Saturday, December 30, 2017

ITB Motherhood


Hari Sabtu yang lalu, 23 Desember, saya dan keluarga datang ke acara ITB Motherhood Homecoming di kampus. Berawal dari grup di media sosial beranggota ibu-ibu alumni kampus gajah, para panitia bisa mendatangkan alumni dari seluruh penjuru dunia (katanya ada yang dari Dubai) untuk datang berkumpul. Ramai banget acaranya dari pagi sampai sore. Tapi kali ini saya engga akan bercerita tentang acaranya. (Sekilas review bisa baca di blog ibu rajin satu ini)

Memang manusia itu senangnya berkumpul, apalagi orang Indonesia. Apalagi ibu-ibu dengan segudang aktivitasnya. Butuh tempat pelarian berkeluh kesah. Hidup Market Day! Hahaha.
Ikut grup ITB Motherhood setelah menikah karena direkomendasikan oleh teman sekampus. Bergabung selama hampir 4 tahun, saya berdoa semoga semua anggota grup ini selalu diberkahi karena banyak informasi tentang keibuan dan kewanitaan yang dibahas di sini. Dari hal-hal sepele sampai kontroversi.

Dengan anggota grup yang cukup heterogen, salut dengan anggota-anggotanya yang tetap santun jika ada perbedaan pendapat. Berbeda dengan di tempat lain yang menyerang satu sama lain. Saya kira ini karena kita semua punya satu identitas bersama.

Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki ibu-ibu ini membuat saya sadar bahwa menjadi orang tua itu engga bisa sembarangan dan butuh support dari lingkungan di luar keluarga. Perjalanan menjadi orang tua ini mungkin berat, mungkin banyak lelahnya. Ungkapan "It takes a village to raise a child" bukan sesuatu yang berlebihan. ITB Motherhood menjadi support group yang berharga buat saya. I am not alone. We are not alone.

Terima kasih sudah bisa bertemu dengan ibu-ibu hebat ini. Semoga kita semua diberi kemudahan dalam menjalani peran masing-masing. Amiin.

(Foto diambil dari artikel ini.)

Saturday, December 16, 2017

Ibu 2,5 tahun


Bulan ini tepat 2,5 tahun saya menjadi ibu. Dulu kalau membayangkan menjadi ibu, mikirnya bisa jadi ibu yang super. Bisa ini, bisa itu. Ke sana, ke mari. Kenyataannya? Ga sesuai yang dibayangkan. Hahaha.

Bayangannya akan sabar menghadapi bayi yang rewel. Ternyata engga.
Bayangannya ingin selalu dampingi anak. Ternyata butuh waktu sendiri.
Bayangannya akan buat semuanya ideal. Ternyata engga bisa, harus kompromi dengan kenyataan.

Apakah saya kecewa karena ga sesuai yang dibayangkan? Engga juga.

Remember, the root of all disappointment is expectation.

Perjalanan menjadi ibu masih sangat sangat panjang (insya Allah jika diberi umurnya), ga usah berharap semuanya sempurna karena karena semuanya butuh proses, butuh belajar. Tetap berusaha memberikan yang terbaik.

Sunday, October 22, 2017

Pengingat III

Diskusi selanjutnya di kelas Bunda Sayang IIP adalah publikasi yang bertanggung jawab. Sigh. Kalau mengenai ini bukan hanya kita yang ada di kelas tapi untuk semua orang yang memiliki akses informasi.
Saat sekolah dulu juga kita harus mencantumkan sumber yang kita dapat dalam mengerjakan tugas kan? Bahkan di jurnal ilmiah tidak hanya sumber ilmu yang perlu kita cantumkan, bahkan quote yang hanya sekalimat harus dicantumkan sumbernya. Apalagi kalau mempublikasikan materi yang seabrek-abrek dari IIP.
Publikasi yang bertanggung jawab adalah tanggung jawab semua pembelajar.

