Saturday, December 13, 2014

#TantanganMenulisKPP


Okay, that's it. I am done.

Aku arahkan kursor ke arah tombol 'Send'. Artikel terakhir ini aku kirimkan ke editor yang sudah mencaciku dari berjam-jam yang lalu. Seperti biasa, aku mengirim artikel saat injury time dari deadline. Hei, bukan aku yang ingin artikel ini untuk selesai jam segini. Salahkan si angkuh Diva yang sulit sekali untuk dicari. Tentu saja meskipun begitu aku tetap meminta bantuan dari jaringan informanku untuk cari tahu gosip tentang si Diva.

Jam di meja menunjukkan pukul 10 malam. Masih belum terlalu larut bagiku. Aku memindai email-email yang masuk ke inbox. Beberapa dari redaksi, terkait penerbitan majalan minggu ini. Satu, dua email spam masih tidak terfilter. Beberapa email lelucon dari teman-teman kerja. Sisanya, seperti biasa, email-email hujatan atas artikel yang aku tulis.

Halo Lena,

Apa kamu tidak punya kerjaan lain selain menulis artikel-artikel bullshit?

Your meanest enemy,
Rina


Dear Lena,

Try to eat your own articles. How does it taste?

Leo

Hmm, baru pertama kali Leo sang aktor mengirim email kepadaku. Tampaknya gosip yang aku tulis tentang dia sangat mengena. Tiba-tiba ada yang mencolekku dari belakang. Aku terkaget menoleh.
“Gio! Kebiasaan deh!”

Gio hanya terkekeh. “Habisnya, serius banget sih lihat emailnya. Sasaran empuk buat dijailin!” Ia memperlihatkan cengirannya yang paling lebar.
“Lihat apaan sih?” Gio menarik kursi dan duduk mendekat. Aku hanya menunjuk ke arah monitor.
“Oh, surat-surat cinta pembaca lo ya?”

Aku menghela nafas.

“Gue tahu kadang artikel yang gue tulis banyak orang yang merasa terganggu. Tuntutan kerja. Tapi setelah bertahun-tahun kayak gini, kayaknya gue sudah muak dengan reaksi orang-orang.”
Gio hanya mengangguk-angguk.

Ponselku bergetar. Ada pesan masuk.

Mama
Lena, kamu dimana? Msh di kantor? Hati2 pulang. Kalo kamu punya pacar, jam segini kan bisa diantar pulang.

Ugh. Itu lagi, itu lagi yang diungkit. Mama, mama. Tak bisakah Mama melupakan hal ini?

“Siapa?” tanya Gio.
“Mama.”

Gio merebut ponselnya dari tanganku. “Hei, Gio!” seruku. Gio membaca pesan dari Mama lalu ia tergelak.

“Lena, Lena. Hal seperti ini masih saja diributkan?”

Aku mengalihkan pandangan ke monitor. Menggerak-gerakkan kursor asal-asalan.

“Mau coba blind date?”

Aku menoleh. “Maksud lo?”

“Iya, blind date. Biar Mama lo senang sementara.” Gio memperlihatkan cengiran lebar khasnya lagi.

Aku berpikir sebentar. Tidak ada salahnya mencoba. I got nothing to lose anyway.

“Ok. Caranya?”

“Besok malam kosong? Nanti gue kasih tahu jam berapa dan dimana ketemunya. Ok?”

“Ok.”

“Ok. Yuk pulang? Kasihan Mama lo khawatir kalau lo pulang sendiri.” Gio dengan seenaknya membereskan barang-barangku dan berjalan ke arah pintu keluar.

Aku mematikan monitorku dan berjalan mengikutinya.



Jam tujuh malam tepat aku sampai di salah satu kafe terkenal di kota ini. Aku menyisir satu-satu pengunjung yang duduk sendiri dan sesuai dengan ciri-ciri yang Gio berikan padaku. Seorang pemuda berbaju coklat tampak memperhatikanku dari jauh. Rambut cepak, kemeja coklat. Sepertinya dia yang aku cari.

“Hai, Neno ya?” tanyaku ketika mendekati. Ia tersenyum menyambut jabat tanganku.

