Wednesday, April 30, 2008

manquer

ID :
password :


dengan lihai, Ra memasukkan id dan passwordnya ke layanan messenger. suatu gerakan reflek yang dilakukan ketika menggunakan komputer yang terhubung dengan internet.

ra is now online

scroll. scroll.

ah, ada!
sedang online juga rupanya...

mouse ia arahkan ke id yang sedang online itu.
klik.
kotak biru muncul membungkus id tersebut.

Ra tercenung di hadapan jendela messenger. cukup lama Ra memandangi komputer, menggali konversasi-konversasi yang pernah terjadi dalam ingatannya.

candaan. hinaan. tawa. hingga marah.

senyum simpul menghiasi wajah Ra. sudah lama ia tak mengobrol dengannya.

apa kabar kamu?

beberapa detik Ra ragu, tetapi akhirnya menekan id itu dengan kursor dua kali.

klikklik.

sebuah window private message muncul.
kedip-kedip kursor menunggu untuk mengeluarkan kata.
Ra terdiam.

tidak. tidak. tidak boleh, Ra! you know that!

segera Ra menutup window yang baru muncul itu.

huuff...

kembali Ra menatap id yang masih terbungkus kotak biru, mengukir id itu di dalam pikirannya.

"semoga kita bertemu di dimensi waktu yang lain..."

home

Tuesday, April 29, 2008

230408

minggu kemarin, di salah satu matakuliah, dosen saya mendatangkan seorang tamu, yaitu seorang wartawan di koran lokal bandung. beliau ini bukan pekerja tetap, masih berstatus freelancer di koran itu tapi katanya sih jadi pengasuh tetap sebuah rubrik.

hal pertama yang beliau tekankan dari pertemuan kemarin itu adalah menulislah dari hati. tulislah apa yang ingin diungkapkan tanpa menghilangkan tujuan dari tulisan itu sendiri. agak sulit sih sebenernya. apalagi kalau apa yang mau diungkapkan berseberangan dengan tujuan tulisan. TA misalnya. inginnya memaki-maki, ya ga mungkin dong ditulis di file TA itu :P

"ayat pertama dalam agama jurnalisme adalah jurnalisme untuk masyarakat."

dalam membuat tulisan, tentukan apakah ingin membuat masyarakat menjadi berpikir, berperang, atau menjadi bodoh? bukan hanya sekedar memenuhi keinginan masyarakat ingin mendapatkan informasi seperti apa.

lalu, tidak ada objektivitas dalam jurnalisme. putuskan mau berpihak kemana dan menulislah sesuai keputusan itu. dan menjadi jurnalis harus 'tercebur' tanpa 'terbawa arus'. contoh menarik yang disampaikan adalah ketika meliput topik mengenai gay. meliput tentang gay bukan menulis 'dari jarak satu/dua meter' tapi kenali gay itu, dalami kehidupannya. tapi perlu berhati-hati, karena "gay itu menular!".

"ada suatu paduan suara dari universitas ternama di bandung yang semua laki-lakinya gay. tapi ketika mereka lulus, semuanya menikah dengan perempuan. ketika ditanya apakah masih gay, mereka bilang, engga."

ckckckck...so, beware, you guys! ;))

dari penjelasannya juga saya sadar lagi kalau peran media itu sangat kuat dalam mempengaruhi masyarakat. contoh peran media yang membuat masyarakat berperang adalah mengenai konflik di poso. peran media sangat penting karena sebenernya masyarakat dipanas-panasi oleh media. media yang ditunggangi oleh oknum-oknum biadab! *saaah..*

yang terakhir, menulislah dengan bahasa yang semua orang mengerti. setuju banget. percuma aja nulis dengan bahasa tinggi-tinggi, tapi orang ga ngerti, ya engga sampai juga apa yang ingin disampaikan lewat tulisan itu. ya kan?

"misalnya, seperti (beberapa) tulisan Goenawan Mohammad. kayaknya hanya Tuhan dan dia saja yang mengerti."

hahahaha...kayaknya sih gitu :P

home

Wednesday, April 09, 2008

sign

Tuhan bekerja dengan cara yang tidak biasa.

saya percaya itu.

suatu ketika, saat saya bingung-bingung-pusing-pusing ngerjain tugas akhir, hingga tahap bertanya-tanya kenapa harus ada tugas akhir dan kenapa-kenapa yang lainnya, saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan ngemil.

enak-enak ngemil sampai hampir habis, saya melongok ke dalam bungkus cemilan.

dan tertegun.



pake capslock lagi.

baiklah.