Pengingat II

Di diskusi grup IIP, kembali diingatkan mengenai keaktifan dalam belajar di kelas Bunda Sayang. Selama ini saya kebanyakan silent reader karena waktu diskusi malam biasanya adalah waktu bersama anak. Kalau waktu diskusi siang, biasanya waktu kerja. Tapi alhamdulillah masih mengerjakan tantangan-tantangan yang diberikan.
Saya pikir dengan anggota sekian banyak dengan waktu kesibukan yang berbeda-beda tidak memungkinkan untuk meminta semua anggota untuk aktif dalam diskusi. At least penilaian bisa dalam pengerjaan tantangan. Kalau memang tidak ada usaha untuk mengerjakan tantangan, wajar kalau diminta keluar saja dari kelas.
Semangat!

Friday, October 20, 2017

Pengingat

Jadi, tadi malam ada diskusi tentang adab menuntut ilmu di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Bagaimana kita bersikap dalam menuntut ilmu. Bagaimana kita bersikap dengan sesama pembelajar. Bagaimana kita bersikap dengan guru.
Penting tapi sering disepelekan. Dianggap sepele tapi bisa menentukan keberkahan dalam ilmu.
Apalagi kalau dengar cerita teman-teman yang jadi dosen dan pengalaman dengan mahasiswanya. Mahasiswa yang tergolong manusia dewasa tapi adabnya bisa bikin geleng-geleng kepala.
Dan menurut saya adab ini juga tidak hanya tentang menuntut ilmu tapi bisa diaplikasikan ke semua aspek.
Bagaimana kita bersikap saat menerima informasi di era media viral ini.
Bagaimana kita bersikap dengan orang lain yang  memiliki pemikiran yang berbeda dengan kita.
Pengingat untuk diri.

Sunday, September 24, 2017

Go!


On a major throwback: I want to suggest people to leave their hometown. No, not just for vacation or traveling for a few days or weeks, no. Leave and stay at another place for a long time. Be the local people.

I have lived in Bandung since I was 2 yo. I spent my whole 23 years in that city. Well, for a half year I worked in Jakarta but I could come home every weekend. I knew I could go to my comfort zone anytime I wanted. When I continued my study outside my hometown, there's one thing that I learned.

I learned how to miss. I missed the place, I missed the food, I missed the air. I missed the people.
I learned how to not take things for granted. Even small things. Small things become important things when you missed it.

For a person that has never been outside for a long time, that is a new thing for me. I hope I won't forget that because it makes me appreciate more what I can not have at that time.

I understand that our way of thinking is also influenced by the environment. Some people don't want to leave their hometown just because nobody around him/her does that. Some people asked why I want to go outside this country. Well, why not? I said, this earth is pretty big and I want to see the other side of the world.

So, pack your bag and leave. Go!

Thursday, August 03, 2017

S3 ASI

Alhamdulillah di bulan Juli kemarin genap dua tahun saya menyusui K. Kalau melihat awal perjalanan menyusui, saya tidak menyangka akan sampai garis finis terakhir. Setelah melahirkan, saya bukan termasuk yang berASI banyak. Berbekal dorongan dokter untuk terus menyusui dan menghitung kecukupan ASI pada K (minimal BAK lebih dari 6 kali sehari, pup lancar, tidak ada tanda dehidrasi, dll) saya coba untuk menyusui dan menghiraukan selentingan-selentingan yang ada.


Dengan kondisi yang seperti ini, saya mencoba untuk realistis: OK, mari pasang target sampai ASI eksklusif. Alhamdulillah tercapai walau sempat umur 5 bulan hasil perahan defisit karena jam perah yang kacau dan mulai haid lagi. Deg-degan juga, tapi alhamdulillah stok cadangan masih mencukupi.

Masuk MPASI, produksi ASI masih ada dan porsi minum ASIP jg mulai berkurang. Hasil perahan yang tadinya defisit akhirnya sedikit-sedikit mulai surplus.