Setelah itu, perkenalan kami berjalan dengan lancar. Setiap obrolan mengalir dengan Neno. Tampaknya, aku suka padanya.

Di akhir pertemuan, ketika kami berpisah di rumahku, Neno membisikkan sesuatu.

“Maaf ya, aku tidak bilang ini dari awal.”

Aku bingung dengan perkataannya.

“Maksudnya?”

“Aku,” Neno mengambil napas pendek, “gay.”

Aku mematung. Sebuah suara menggema di kepalaku. “GIO SIALAN!”

Sunday, November 09, 2014

#20

“Blok M! Blok M!”
“Ayo, duduk duduk! Sudirman! Sudirman!”
“ Ayo Bu! Mbak! Masuk masuk!”
“Kosong di belakang, Pak!”

Keriuhan pagi yang telah dikenal Kirana bertahun-tahun. Ia menaiki Kopaja yang akan membawanya ke kantor di daerah perkantoran Sudirman. Sebagai alat transportasi terbanyak yang ada di ibukota ini, Kopaja menjadi transportasi yang umum digunakan oleh penduduk Jakarta. Tarifnya yang relatif murah dibanding Transjakarta juga menjadi salah satu alasan bus-bus ini tetap dipertahankan di jalanan.

Kirana memilih-milih kursi yang akan didudukinya. Sebagian besar busa kursi telah tercerabut, menyisakan sebagian kecil kursi mulus yang layak diduduki. Meskipun bentuk busnya sudah hampir tidak bisa dibilang layak, Kirana tetap memilih Kopaja yang mengantarkannya setiap hari. Memang sedikit tidak nyaman dengan kurangnya perawatan tapi dengan armadanya yang masih lebih banyak dibanding Transjakarta, Kirana bisa lebih cepat sampai di kantor. Kopaja yang dijuluki oleh salah satu media online sebagai The King of the Road mampu menerobos kemacetan-kemacetan dibandingkan transportasi roda empat lainnya.

Kirana memilih kursi kedua dari belakang, menjauhi jendela. Duduk dekat jendela sama saja dengan membiarkan polusi untuk terhisap lebih mudah. Kirana membuka kantong kecil tasnya dan tak menemukan maskernya. Aduh, maskernya dimana? Kirana mengaduk-aduk isi tas. Masker sudah menjadi barang yang sering dipakai oleh penduduk Jakarta yang ada di jalanan. Semakin lama polusi tidak semakin berkurang.

Ah, kemarin disimpan di meja, lupa dimasukin lagi! Kirana teringat yang dilakukannya tadi malam.
Trrrt. Trrrt. Trrrt.
Ia meraih ponselnya yang bergetar dari dalam tas.

From: Pak Andri (Work)
 Sebelum meeting nanti, saya ingin melihat berkas-berkasnya dulu. Bisa ketemu sebelum jam 9:30?
Jam di pergelangan kanan Kirana menunjuk angka 7:30. Ok, masih ada waktu.
Baik, Pak. Kirana membalas singkat.

Hubungannya dengan Pak Andri memang tidak terlalu bagus di proyek ini. Semuanya diawali dengan permintaan vendor untuk mengubah jadwal pekerjaan mereka agar dimundurkan waktunya. Kirana tidak setuju karena kemunduran pekerjaan ini semata-mata karena keteledoran vendor sendiri. Seharusnya mereka menerima penalti sedangkan Pak Andri membela habis-habisan vendor tersebut.
“Tapi mereka itu sudah menjadi partner kita sejak lama, Na! Give them a break!”
“Justru karena mereka itu sudah lama jadi partner kita, bukan berarti mereka bisa seenaknya mundurin jadwal. Profesional dong! Kita sudah banyak menerima komplain karena pekerjaan mereka yang engga selesai!”

