Saturday, December 30, 2017

ITB Motherhood


Hari Sabtu yang lalu, 23 Desember, saya dan keluarga datang ke acara ITB Motherhood Homecoming di kampus. Berawal dari grup di media sosial beranggota ibu-ibu alumni kampus gajah, para panitia bisa mendatangkan alumni dari seluruh penjuru dunia (katanya ada yang dari Dubai) untuk datang berkumpul. Ramai banget acaranya dari pagi sampai sore. Tapi kali ini saya engga akan bercerita tentang acaranya. (Sekilas review bisa baca di blog ibu rajin satu ini)

Memang manusia itu senangnya berkumpul, apalagi orang Indonesia. Apalagi ibu-ibu dengan segudang aktivitasnya. Butuh tempat pelarian berkeluh kesah. Hidup Market Day! Hahaha.
Ikut grup ITB Motherhood setelah menikah karena direkomendasikan oleh teman sekampus. Bergabung selama hampir 4 tahun, saya berdoa semoga semua anggota grup ini selalu diberkahi karena banyak informasi tentang keibuan dan kewanitaan yang dibahas di sini. Dari hal-hal sepele sampai kontroversi.

Dengan anggota grup yang cukup heterogen, salut dengan anggota-anggotanya yang tetap santun jika ada perbedaan pendapat. Berbeda dengan di tempat lain yang menyerang satu sama lain. Saya kira ini karena kita semua punya satu identitas bersama.

Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki ibu-ibu ini membuat saya sadar bahwa menjadi orang tua itu engga bisa sembarangan dan butuh support dari lingkungan di luar keluarga. Perjalanan menjadi orang tua ini mungkin berat, mungkin banyak lelahnya. Ungkapan "It takes a village to raise a child" bukan sesuatu yang berlebihan. ITB Motherhood menjadi support group yang berharga buat saya. I am not alone. We are not alone.

Terima kasih sudah bisa bertemu dengan ibu-ibu hebat ini. Semoga kita semua diberi kemudahan dalam menjalani peran masing-masing. Amiin.

(Foto diambil dari artikel ini.)

Saturday, December 16, 2017

Ibu 2,5 tahun


Bulan ini tepat 2,5 tahun saya menjadi ibu. Dulu kalau membayangkan menjadi ibu, mikirnya bisa jadi ibu yang super. Bisa ini, bisa itu. Ke sana, ke mari. Kenyataannya? Ga sesuai yang dibayangkan. Hahaha.

Bayangannya akan sabar menghadapi bayi yang rewel. Ternyata engga.
Bayangannya ingin selalu dampingi anak. Ternyata butuh waktu sendiri.
Bayangannya akan buat semuanya ideal. Ternyata engga bisa, harus kompromi dengan kenyataan.

Apakah saya kecewa karena ga sesuai yang dibayangkan? Engga juga.

Remember, the root of all disappointment is expectation.

Perjalanan menjadi ibu masih sangat sangat panjang (insya Allah jika diberi umurnya), ga usah berharap semuanya sempurna karena karena semuanya butuh proses, butuh belajar. Tetap berusaha memberikan yang terbaik.