Di masa menyusui ini saya juga coba macam-macam booster ASI. Memang sih kata konselor laktasi booster ASI itu sebenarnya tidak perlu/tidak ada, tapi tidak ada salahnya mencoba kan?

Coba susu kedelai Mamasoya, tidak suka dan tidak enak. Huek.
Coba coklat Hijrah, dari sekotak yang mahal itu bagi-bagi sama ibu-ibu perah lain. Hahaha. Coklatnya enak sih tapi karena cobanya sedikit jadi tidak terlihat penambahan ASInya.
Coba susu almond, sampai beberapa merek, enak enak enak. Tapi rasanya ga terlalu kentara juga penambahan ASInya. Harus benar-benar rutin sih konsumsinya ya. Kalau saya coba sekali-sekali doang. Hahaha.
Coba kurma, kukis herbal, tidak ada yang mempengaruhi secara signifikan pada ASI. Sigh. Terima saja kenyataan yang segini saja ASInya.

 

Satu tahun lewat. Alhamdulillah masih mengASIhi. Satu setengah tahun lewat. Hasil perahan mulai berkurang sangat. Yang tadinya sekali perah 100ml, jadi 80ml, lalu 60ml, lalu 30ml. Sedih. Ditambah melihat teman-teman pemerah lain yang banyak sekali hasil perahannya, tambah sedih. Saya sampai sengaja tutup-tutupin hasil perahan saya. Hahaha. Tapi memang sih yang lain anak-anaknya lebih muda dibanding K. *menghibur diri*


Tiap ibu menyusui punya perjuangannya masing-masing. Kondisi lingkungan yang kondusif baik di keluarga dan di kantor sangat membantu keberhasilan menyusui sampai dua tahun ini. Dari ASI yang tidak banyak ini semoga sudah memenuhi haknya K. 

Untuk ibu-ibu yang masih menyusui, tetap semangat! You can do it!

Saturday, July 15, 2017

Review E-book

Sampai bulan Juli ini, terhitung delapan buku yang sudah saya baca sampai selesai. Rekor! Baik buku fisik dan e-book. Dulu saya pernah review sedikit beberapa aplikasi e-book yang pernah saya pakai. Memang ternyata penggunaan aplikasi e-book itu sangat bergantung dengan layar ponsel yang dipunya. Setelah upgrade ponsel dengan layar yang lebih besar, rasanya beda bangeeet. Dengan layar yang lebih besar, bacanya lebih enak! *yaiyalah*

Ada tiga aplikasi e-book saat ini yang ada di ponsel saya:
1. iJakarta
Buku-buku di iJakarta semuanya versi bahasa Indonesia (sependek yang saya temukan) dan koleksinya cukup banyak dari berbagai genre. Seperti yang sudah pernah saya ulas, iJakarta ini sistemnya seperti perpustakaan, maksimal 3 hari peminjaman, dan gratis.


Kalau buku yang dipinjam belum selesai dan tidak terlalu populer, bisalah setelah 3 hari dipinjam lagi bukunya. Kalau bukunya  populer, beuh...butuh banyak keberuntungan untuk bisa baca. Kita bisa "mengantri" untuk buku tersebut tapi sayangnya, notifikasi buku sudah available hanya bisa dilihat kalau sedang membuka aplikasi. Selain itu, entah kenapa setelah update kemarin, aplikasinya restart terus, jadi tidak bisa baca dan bug-bug yang ada sebelumnya juga belum diperbaiki. :(

2. Bookmate


Aplikasi ini di review sebelumnya tidak terlalu bagus tapi setelah upgrade layar ponsel (dan mungkin ada update juga di aplikasinya), Bookmate jadi aplikasi e-book favorit saya saat ini! Koleksi bukunya banyak dan bagus-bagus. Ada buku bahasa Indonesia tapi buku bahasa Inggris (dan bahasa lain) lebih banyak. Yang penting lagi, gratis! Ada premium subscriptionnya sekitar 75 ribu rupiah per bulan. Masih OK lah ya. Untuk para dermawan bisa upload buku juga dengan format EPUB atau FB2. Fitur-fiturnya juga cukup banyak, ada shelf, quotes (kita bisa highlight kalimat-kalimat yang oke dan orang lain bisa melihat di halaman review buku tsb), notes, kamus, dan review buku dengan tambahan sticker yang lucu-lucu (disebutnya impressions).