Kirana teringat pembicaraannya dengan Neno di kafe Langit Biru sepulang dari kantor kemarin malam. Neno, salah satu kolega Kirana, mengetahui konflik antara Kirana dan Pak Andri berusaha menengahi demi kelancaran proyek perusahaan mereka.
“Gue engga ngerti dengan Pak Andri ini – ADUUH!“
Teh pesanan Kirana tertumpah di meja karena keteledoran waiter yang mengantarkan pesanan. Air teh terciprat ke pangkuan Kirana.
“Maaf, maaf, mbak!” Sang waiter berusaha membersihkan tumpahan teh yang terciprat ke rok Kirana.
“EH! Biar saya bersihkan sendiri! Gimana sih mas, matanya lihat yang bener dong! Pesenan datangnya lama, malah ditumpahin!” Kirana menyambut tisu pemberian Neno dan membersihkan roknya.

Sang waiter meminta maaf berkali-kali, “Maaf, mbak, maaf mas! Biar saya ambil lagi pesanannya! Maaf mbak!” Setelah membersihkan teh yang tertumpah, sang waiter segera kembali ke dapur.
“ARRGHH! Kenapa engga ada yang bener kerjaan orang-orang sih, Nenoooooo???” tanya Kirana gemas.

Neno hanya tergelak. 

***

Dengan gontai Angkasa berjalan ke arah halte bus. Baru saja dia menyelesaikan shift malam di kafe Langit Biru, tempat part-timenya. Meskipun hitungannya kerja part-time, akhir-akhir ini dia bersedia mengambil waktu lebih di kafe 24 jam itu. Demi mendapatkan ekstra uang, tentunya.

Pandangannya teralih ke baliho besar di seberang jalan. Ah, terpampang ponsel yang diidam-idamkannya selama ini. Tertulis pula rayuan-rayuan telco provider untuk pembeli. Setiap hari melihat baliho itu, Angkasa akhirnya termakan rayuannya.

Sebentar lagi, kamu ada di genggamanku, Sayang!

Triing. Ponsel di sakunya tiba-tiba berbunyi.  Ada pesan dari Andi.

Sa, udah pulang blm?
Blm. Lg nunggu kopaja.
Jd ga beli hp barunya? Kmrin si Tito udh pamer2 bawa hp baru
Jadi! Liat aj tgl mainnya!

Darah Angkasa sedikit mendidih. Tito! Anak itu punya ponsel nyicil aja pamer!

“Blok M! Blok M!”

Kopaja yang ditunggu Angkasa sudah datang. Dengan sigap Angkasa naik lewat pintu depan Kopaja dan menyisir pandangan mencari kursi yang bisa ia duduki. Triiing. Tidak ada tempat duduk yang kosong, Angkasa terpaksa berdiri. Triiing. Ia menoleh ke ponsel yang ada di tangannya. Pesan dari Andi muncul lagi.

Sa, kmren ditanyain Sita.
Katanya knapa smsnya g dibls?
Duh, ga punya pulsa. Cuma bs bbm doank

Angkasa mencoba mengetik sambil menyeimbangkan tubuhnya di Kopaja yang sedang mengebut. Sudah hal yang biasa mendapati bis Kopaja mengebut meski jalanan ramai di pagi hari. Ada banyak keterampilan yang diperlukan untuk bisa selamat naik Kopaja ini. Pertama, siapkan mental. Kopaja banyak melakukan manuver-manuver yang kadang membuat jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya. Kedua, harus bisa menyeimbangkan tubuh saat Kopaja mengebut. Kemampuan untuk tahu kemana badan harus condong ketika Kopaja berbelok-belok.

Ketiga, saat turun dari Kopaja, selalu gunakan kaki kiri. Penting, karena seringkali Kopaja tidak akan berhenti sepenuhnya untuk menurunkan penumpang. Dengan menggunakan kaki kiri terlebih dahulu ketika turun, tubuh lebih bisa diseimbangkan. Setelah turun, harus sadar dengan kondisi di arah sebelah kiri karena bisa saja ada motor yang sedang melaju atau mobil, jika Kopaja menurunkan penumpang di tengah jalan besar. Tak disangka naik bis tak semudah mengayunkan kaki bukan?

Angkasa memperhatikan wajah perempuan yang sedang duduk di depannya. Terasa familiar.

Mbak yang tadi malam!

Merasa diperhatikan, sang perempuan menoleh ke arah Angkasa, kedua pandangan mata mereka bertumbukan sekilas.


