Thursday, June 26, 2014

book review: Sabtu Bersama Bapak


Intinya, gw sukaaa buku Sabtu Bersama Bapak (SBB) ini! :D 

Senang, sedih dan haru semua jadi satu! Ceritanya yang mengalir membuat gw dengan mudah menyelesaikan hanya dalam waktu beberapa jam aja. Mulai baca bukunya jam 11 malam sebelum tidur. Tadinya sih rencana cuma baca beberapa halaman aja tapi malah ga bisa berhenti bacanya XD Terpaksa berhenti sekitar jam 1 karena harus tidurrr dan pagi kerjaaa dan nyiapin sarapan buat suami *uhuk*

SBB bercerita tentang dua bersaudara Satya dan Cakra yang mencoba untuk menjalani hidup mereka sesuai values yang diajarkan bapaknya. Cerita-cerita flashback menyertai Satya dan Cakra dalam penyelesaian konflik mereka. Tapi entah ini disengaja atau engga, rasanya konflik Satya kurang dibangun dan terlalu cepat solve. Bandingkan dengan konflik Cakra yang berliku, naik-turun, mendaki gunung, dan lewati lembah seperti Ninja Hattori. Mungkin karena cerita Cakra yang kocak jadi lebih memberi kesan buat gw. Mungkin juga dibuat seperti itu supaya tidak terlalu banyak konflik yang harus diselesaikan. Mungkin. Sotoy aja ini sih.

Anyway, SBB sarat pesan yang kuat dengan diselip joke-joke khas kang Adhit. *sok ikrib* Dalam beberapa hal, mungkin pandangannya berbeda dengan pandangan masyarakat kebanyakan. Bahwa hal-hal yang kita anggap benar sekarang, belum tentu sama di masa yang akan datang. Menjadi pemicu kita untuk tetap belajar dan terbuka dengan kondisi yang ada.

So, Sabtu Bersama Bapak ini wajib dibaca untuk semua orang, terutama pasangan muda yg berencana utk membangun keluarga. You will have a new perspective of what you will going through or maybe it will be a gentle reminder ;)

Tuesday, June 24, 2014

#19 rasa mati

laku tak peduli dengan hati, sudah mati rasa?
mata diam tak melihat, sudah mati rasa?
kata gores luka dalam, sudah mati rasa?
otak buta akan cahaya, sudah mati?

rasa?

Thursday, June 12, 2014

#18 Putri Tidur

Sang Putri masih tertidur dgn lelapnya. Hanya suara dan gerakan nafasnya yang meyakinkan para kurcaci kalau sang Putri masih hidup.

"Pangeran datang! Pangeran datang!" Kurcaci bungsu berseru dari depan pintu. Pangeran masuk ke dalam kamar sang Putri. Tak besar tapi cukup untuk tempat tidur sang Putri dan beberapa kurcaci yang menemani.

Kurcaci bungsu mendorong tubuh Pangeran mendekat ke pinggir tempat tidur. Kakek kurcaci menatapnya dengan lembut, "Pangeran, syukurlah sudah datang. Putri sudah tertidur cukup lama."

Pangeran menelan ludahnya. Semua kurcaci menatapnya dengan penuh harap. Kakek kurcaci mengisyaratkan Pangeran untuk melakukan tugasnya. Kurcaci-kurcaci di kamar terdiam menunggu Pangeran bergerak. Hanya Kurcaci bungsu yang melompat-lompat begitu bersemangat. Sebentar lagi aku bisa bermain dengan Putri! Begitu pikirnya.

Pangeran menelan ludahnya kembali. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan menatap wajah sang Putri. Putri tetap cantik ketika tidur, ujarnya dalam hati. Lalu ia mengalih pandangan ke bibir sang Putri. Ini saatnya.

Pelan Pangeran menunduk, memejamkan matanya dan mencium bibir sang Putri dengan lembut. Pangeran menjauhkan wajahnya dari sang Putri. Kini, Pangeran dan semua kurcaci menunggu.

Tiba-tiba mata sang Putri terbuka perlahan.  Semua kurcaci bersorak. Pangeran menghela napas lega. Putri tersenyum melihat kurcaci-kurcaci kesayangannya. Terlebih ketika melihat Pangeran. Ia mencoba meraih lengan Pangeran dan...

PLOP!

Sorak sorai terhenti seketika. Semua pasang mata terbelalak.

GROOK!

"PUTRI???" Sorak sorai berubah histeria. Aduhai, sang Putri berubah menjadi kodok!

Wajah Pangeran menegang. Ternyata kutukan itu masih ada!