3. Google Play Books
Play Books dipilih kalau memang buku yang mau saya baca tidak ada di koleksi aplikasi e-book lain. Biasanya bukunya harus dibeli karena koleksi buku gratis di Play Books cuma yang classic literature atau buku-buku tidak jelas non populer. Untuk fitur, lebih sedikit dari Bookmate, ada notes, highlight, dan kamus. Kalau Bookmate bisa dibilang social medianya para bookworm, bisa add friend, lihat shelf teman dan reviewnya. Sejenis Goodreads tanpa fitur baca bukunya. Tapi untuk Google Play Books memang mengkhususkan sebagai library pribadi saja tanpa sosialisasi dengan yang lain. Tapi kelebihan Play Books yang saya suka, canggihnya di Play Books ada fitur Night Light yang menghilangkan sinar biru di layar sehingga mata tidak cepat lelah saat membaca. Secara otomatis layar akan menyesuaikan dengan kondisi cahaya di sekitar. Top!


Masih banyak aplikasi e-book lain tapi dengan yang ada ini saja sudah banyak banget buku yang ingin dan bisa dibaca. Semangat kejar target membaca tahun ini!

Saturday, April 08, 2017

Make up vs skin care

Dulu saya tidak terlalu memperhatikan perbedaan make-up dan skin care. Keduanya hanya terlihat satu: kosmetik. Wajah saya memang gampang berjerawat dan bekasnya susah-banget-nget hilang but I try to embrace it. I don't need layers of layers of products to cover it up. This is just the way I am.

Sampai akhirnya saya tercerahkan tentang perbedaan make-up dan skin care (kemana ajaaa), saya menyesal tidak mengetahuinya lebih cepat. Intinya, skin care untuk merawat wajah supaya sehat dan make up untuk menyempurnakan penampilan. Either put some concealer for that tired eyes or lipstick to complete the look. Saya bisa bilang make-up itu tidak terlalu perlu (untuk saya), tapi skin care sepertinya semuanya butuh (Hello sunscreen!). Mungkin untuk beberapa orang yang kulitnya tidak high maintenance bisa tenang-tenang saja. Tapi tidak dengan saya. Sekali tidak cuci muka di malam hari, besoknya langsung muncul jerawat. Sigh.

Ini jadi pelajaran buat saya, terutama untuk memberikan pengertian untuk anak saya nanti berhubung sepertinya anak saya ini punya kulit seperti saya. Huhu.

Cintai dan rawatlah kulitmu sebelum menyesal di kemudian hari!

Sekarang untuk perawatan sehari-hari yang biasanya hanya sabun pembersih muka dan pelembab, mulai ditambah dengan toner, serum, dan sunscreen. Kalau lagi rajin, semuanya dikerjain. Kalau malas, skip skip aja. Haha. Setidaknya seminggu sekali scrub wajah dan maskeran. Memang agak repot, tapi lumayan sih sekarang kalau muncul jerawat gak parah-parah amat. Tetap semangat!



Saturday, February 25, 2017

I choose to stay


Last year, I was trying to add more blogs to my feeds. Most of my blog friends has not updated their blog for a long time (years!). Then I searched for other peoples's personal blog.  A blog that not just telling me about their traveling stories or fashion or whatever they show off on the blog. I want to know about their life. Their daily struggle. Their opinions about things. Their silly stories and jokes. Like old times. When the blogosphere were simple and...less sponsored.