Mungkin orangnya engga ingat. Huh, mbak ini, kecipratan dikit aja heboh. Orang-orang itu memang suka berlebihan. Omongannya juga marah-marah terus selama di kafe. Lebay!

***

Yeaaaayyyyy, akhirnya writing challengenya selesaaaai......dalam waktu 3 tahun 9 bulan :))))) 
Cerita ini terakhir kali ditulis hampir 2 tahun yang lalu. Belum selesai, tentu saja. Tadinya cerita ini mau dikirimkan ke lomba cerpen, tapi di tengah jalan saya putuskan mengubah ceritanya tanpa menghapus cerita ini. Tema lomba cerpennya mengangkat hal unik di kota-kota Indonesia. Saya pilih mengangkat Kopaja karena waktu nulis ini memang tiap hari naik Kopaja dan baca artikel ini :))

In case you wonder, engga, saya ga menang di lomba cerpennya. Ha.ha.

Thursday, June 26, 2014

book review: Sabtu Bersama Bapak


Intinya, gw sukaaa buku Sabtu Bersama Bapak (SBB) ini! :D 

Senang, sedih dan haru semua jadi satu! Ceritanya yang mengalir membuat gw dengan mudah menyelesaikan hanya dalam waktu beberapa jam aja. Mulai baca bukunya jam 11 malam sebelum tidur. Tadinya sih rencana cuma baca beberapa halaman aja tapi malah ga bisa berhenti bacanya XD Terpaksa berhenti sekitar jam 1 karena harus tidurrr dan pagi kerjaaa dan nyiapin sarapan buat suami *uhuk*

SBB bercerita tentang dua bersaudara Satya dan Cakra yang mencoba untuk menjalani hidup mereka sesuai values yang diajarkan bapaknya. Cerita-cerita flashback menyertai Satya dan Cakra dalam penyelesaian konflik mereka. Tapi entah ini disengaja atau engga, rasanya konflik Satya kurang dibangun dan terlalu cepat solve. Bandingkan dengan konflik Cakra yang berliku, naik-turun, mendaki gunung, dan lewati lembah seperti Ninja Hattori. Mungkin karena cerita Cakra yang kocak jadi lebih memberi kesan buat gw. Mungkin juga dibuat seperti itu supaya tidak terlalu banyak konflik yang harus diselesaikan. Mungkin. Sotoy aja ini sih.

Anyway, SBB sarat pesan yang kuat dengan diselip joke-joke khas kang Adhit. *sok ikrib* Dalam beberapa hal, mungkin pandangannya berbeda dengan pandangan masyarakat kebanyakan. Bahwa hal-hal yang kita anggap benar sekarang, belum tentu sama di masa yang akan datang. Menjadi pemicu kita untuk tetap belajar dan terbuka dengan kondisi yang ada.

So, Sabtu Bersama Bapak ini wajib dibaca untuk semua orang, terutama pasangan muda yg berencana utk membangun keluarga. You will have a new perspective of what you will going through or maybe it will be a gentle reminder ;)

Tuesday, June 24, 2014

#19 rasa mati

laku tak peduli dengan hati, sudah mati rasa?
mata diam tak melihat, sudah mati rasa?
kata gores luka dalam, sudah mati rasa?
otak buta akan cahaya, sudah mati?

rasa?

Thursday, June 12, 2014

#18 Putri Tidur

Sang Putri masih tertidur dgn lelapnya. Hanya suara dan gerakan nafasnya yang meyakinkan para kurcaci kalau sang Putri masih hidup.

"Pangeran datang! Pangeran datang!" Kurcaci bungsu berseru dari depan pintu. Pangeran masuk ke dalam kamar sang Putri. Tak besar tapi cukup untuk tempat tidur sang Putri dan beberapa kurcaci yang menemani.

Kurcaci bungsu mendorong tubuh Pangeran mendekat ke pinggir tempat tidur. Kakek kurcaci menatapnya dengan lembut, "Pangeran, syukurlah sudah datang. Putri sudah tertidur cukup lama."

Pangeran menelan ludahnya. Semua kurcaci menatapnya dengan penuh harap. Kakek kurcaci mengisyaratkan Pangeran untuk melakukan tugasnya. Kurcaci-kurcaci di kamar terdiam menunggu Pangeran bergerak. Hanya Kurcaci bungsu yang melompat-lompat begitu bersemangat. Sebentar lagi aku bisa bermain dengan Putri! Begitu pikirnya.

