Tuesday, January 24, 2006

sembilan belas

semoga diri ini semakin menyadari akan berkurangnya hidup di dunia ini sehingga bisa memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.
semoga apa yang sudah dilakukan bisa membawa manfaat bagi diri ini dan orang lain.

amin.amin.amin.

sembilan belas.

tahun depan, udah berkepala dua.
hmm...tahun depan, kepalaku yang satu lagi tumbuh dimana ya? :P

tampaknya, gw memulai hari ini dengan tidak begitu bagus:
ibu: "Rani...selamat ulang tahun ya...berapa IP kamu?"

aaarrrrrgggggghhhhh....!!!!!!!


home

Saturday, January 21, 2006

baik dan buruk

"eh, kamu dapet apa?" jari sambil mencari nama teman disebelahnya.
"wah, dapet C. Ga usah ujian lagi dong..."
"udah deh. Dimana-mana juga pasti ada yang baik ama yang buruk."

termenung sebentar.

bener juga. apa yang kita alami, baik atau buruk, menyenangkan atau menyedihkan, yang paling penting adalah bagaimana kita mensyukurinya, mengatasinya, menghadapinya, mengambil hikmah dari peristiwa tersebut, dan menyimpan hikmah itu dalam memori sebagai bekal dalam melanjutkan hidup.

simpel kan? :)


home

Sunday, January 15, 2006

last one...



Yup, one hundred thousands tooth!
(maksute bayar ke dokternya 100 ribu gituh)

may tooth rest in peace.

*pictures taken from SE T610


home

Tuesday, January 10, 2006

sekrup-sekrup kapitalis

beberapa waktu lalu, gw diberi kesempatan untuk berdiskusi (lebih tepatnya mendengarkan karena gw cuma bisa ngangguk-ngangguk doang) dengan salah seorang, let's say, aktivis kampus lah. kami bertanya-tanya mengenai apa saja sih permasalahan yang terjadi di sekitar kita, khususnya kampus?

menurut beliau, permasalahan pertama yang paling terlihat adalah pragmatis. memang beda kalau ngomong dengan aktivis. banyak menemukan kosakata baru. hehehe...

pragmatis secara kasar artinya adalah ingin cari gampangnya aja. misalnya, jika ada masalah cari solusinya yang gampang aja. padahal engga semua persoalan bisa diselesaikan dengan cara seperti ini.

kedua, kecenderungan mahasiswa sekarang yang apatis. kosakata baru lagi. apatis disini maksudnya cenderung tidak peduli dengan lingkungannya. kejamnya, hanya memikirkan diri sendiri. SO, bukan study-oriented tapi self-oriented. kok bisa ada yang kayak gitu? setiap ada pertanyaan ini pasti jalan pemikirannya: oke lah, hidup itu pilihan. kalau dia memilih untuk bersikap apatis trus emang kenapa? suka-suka dia dong.

ada perkataan beliau yang cukup membuat gw terpana.

"jadi kita belajar terus, selesai tepat waktu, ip bagus, kerja di perusahaan terkenal, gaji dollar. pada akhirnya, kita hanya akan menjadi sekrup-sekrup kapitalis!"

sekrup-sekrup kapitalis. gw suka kata-kata itu :D (bukan berarti gw suka menjadi sekrup..)

"iya kan? semua ini adalah mesin besar kapitalis dan kita hanya menjadi sekrup-sekrup yang membuat mesin ini berjalan."

gw jadi teringat sama fenomena sekarang. tidak ada kaderisasi. anak-anak 2005 seakan-akan 'dituntut' untuk menjadi study-oriented. engga boleh ikut ini, itu. bahkan lapangan rumput yang biasa menjadi tempat OSKM dilaksanakan sekarang udah ada plang gede, "Dilarang Menginjak Rumput". Keliatan banget usahanya supaya panitia OSKM engga bisa pake lapangan rumput itu lagi.

gw jadi teringat lagi ama kata-kata senior gw di suatu forum. kira-kira begini:

"kita hanya akan menjadi sebuah produk output dengan cap ITB."

produk. barang.

jadi teringat juga ama baligo yang pernah dipajang di depan gerbang kampus. something like "penjaminan mutu". gw bingung liat baligo itu. mungkin gw salah mengartikannya tapi yang ada di pikiran gw, nanti ketika kita akan lulus, kita akan di-tes apakah "mutu" kita terjamin atau tidak. oalah.

bener-bener produk. bener-bener barang.

hellooooo...gw kan manusiaaaaa...

balik ke perkataan temen aktivis gw ini tentang sekrup-sekrup kapitalis. meskipun terdengar begitu negatif tapi, engga usah munafik, semua orang juga mau kalau lulus tepat waktu, ip bagus, gaji dollar.