The rising of internet user and social media has shifted how we do with blogs. We are not blogging for pleasure anymore, we blog for work. Or even abandon our blog because social media is more interesting and easier.

And then I was thinking about my blog. This blog. I started on 2004. I write what I want to write. My daily life. My babbling. My dreams. It was fun. People start blogwalking and making friends in real life. But now, it seems people have left this side of blogosphere. Even I make less and less post each year. Should I left my blog too?

But it's too much stories written here. Almost all my ups and downs, the big moments I shared. This blog has become a part of my life. Thirteen years, and counting.

And then I came across a post by Claradevi. I was like: so, it's not just me who feel this!
And then The Blog Project ID. I was so happy. It's like the universe telling me that there are still people like me who get sentimental with a blog. Haha.

So, I choose to stay here.


And you should too.


written as monthly challenge on TheBlogProjectID

Sunday, February 19, 2017

Yang baru


Gak terasa sudah bulan  Februari lagi. Tadinya masih mikir-mikir mau nulis apa tapi baru ingat ada yang terlewat di bulan Januari: saya resmi berkepala tiga! Biasanya jauh-jauh hari saya sudah menyiapkan rencana kegiatan apa yang mau saya lakukan di hari istimewa itu. Tapi kali ini, karena kesibukan, hari itu berlalu begitu saja. Gak apa-apa karena saya menghadiahi diri dengan: domain sendiri! Woohoo!

Tadinya saya masih ragu-ragu untuk beli domain. Perlu apa engga, namanya mau apa, lamaaa mikir nama yang pas. Awalnya ingin bikin "brand" biar namanya ga terlalu "terkenal" pede banget tapi ga dapat-dapat idenya. Ya sudah, pakai nama sendiri aja, sekarang sudah gak jaman jadi anonimous ya kan. Semoga dengan domain baru bisa nambah pecut buat lebih banyak nulis! Aamiin.


Sunday, January 29, 2017

good bye




Tanggal 5 Desember 2005 adalah kali pertama kita berdua menyusuri jalan raya. Mulai saat itu, kamu bukan hanya sekedar kendaraan tapi juga teman:
Ketika saya berjadwal penuh dari pagi sampai malam
Ketika saya karaoke dari kaset (!), cd atau radio
Ketika saya berargumen khayalan entah tentang apa
Ketika saya nangis sambil nyetir yang sekarang saya lupa penyebabnya apa
Ketika saya membawa teman-teman sampai duduk di bagasi 😄
Ketika saya terheran-heran kenapa titik merah kamu selalu hilang (dan kembali!)

Terima kasih atas momen-momen itu... 


Dan saya minta maaf:
Ketika nabrakin, nyenggolin, baretin kamu dengan segala macam
Ketika kamu penuh dengan t*i burung karena parkir di sebuah institut di bandung 🙈
Ketika sampai akhir pun kamu masih kena tabrak orang 😳 (meskipun bukan saya yang nyetir)

I may not be your last driver but let me give a proper goodbye. May you will be happier with your new owner! Mwah! 😘❤ 

dipost juga sebagai bagian dari #30haribercerita di instagram.

Tuesday, January 10, 2017

book review: Critical Eleven

Sedikit intro tentang Ika Natassa. Buku-buku Ika Natassa sudah lama saya dengar. Beberapa teman pernah merekomendasikan, namun entah kenapa saya belum tertarik untuk membaca bukunya. Mungkin karena genrenya "chicklit" or "metropop" yang membuat saya berasumsi kalau jalan ceritanya ya begitu, ada laki-laki dan perempuan, konflik cinta-cintaan, dan akhir happy ending. Begitu kan umumnya kemasan chicklit? Dulu saya belum tertarik.