Pangeran menelan ludahnya kembali. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan menatap wajah sang Putri. Putri tetap cantik ketika tidur, ujarnya dalam hati. Lalu ia mengalih pandangan ke bibir sang Putri. Ini saatnya.

Pelan Pangeran menunduk, memejamkan matanya dan mencium bibir sang Putri dengan lembut. Pangeran menjauhkan wajahnya dari sang Putri. Kini, Pangeran dan semua kurcaci menunggu.

Tiba-tiba mata sang Putri terbuka perlahan.  Semua kurcaci bersorak. Pangeran menghela napas lega. Putri tersenyum melihat kurcaci-kurcaci kesayangannya. Terlebih ketika melihat Pangeran. Ia mencoba meraih lengan Pangeran dan...

PLOP!

Sorak sorai terhenti seketika. Semua pasang mata terbelalak.

GROOK!

"PUTRI???" Sorak sorai berubah histeria. Aduhai, sang Putri berubah menjadi kodok!

Wajah Pangeran menegang. Ternyata kutukan itu masih ada!

Sunday, May 18, 2014

#17

So, for #17 is a question: what type of books i usually read; why?

Definitely fiction story. Wait, should i just say a story? Is that a type of book? I like a story, fiction or non-fiction. Fiction story like novel, comics. Non-fiction story like (auto) biography. Why? Because reading story is fun! A story usually has a plot to make the readers engage with the story: introduction-"rising action" where the story gets complicated-climax-anticlimax-end. If the story is really good, i would stick to it until it finished. Even better, if it has a twisted end. There is this happy feeling of the new experience by just reading the story. You know, that feeling when you just read a good book.

Probably for some people, reading a story is a waste of time, especially fiction. Why would you involve in a stranger's imagination that in some point won't happen in reality?
Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand - Albert Einstein 
Listen to the genius. Einstein won't discover what we know now if he does not have an imagination. Some sci-fi or futuristic stories with a high imagination have been inspired the scientists and engineers to implement the imagination into reality. See, fiction is good!

Monday, April 07, 2014

major update!

Ladies and gentlemen, major update: i'm married! :D
I know, I've never mentioned any thing about it for the past few months, maybe some people was surprised, maybe some had been sniffing around. It's not that I don't want to share, I guess I just don't want to jinx it. I always think along the way that there is still a chance that this wedding is not going to happen. That is just my pessimist side talking, i know. So, I chose not to write about it here. But, because the wedding is over, probably i'll write something about it later ;)




Wednesday, February 19, 2014

#16 200 words

My coffee just arrived when i caught a glimpse of her on the door. With her usual cheery smile, she walked and sat in front of me. There's something special with that smile. Maybe her pinkish cheek that went beautifully with the smile. Or maybe her eyes. I couldn't decide.

She asked about my weekend casually. Most of the times, my story was short. Then, I asked about hers. Sometimes her story was short. Many times, her story was long cause she laughed so much. How her eyes were gone every time she laughed, I could not get enough of it. She always playing with her hands when she talked. Either for supporting her story or playing with her hair.

For a long time, I dearly wanted to hold that hands.

"Hey, Rio? Are you listening?" she moved her hands in front of my face and her frown made her face looked funny. I chuckled.
"Yes, i am listening," i moved my body toward her, "You think you love this guy you've just met twice and you are gonna meet him again tonight?"
And she continued her story again cheerily.


I guess, I still need to wait a bit longer.

Sunday, February 16, 2014

book review: The DestinASEAN

Beli buku ini karena penasaran dan ada penulis yang gw kenal, @puty :D Tema tempatnya juga beda dengan yang lain, yang kebanyakan cerita di Eropa atau, yang akhir-akhir ini sangat booming, cerita ke-korea-korea-an. Selain buku Lonely Planet, rasanya gw jarang lihat ada buku yang khusus cerita tentang negara-negara ASEAN. Rasanya udah lama sejak gw mengenal negara ASEAN di buku pelajaran sekolah. Karena sebelumnya engga pernah browsing negara-negara ASEAN, baca buku ini buat gw sangat menambah pengetahuan tentang tempat-tempat yang bisa dikunjungi di ASEAN. Seru-seru juga ternyata!


