuhan anak. Untuk membangun komunikasi efektif antara orangtua dan anak yang bisa dilakukan di antaranya adalah komunikasikan penerimaan. Setelah orang tua mendengarkan anak (karunia mendengarkan), orang tua menerima dan paham perasaan anak sepenuhnya. Penerimaan dari orang tua membuat anak lebih mudah berbagi permasalahan yang dihadapinya. Tidak lupa menggunakan kalimat positif dalam penyampaian kepada anak (karunia kiblat).

Yang saya senangi dari buku ini tidak banyak teori parenting yang bertele-tele. Di buku pertama ini, Abah Ihsan menjabarkan panduan-panduan praktis dalam berinteraksi antara orangtua dan anak, dengan disertai studi kasus yang dekat dengan keseharian. Kalau dibaca sepertinya mudah ya tapi prakteknya bisa lain ceritanya. Tetap semangat!

(Gambar dari auladi.net)

Sunday, June 03, 2018

Flashes of Life (Antologi)

Alhamdulillah, akhirnya setelah 12 tahun, bikin buku lagi! Hehehe.


Seperti yang pertama, bukunya antologi, kroyokan dengan yang lain, karena belum sanggup bikin sendiri. Kali ini genrenya fiksi, lebih tepatnya flash fiction.

Apa sih flash fiction?

Flash fiction adalah cerita yang sangat pendek yang umumnya selesai beberapa menit saja, in a flash! Karena ceritanya yang sangat pendek, untuk membuat flash fiction ini lebih menarik, biasanya dibuat plot twist yang bikin 'nendang'. Awal pengerjaan buku ini dari kulwhapp tentang flash fiction yang diakhiri dengan challenge ke peserta untuk membuat flash fiction. Iseng-iseng kirim, eh ternyata diterima!

Di buku Flashes of Life (FoL) ini mengangkat tema kehidupan manusia dari anak-anak, dewasa, masa tua, hingga kematian. Engga nanggung-nanggung, ada 99 cerita yang bisa dilahap!


Dan saya cuma kebagian satu cerita. Hahahaha.

Penasaran?

Beli bukunyaaa! :D

Bisa langsung pesan ke penerbit di sini. Selamat menikmati! :)