Hingga 2 tahun lalu, keinginan untuk membaca buku chicklit tiba-tiba muncul. Saat itu buku Antologi Rasa versi Illustrated Edition baru terbit dan Ika Natassa sendiri yang buat ilustrasinya. Menarik. Akhirnya saya beli buku Ika Natassa pertama saya. Setelah membaca Antologi Rasa, saya akhirnya mengerti kenapa banyak teman dan orang yang suka dengan cerita-cerita Ika.
Sama juga dengan Critical Eleven. Sudah lama lihat berseliweran di timeline dan toko buku, sudah masuk juga dalam daftar buku yang ingin dibeli. Entah kenapa prioritasnya masih di bawah buku-buku lain. Padahal saya suka dengan premis bukunya. Saya sendiri suka dengan bandara. Beberapa kali bikin cerita dengan setting bandara, tapi belum ada yg kelar. Hahaha. 

Sampai akhirnya saya menemukan aplikasi iJakarta. Senang banget waktu buku Critical Eleven muncul di halaman pertama. Pucuk dicinta ulam tiba!

Kesan pertama baca Critical Eleven: multi POV again? Apa semua buku Ika Natassa multi POV? (Beberapa waktu lalu saya baru tahu kalau Antologi Rasa adalah buku pertama yang multi POV dan Critical Eleven adalah yang kedua). Seperti Antologi Rasa (dan mungkin buku-bukunya yang lain), cerita Critical Eleven mengalir enak dibaca. Ikut larut dalam penggalan-penggalan romantis antara Ale dan Anya yang bikin senyum-senyum sendiri. Humor, sarkasme, beserta bahasa dan bahasan urbannya seperti sedang mendengar teman sendiri yang langsung bercerita. Dan tentu saja bagian New York!

Paris has its light, Rome its crooked alleys, London its misty Thames. But nowhere is as breathlessly romantic as New York City.

Oh we all have a thing for the concrete jungle, yes?

Dengan karakter Ale dan Anya yang digambarkan hampir sempurna (ganteng-cantik, kaya, dan mapan), cerita mereka hampir seperti too good to be true. Maybe we are all longing for what Ale and Anya have, and Ika gave what we want in a story. Gaya cerita yang banyak flashback kadang bikin bingung dengan timeline cerita kalau bacanya tidak teliti. Ketika saya memulai baca buku ini, saya tidak membaca blurp yang ada di kover belakang. 'Tragedi besar' Ale dan Anya jadi kejutan tersendiri buat saya. Pengungkapan detailnya yang perlahan, jadi salah satu alasan untuk terus membuka halaman demi halaman.
Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing...it's kinda the same meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama...And then there's the last eight minutes before you part with someone..delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Tapi saya merasa konflik utama cerita agak tidak nyambung dengan premis Critical Elevennya. I mean, they are what they are right now. Based on those eleven minutes, they already made a decision. So, they already passed the eleven minutes critical moment, amirite?

(Pembaca kok banyak protesnya, bikin cerita sendiri gih *toyorkepalasendiri*)  
...expectation is the root of all disappointments.
Just as what she mentioned, mungkin saya menyimpan banyak ekspektasi terhadap buku ini sehingga banyak protesnya. Put the expectations aside, this book is entertaining and a well-told story. 

Tentang filmnya yang akan muncul nanti, belajar dari bukunya, saya tidak akan menyimpan ekspektasi apa-apa. Lihat dari posternya sih bagian New York ada ya. Atau bisa jadi ceritanya akan berbeda dibanding bukunya (Surprise me, Jenny Jusuf!). Kalau ditanya siapa yang pantas berperan sebagai Ale dan Anya, melihat penggambaran karakter mereka, tentu saja: Dian Sastro dan Nicholas Saputra! Hahahahaha #anak90an. But seriously, memang ga ada yang lain ya selain Reza? 