terkadang gw berpikir bahwa saat ini kita begitu idealis. apakah nanti setelah lulus kita masih tetap berpegang pada idealisme seperti ini? apalagi kalau kita udah berkeluarga. udah punya buntut yang kudu diurusin. apakah idealisme ini masih akan ada?

dulu, bapak gw pernah cerita. katanya, sewaktu menjadi mahasiswa memang idealisme itu ada tapi ketika keluar kampus untuk sebagian orang (entah sebagian kecil atau besar) idealisme itu akan menguap.

liat aja, yang sekarang jadi pejabat pastinya pernah jadi mahasiswa dong? tapi korupsi juga.


home

cintapuccino

ya,ya,ya. i know.
pasti komentarnya:
"harii geneee baru bacaaa?"
hehehe. maap deh :P

penasaran pengen baca soalnya sering baca profile orang di friendster kalau fav.book-nya buku ini. disini engga maksud untuk review about the book but i just want to write about something that came up in my mind when i've finished it.

asumsi: orang-orang udah pada tau dan udah pada baca

ada dua hal yang ada dalam pikiran gw:
pertama: buku ini engga gw banget. karena gw engga pernah mengalami hal serumit itu. hehehehe..
kedua: gw lebih milih Rahmi dengan Raka. kenapa? karena huruf pertama nama mereka sama..hahahaha...silly. serius: kenapa? karena menurut gw, Rahmi lebih cocok dengan Raka ketimbang Nimo. kenapa? karena..karena...pikiran gw terjebak dalam dongeng "pangeran dan putri yang terpisahkan oleh orang jahat akhirnya bertemu kembali and they live happily ever after."!

di ujung cerita gw bener-bener berharap kalau mereka kembali rujuk meskipun harap-harap cemas jangan-jangan ceritanya berbeda dengan apa yang gw inginkan. ketika Rahmi memang memilih Nimo, gw baru sadar kalau Rahmi dan Raka rujuk maka cerita ini akan menjadi cerita biasa. tentunya seorang icha rahmanti tidak ingin ceritanya menjadi cerita biasa aja bukan? seperti dongeng yang tadi udah gw tulis. seumpamanya cerita itu memang seperti dongeng maka gw pasti akan ngomong: ceritanya klise banget.

terdengar begitu sinis padahal gw sendiri pengen akhir ceritanya seperti itu.

pasti pernah dong baca buku dan endingnya engga sesuai dengan keinginan kita? seharusnya si ini ama si itu. seharusnya si itu engga boleh mati tapi si ini yang mati. sadar engga kalau seperti itu berarti pikiran kita memang ter-frame dengan sesuatu yang sempurna. pikiran kita menolak sesuatu yang berbeda.

ternyata <-- sedikit penekanan pada kata ini, pikiran gw masih belum menerima suatu cerita/hal yang berbeda dengan yang biasanya. termakan oleh dongeng itu. dongeng yang terlalu sempurna(!).

ujung-ujungnya...

please, it's just a story :P


home

Friday, January 06, 2006

horrible...

hari ini gigiku ompong satu.

sedih? tentu.

percayalah, apa yang dikatakan orang kalau gigi dewasa dicabut engga sakit, itu hanya omong kosong belaka.

want a detail? no? dont read rest of this entry then, cause i will tell the detail.

1. Suntik gusi bagian dalam dan luar, masing-masing dua kali.
2. Tunggu sebentar sambil dokter memilih tang(!) mana yang akan dipakai untuk mencabut gigi itu.
3. Tangan dokter akan terbagi menjadi dua tugas. Satu tangan memegang rahang, tangan yang lain akan memegang tang(!).
4. Kemudian dokter akan mulai menyelipkan tang(!) itu diantara kedua sisi gigi dan mulai menggoyangnya.
5. Pertama dokter akan menggoyang gigimu dengan pelan kemudian semakin cepat. Kamu akan merasakan dan mendengar bagaimana gigimu perlahan-lahan tercabut dari gusimu.
6. Semua ini tidak akan memakan waktu yang lama, kira-kira 30 detik
7. Selesai 30 detik maka kamu akan melihat dokter mengeluarkan gigimu beserta akarnya keluar dari mulutmu.
8. Pasti kamu akan disuruh berkumur dan kamu akan melihat yang keluar dari mulutmu berwarna merah(!)
9. Dokter akan meletakkan kapas yang sudah dibubuhi obat di gusimu yang sudah bolong itu dan menyuruh kamu untuk menggigitnya.
10. Dokter akan mengatakan bahwa kapas itu boleh dibuka setelah setengah jam.
11. Setelah setengah jam, jika cairan merah itu masih keluar, buang dari mulut secara perlahan.
12. Jangan hisap gusimu yang bolong(!)
13. Dokter akan memberikan resep antibiotik dan obat penahan rasa sakit.
14. Beberapa menit kemudian, kamu akan merasakan gusimu mulai nyut-nyutan.

farewell tooth.

minggu depan, gigiku ompong satu lagi.

<< home