SEMANGAT!

home

Wednesday, April 02, 2008

satu setengah jam

cerita ini basi-basi-basi banget tapi saya baru sempat untuk mem-publish-kannya sekarang :P

beberapa minggu yang lalu, di kampus saya ada acara yang mendatangkan andrea hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi. satu auditorium penuh sesak oleh mahasiswa, termasuk saya. well, i have to meet the writer whom his books i found interesting and worth to read when i have the chance ;)

dari acara satu setengah jam itu, ada beberapa hal yang terendap dalam pikiran saya ketika itu. salah satunya adalah saat bang andrea mengajak mahasiswa untuk menulis, untuk menjadi penulis sastra, karena sastra sekarang sedang bergairah. Penulis sastra yang berhasil ketika diundang menjadi pembicara di acara/seminar, bayarannya bisa setara dengan pembicara bisnis!

well,well,well...

speaking of that, saya jadi teringat mengenai satu hal yang menganggu pikiran saya beberapa waktu sebelumnya.

saya masih ga ngerti atau masih belum memutuskan apakah menjadi penulis itu menjadi pekerjaan yang menjanjikan atau tidak. saat saya berpikir: "ya, jadi penulis itu menjanjikan..", di saat yang sama, pikiran saya akan menambahkan kata 'tapi' di belakangnya. "..tapi jika kamu itu penulis yang hebat. if you're a good, great one."

saya setuju bahwa menjadi penulis itu menjanjikan ketika saya melihat orang-orang yang memang berhasil dalam tulis-menulis. J.K.Rowling, misalnya. bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia karena bukunya. but she's one in a million! kalo orang lain nyebutnya, itu hoki!

berapa banyak penulis lain yang pendapatannya ga sama kayak J.K. Rowling dan mungkin nasibnya mirip-mirip sama Rowling sebelum bukunya meledak? engga terdeteksi. saya rasa banyak banget.

contoh lainnya, salah satu dosen saya udah punya banyak tulisan yang dipublikasikan dan memang bidang keahliannya disana, bidang tulis menulis dan kebudayaan. dari penampilannya saat di kelas, saya rasa beliau sangat tercukupi kebutuhannya. dengan kata lain, beliau berhasil mencukupi hidupnya dengan pekerjaannya sekarang yang sebagian besar ya menulis itu.

yang membedakan mereka berdua dari penulis-penulis lain, menurut saya, adalah ide yang mereka miliki. untuk menjadi penulis yang berhasil, kita harus punya ide yang memang bagus, kreatif, beda serta penyampaiannya pun harus menarik. dan saya pikir, itu ga gampang.

di kehidupan saya, menjadi penulis itu bukan pekerjaan. pandangannya, menjadi penulis itu ga layak untuk menjadi mata pencaharian. kasarnya, gimana bisa hidup kalo nulis doang?

teringat pada satu film norwegia yang cerita tentang dua orang pemuda yang menjadi penulis. masih muda tapi sudah bertekad untuk menulis, menjadikan sebagai mata pencaharian karena saya ga melihat mereka mengerjakan hal lain. how can they be so sure?

*start of oot*
hal menarik di film itu, saat masih sekolah mereka menggunakan uang makan siang untuk membeli buku! sepertinya yg kayak gitu disini masih jarang banget. masih milih beli makanan daripada laper karena buku ga bisa dimakan. masih milih mengisi perut daripada mengisi kepala. termasuk saya.
*end of oot*

di kehidupan saya, menulis diarahkan hanya menjadi hobi, bukan hal yang primer.

tapi bagaimana ketika saya hanya ingin menulis?
tapi bagaimana ketika saya hanya bisa menulis?
menulis hal ga mutu..

hal lain yang mengganggu pikiran saya ketika hadir di diskusi bersama bang andrea, yaitu masalah pendidikan. bang andrea menyebutkan sistem pendidikan sekarang memaksa kita untuk menjadi oportunis. kesempatan (dalam pendidikan) yang ada tidak sebanyak orang yang menginginkan kesempatan itu.

ketika beliau menyebutkan contohnya, saya tertohok karena saya termasuk yang oportunis itu. contoh yang diberikan oleh bang andrea persis banget. saya berasal dari SMA x yang disebutkan oleh bang andrea, saya belajar di bimbel untuk lulus SPMB buat masuk kampus ini, dan orang tua saya mengarahkan untuk kerja di tempat yang disebut oleh bang andrea.

sistem pendidikan memaksa kita untuk menjadi seperti itu. lantas, apakah menjadi oportunis menjadi sebuah kesalahan? saya rasa tidak. saya namakan itu bertahan hidup :D

lalu bang andrea mengatakan sebagai solusi dari sistem pendidikan seperti ini adalah dengan melaksanakan KB. yang saya tangkap dari solusi ini, dengan lebih sedikit orang maka tiap orang bisa mendapatkan kesempatan yang ada. berhubung saya ingin punya lebih dari dua anak, saya rasa ada solusi lain selain KB. penyamaan mutu pendidikan mungkin? masing-masing sekolah yang ada di indonesia ini memiliki mutu pendidikan yang sama. jadi, orang-orang ga akan berbondong-bondong untuk mencoba masuk ke salah satu sekolah aja.

yaa..tiap orang punya pendapatnya masing-masing sih :)

home