Sunday, January 08, 2017

2016

  
Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk ngisi blog ini lagi. Tahun 2016 kemarin saya menyiapkan satu toples Happy Jar, untuk mengumpulkan momen-momen bahagia di 2016. Setelah tadi saya lihat, dikit banget yaaa isinyaaa :( Apakah saya ga bahagia di 2016? Masa sih? Setelah dibaca-baca isinya ada momen bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, dan.... Desember. Hahahaha...ketauan banget lupa dari bulan Juli kalau ada Happy Jar dan inget lagi pas udah akhir tahun :P 

Anyway, mumpung masih fresh nih tahun barunya, highlight untuk tahun 2016:
  1. Si anak kicik lulus ASIX! Yeyeyeyeye! Sebagai ibu-ibu yang ASInya segitu-gitu aja (ga kayak ibu-ibu sebelah yang berbotol-botol), lulus ASIX ini udah alhamdulillah banget. Mungkin ada orang-orang yang ga percaya dengan jumlah ASI yang seperti ini bisa lulus ASIX. Untuk ibu-ibu di luar sana yang senasib, jangan bersedih! Terus berusaha dan pantang menyerah! You can do it!
  2. Anak kicik makin gedeee dan makin pinteer. Selalu berusaha untuk menangkap momen-momennya dengan foto/video tapi kadang memang lebih baik melihatnya dengan mata kepala sendiri :)
  3. Target baca buku tercapai! Mantap kaan? Salah satu pendorongnya adalah resolusi saya tahun ini terkait buku: membeli buku baru setelah selesai membaca tiga buku which is langsung gagal gara-gara ada Big Bad Wolf Book Sale. Tadinya sebelum datang ke BBW ini masih tetep berpegang pada resolusi tapi setelah lihat buku-bukunya, the hell with that! I'm buying these books!!! Hahahahahaha. Well, selain itu saya juga menyesuaikan resolusi dengan keadaan sekarang, dari target 36 buku jadi 12 buku aja. Mencoba realistis.
  4. Karena selama 2016 ini saya banyak main di Instagram, saya jadi lebih tercerahkan tentang dunia skin care dan make up (still writing a draft about this). Dan setelah bertahun-tahun bergelut dengan bibir kering, akhirnya saya menemukan solusinya: Sebamed Lip Care. Di suatu artikel yang saya baca, katanya salah satu penyebab bibir kering karena terpapar sinar matahari, jadi pakailah pelembab bibir yg berSPF. And it works! Masih ada kering-kering dikit sih but it's much much better! Pulasannya juga ga terlalu bikin bibir berminyak seperti makan gorengan. Love!
  5. Karena anak kicik udah mulai bisa jalan, sekarang biasanya tiap weekend cari-cari tempat main yang toddler-friendly. Sekitar rumah ada beberapa tempat yang oke buat hiburan keluarga seperti, Scientia Square Park, The Breeze, Taman Kota, dan hari ini baru tau kalau di Bintaro Xchange ada ruang terbukanya juga (kemane ajeee). Seneng deh banyak alternatif tempat main selain ke mall.
  6. Akhirnya setelah 8 tahun saya ganti kacamata juga! Sebenarnya dari sebelum hamil udah pergi ke dokter untuk minta resep mata tapi beli kacamatanya ketunda terus. Sampai harus minta resep lagi karena yang sebelumnya udah hilang. Hahaha.
Not a bad year, eh? Alhamdulillah.

Untuk resolusi tahun ini masih sama seperti tahun lalu, untuk target buku minimal 12 buku terbaca. 
Untuk beli buku baru sepertinya nanti nunggu BBW ada lagi aja hahaha. Semoga ada lagi ya Allah! Amiin.
Diracuni ibu baru ini, saya tambah resolusi yang baru, memberi kesempatan kedua untuk memakai planner, an attempt for documenting moments or plans or small thoughts. Semoga bisa lebih konsisten.
Menimbang-nimbang untuk memberi wajah baru ke blog ini. Semoga tidak kehilangan momennya.

Cheers for a better year!