Buku antologi ini memuat 20 cerita dari 11 traveller. Banyaknya penulis di buku ini juga memberikan warna tersendiri di tiap cerita. Ada cerita @puty yang kalem dan gw suka dengan gaya cerita di Ayutthaya yang beda dengan yang lain. Ada cerita @saputraroy yang kocak atau @takdos yang lucu bin garing. Ada dari @ceritaeka yang romantis, emang ye kalo lagi jalan-jalan, siapa yang nemenin itu penting banget! A deep contemplation from Adam Poskitt (part of @pergidulu) about his travel story. Banyak cerita traveling yang hanya menunjukkan tempat-tempat yang dikunjungi, hanya mengupas kulit luarnya saja. But this story from Adam shows us how travel should do more than adding more stamps on our passport.

Yang bikin surprise itu cerita-cerita dari Vietnam, Laos, dan Myanmar. Seumur-umur belum denger tempat-tempat yang diceritain di buku ini atau mungkin gw aja yang ga gaul :P Ternyata banyak tempat unik (dan menyeramkan!) yang bisa dikunjungi di negeri-negeri tetangga ini.

Dari semua cerita, ada cerita yang menurut gw tanggung, dari @venustweets di Cu Chi Tunnels. Gw baru dapat bayangan Cu Chi Tunnels seperti apa, tiba-tiba ceritanya udah selesai. Mungkin sengaja ya bikin yang baca penasaran dan jadi pengen lihat sendiri.

Terakhir yang sangat disayangkan, kenapa semua fotonya hitam-putih? Lihatnya jadi kurang wow dan kurang mendukung cerita-cerita seru penulis. Atau ini trik yang disengaja (lagi) buat bikin pembaca penasaran? Nonetheless, buku ini sukses ngasih teaser gimana gak kalah serunya petualangan di negara ASEAN :)

Friday, January 31, 2014

Ranu Kumbolo

Di trip ini gw ga hapal sama sekali itinerarynya. Ga pernah survey atau browsing kayak apa tempat yang bakal kita datengin. Takut spoiler :p Akhirnya ya ngikut aja kemana teman gw pergi :))

Perjalanan dimulai dari Stasiun Senen-Malang Kota Baru dengan kereta ekonomi Matarmaja. Pertama kalinya naik kereta ekonomi! Berangkat jam setengah 2 siang, sampai jam 7 pagi besoknya! Yuk mariiii...
Menurut cerita teman-teman yang sudah pernah pakai kereta ekonomi, sekarang kondisinya sudah lebih baik. Meskipun judulnya kereta ekonomi non-AC tapi ternyata ada ACnya. AC rumahan yang dipasang di langit-langit kereta. Lumayan lah daripada ga ada...


Hampir 18 jam di kereta, kerjanya cuma makan, ngobrol, tidur. Banyak ngelewatin stasiun-stasiun yang belum pernah dengar namanya :D Sampai di Malang, lanjut ke Pasar Tumpang, nyewa angkot. Di Pasar Tumpang, teman gw udah nyewa truk yang bakal antar kita (dan pendaki-pendaki lain) ke Ranu Pane, pos awal pendakian Semeru. Sampai detik ini, gw baru tahu kalau Ranu Kumbolo itu adanya di kaki Gunung Semeru, bukan di Bromo XD


Sampai Ranu Pane hujan turun cukup deras dan ga reda-reda. Kami tunggu sampe gerimis, dan berbekal ponco plastik, kami mulai perjalanan. Excited yes! Tapi karena hujan yang ga berhenti-berhenti, bikin track becek dan licin. Huhuhu. Setelah 5 jam trekking, akhirnya kami sampai Ranu Kumbolo malam hari. Ga keliatan pemandangannya :( Masih hujan-hujanan kami bikin tenda. Pertama kali di Indonesia tidur di tenda. Setelah ganti baju, bersih-bersih dan pipis di semak-semak (penting! XD), kami masak mie buat makan malam. Kenyang, badan hangat, waktunya tidur di dalam sleeping bag!


Pagi-pagi ngejar sunrise, hujan udah berhenti tapi berawan. Akhirnya kita foto-foto aja seadanya :| Masak nasi goreng buat sarapan. Kenyang, kita naik ke tanjakan cinta :"> dan lihat Oro-Oro Ombo yang masih terbakar tanaman lavender ungunya :| (Tadinya kirain lavender, ternyata bukan! http://www.tempo.co/read/news/2013/06/17/206489035/Tanaman-Asing-Tumbuh-Invansif-di-Gunung-Semeru)
Ranu Kumbolo

Kita turun sekitar jam 11 siang. Hujan-hujanan lagii. Tuhaaaannnnnn T_T Udah ga jelas bentuk sepatu (pinjeman) gw. Setelah 5 jam trekking, sampai Ranu Pane udah sore. Cepet-cepet bersih-bersih, ganti baju, dan solat. Rasanya lega udah sampai lagi di Ranu Pane. Cuaca ga ada cerah-cerahnya. Cuaca yang seperti ini pun, masih ada aja pendaki-pendaki yang lanjut menuju puncak Semeru. Antara hebat dan nekat emang beda tipis.

Setelah isi perut di warung Ranu Pane, kami langsung berangkat ke penginapan yang udah dipesan sehari sebelumnya. Penginapannya sejenis home stay di rumah penduduk dan ga disangka tempatnya enaaaaak bangeeett. Sampai di rumahnya kita diajak ke dapur yang bertungku buat ngangetin badan dan dikasih makan. Ada fasilitas air hangatnya jugaaa. Waaaa surga bangeet buat gw! Bener-bener dipuas-puasin mandinya.

Kali ini kita harus tidur cepet karena harus bangun pagi-pagi, ngejar sunrise di Bromo!  

Sunday, January 26, 2014

27 my age!

yes, 27! i'm pretty satisfied and grateful for what i am right now. there are still many milestones i have not reached yet. but i think it just a matter of time :) and my effort :))

as always, i pampered myself on my birthday. well, it was actually on D+1 because 24th was Friday and i worked full day. so, here it goes!

1. Nyamnyamnyam!
Been waiting for this for some time and finally.......sushiiiiii! :9 nowadays, i try to be more careful about what i am eating and there are some news that said sushi is not halal because of the ingredients. but then i found on twitter via @HalalCorner there is sushi halal in jakarta! yay! it's D'Sushi Bodo!

I ate about 10 sushis and miso soup, it cost me less than Rp.50.000, it's Rp.46.000 exactly. Cheap? Super cheap! The taste? well, let say i had found a better taste before. but it is still ok for me :9

2. Life

Yeah, i watched two movies in a row, in a different place :))
I've heard about Walter Mitty's good review and it was enough to make me want to watch it badly. Coincidentally, Mitty was also on his birthday when Mitty's quest started. Despite of the story flaws and my disappointment for the negative/photograph, i really like the movie. It's funny, many can relate to the movie, and talk about the view! and i like Life's motto.
To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each other and to feel. That is the purpose of life.
Lastly, the soundtrack was also good. When i searched the soundtrack at home, found the astronaut plays "Space Oddity" on space! Wicked!

After watched Mitty, i had a doubt about American Hustle. Is it gonna be an anticlimax for my day? Or is it gonna be better? I don't know if American Hustle can beat Mitty. Well, it has a better review. As other twisted movie, American Hustle was a bit confusing for me. It twisted! D'oh. I think Bale was perfect. In the end, between American Hustle and Mitty, was a draw.

That was all for my birthday! Until next year! :)

Wednesday, January 22, 2014

book review: Hatta


*spoiler alert!*
Beberapa waktu lalu sempat punya keinginan buat cari buku biografi Bung Hatta, eh taunya ada yang nerbitin buku ini. Subjudulnya memang sebuah novel, tapi tetap dipastikan peristiwa-peristiwa sejarah penting tertulis sebenar-benarnya.

Rasanya selama belajar sejarah di sekolah, jarang menonjolkan perjuangan Bung Hatta, Bung Karno punya porsi yang lebih. Atau mungkin gw aja yg lupa :P Anyway, bukunya enak buat dibaca karena cara penulisannya memang seperti novel, cerita dengan dialog-dialog yang mengalir.

Biografi ini dimulai dari Bung Hatta kecil hingga masa-masa pensiunnya dari pemerintahan. Satu sikap yang konsisten dari Bung Hatta adalah mendahulukan kepentingan rakyat dibanding kepentingan sendiri. Bung Hatta memilih untuk menunda menikah hingga Indonesia mencapai kemerdekaannya. Bung Hatta menolak bantuan apapun yang bukan haknya meski keluarganya kekurangan. Idealis, sederhana, dan penggila buku. Beliau membawa 16 (enam belas) peti berisi buku-bukunya ketika dibuang ke Digul! Mahar pernikahannya pun sebuah buku karangannya.

Yang menarik lagi, di buku ini banyak diceritakan tentang Bung Sjahrir. Rasanya Bung Sjahrir ini hanya sesekali disebut-sebut di buku sejarah sekolah. Again, mungkin gw lupa :P. Tapi gw inget, waktu baca di buku sejarah, Bung Sjahrir jadi perdana menteri Indonesia dan gw terheran-heran, siapa nih? Ternyata Bung Sjahrir punya sejarah yang panjang dengan Bung Hatta maupun Bung Karno. Bersama berjuang sejak di Perhimpunan Indonesia di Belanda hingga kemerdekaan.

Sayang, rasanya ada yang kurang sreg dengan alur cerita. Ada lompatan cerita yang kentara di tengah-tengah, menurut gw. Tapi mungkin di rentang lompatan tersebut, tidak ada cerita yang cukup menarik untuk diceritakan. Mungkin.

Dan saat gw terkagum-kagum dengan cerita novelnya, gw pun bertanya-tanya, selain peristiwa-peristiwa sejarah penting, apakah semua ceritanya benar? yang mana yang benar-benar terjadi dan yang mana karangan penulis?

Semoga cerita penulis ini mendekati kebenaran realitanya. 

Sunday, January 05, 2014

Pieces of 2013

Hello again!

Well well well, it's 2014 already and i had only 7 posts for 2013! shame, shame, shame! X(

Anyway, what happened in 2013?

1. A new job
So I decided to be an 8-5 employee. There was a time when i could not imagine i would work an 8-5 job. But then, this was not bad, not bad at all. The office is located in Thamrin that made me being part of Jakartans morning struggle for transportation. What an experience. At work, although I was new, I was involved in a pretty big project which consume most of my time. I worked overtime quite often. After the project was finished, all of my friends, my parents, even the security officers in Pasar Festival (where i park my bike) were surprised every time I went back home early! Nevertheless, it was a good experience for me. I learned many things and it helped me to adapt faster.

2. Exercise and eating habit
Speaking of bike, I started riding a bike everyday to the bus stop. I guess, I just miss NL. In addition to the bike riding, I started exercising, jog or swim, every weekend, as often as I can. I also change my eating habit a bit, more veggies and fruits, less red meat and fried foods. This was a good habit that I should continue on for the rest of my life!

3. Read (and bought) many books

Like a lot of it. I usually have a book in my bag and on my bed. I tried to read anywhere and anytime. This year, I kinda bought them without thinking when i'll be reading it. In my defense, better bought it than regret later! So there is one high-unread-book-stack right now. I'm afraid the stack will always be higher than the read-book-stack XD

4. Write less :(
I actually had a lot of free-time during weekend but all i wanted to do just lying on my bed. Read book or playing games. Was it just a laziness or i lost my interest on writing? I even have not finished my writing challenge. D'oh.

5. Pulau Bira Trip!

This was an office gathering in Bira, Thousand Islands. So beautiful and it was my first time snorkeling! Me likey!

6. Year end trip!
So I had a trip to east Java: Ranu Kumbolo-Bromo-Tanjung Papuma, to be exact. I think, this was the first time i stepped on east Java. As far as i remember. Although the weather was not so great, it was really fun. There should be another post about this ;)


It's a wrap! Overall, it was a fun fun year, alhamdulillah. But the best is yet to come. Bring it on, 2014! ;)