Tuesday, December 18, 2018

Hobi Koleksi, Apa Motifnya?

Bicara tentang hobi, ada jenis hobi yang biasanya berhubungan dengan kegiatan mengumpulkan barang atau mengkoleksi, misalnya koleksi perangko, koleksi boneka, koleksi buku, koleksi baju atau sepatu. Ternyata kegiatan koleksi barang ini bukan hanya masalah kepuasan saja, motif kegiatan mengumpulkan ini bisa menunjukkan kondisi kejiwaan sang kolektor.

1. Mencari kenyamanan
Orang yang senang koleksi barang, bisa jadi dia mencari kenyamanan dengan memiliki banyak barang. Koleksinya membantu mengurangi kecemasan tentang kehilangan atau untuk menjaga masa lalu untuk tetap ada di masa sekarang. Contohnya untuk orang yang senang mengumpulkan barang antik atau barang-barang era tertentu yang ia sukai.

2. Menjaga eksistensi
Dengan mengkoleksi barang-barang, kolektor seakan-akan memiliki "warisan". Warisan ini yang menjadi identitas kolektor yang akan terus ada setelah ia mati.

3. Menjadi daya tarik
Kalau ini, kolektor memiliki tujuan spesifik dalam koleksinya untuk menjadi daya tarik terhadap lawan jenis. Artinya kolektor kurang percaya diri atas dirinya sendiri, jadi dia butuh barang sebagai pelengkap daya tarik.

4. Mencari sensasi
Ada sensasi tersendiri ketika mendapatkan hasil perburuan barang yang diincar. Apalagi kalau sudah bertahun-tahun mencari barang tersebut. Atau mungkin kalau di zaman sekarang, cari barangnya waktu flash sale! Kepuasan saat mendapatkan barang menjadi tinggi.

Dalam seorang kolektor, motif-motif ini bisa jadi ada semuanya, bisa juga tidak. Kalau teman-teman hobi koleksi apa? Kira-kira apa motif terselubungnya? ;)

Wednesday, November 28, 2018

Tiga Tahun Menjalani Peran Ibu Pekerja

Tiga tahun menjalani peran ibu pekerja di ranah publik, saya sadar peran yang saya lakukan masih jauh dari sempurna. Jauuh sekali. Alhamdulillah saya masih diberi rezeki asisten yang membantu menjaga anak di rumah dan suami yang selalu mendukung. Tetapi meskipun support system sudah cukup, kadang ada saja yang membuat hari-hari berantakan. Memang enggak mudah, tapi harus dijalani sebaik-baiknya. Beberapa hal ini yang saya pegang dalam menjalani peran saya sekarang.

Prioritas
Salah satu obrolan dengan teman-teman 'seperjuangan' menyadarkan saya tentang pentingnya prioritas dalam menjalani peran sebagai ibu dan istri Terutama prioritas dalam memastikan kebutuhan yang terpenting terpenuhi, untuk anak maupun suami. Main dengan anak atau cuci piring? Belanja ke pasar atau buat artikel? Pilih prioritas yang dianggap lebih tinggi dan lakukan. Untuk yang prioritas paling rendah, bisa ditunda. Jangan terlalu dipikirkan apa yang belum dikerjakan karena prioritasnya rendah. Lemesin aja shaayy.

Don't be too hard on yourself
Kadang ada hari yang semua tampak berjalan begitu kacau. Ada meeting di kantor tapi anak sakit, makanan enggak ada, dan rumah berantakan. Rasanya seperti orang paling gagal di dunia.

Kalau sudah begini, yang pertama saya lakukan adalah sadarkan diri sendiri kalau hidup ini enggak ada yang sempurna. Pasti ada naik turunnya. Kalau lihat hidup orang lain yang sempurna di media sosial, yakin mereka pun pasti pernah mengalami hal seperti ini. I'm not perfect, nobody is perfect. Hadapi saja tantangan yang muncul sebaik-baiknya.

"Good for you, not for me."
Ini adalah kutipan dari buku otobiografi Amy Poehler, seorang aktris komedian. Di sini Poehler mengambil sikap untuk agree to disagree tentang hal yang bertentangan dengan value dirinya. 
Kutipan ini selalu saya ingat kalau ada yang ada yang judge atau nyinyir dengan peran yang saya lakukan sekarang. Saya yang tahu bagaimana kondisi diri saya sendiri. Apa yang membuat saya bahagia? Apa yang mampu saya lakukan? Dari pertanyaan ini pastinya semua orang memiliki jawaban yang berbeda-beda. Tidak mungkin semua akan memiliki pilihan yang sama. Kalau ada yang berbeda pilihan dengan saya tetapi tidak sesuai dengan kondisi saya sendiri, ya biarkanlah mereka menjalankan pilihan mereka sendiri. Good for you, but not for me.

Bagaimana dengan ibu-ibu yang lain? Ada tips dalam menjalankan peran sekarang? 

Friday, October 05, 2018

Skin care on a budget


Setelah terjun ke dunia skin care dalam beberapa tahun ini, ternyata skin care ini sama ratjunnya seperti hal-hal syahwat lainnya, bikin kantong bolong! #sobatmisqueen. Seperti pada ratjun-ratjun lainnya, produk skin care juga memiliki range harga yang beragam. Apalagi ada rupa, ada harga. Semakin mahal skin care, semakin kelihatan hasilnya. Kalau kalap, bisa-bisa budget yang lain juga kemakan *ups*But worry not, berdasarkan pengalaman yang masih seuprit ini, ada tips dan trik yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan dompet #sobatmisqueen!

1. Urut produk dari harga terendah ke tertinggi
Trik ini perlu usaha yang cukup besar untuk survei harga produk-produk incaran. Dari produk lokal atau luar, produk yang dijual bebas di toko atau tempat tertentu, produk organik, dan lain-lain. Kita bisa buat daftar produk yang ingin kita gunakan dan urutkan harganya mulai dari yang terendah. Dengan harapan kalau produk dengan harga yang rendah kulit kita sudah cocok, berarti alhamdulillah, dompet lebih aman. :D

2. Sample/mini size/travel size/trial kit is your best friend!
Sekarang banyak sekali dijual skin care berukuran kecil cimit-cimit. Skin care berukuran kecil ini cocok sekali kalau kita ingin coba-coba dulu. Kalau cocok, bisa beli ukuran aslinya atau kalau mau beli yang kecil terus, engga ada yang melarang juga kok! :D

3. DIY Sheetmask
Kalau sudah pakai sheetmask, jangan langsung buang sisa essence-nya. Ada beberapa sheetmask yang saking banyak sisa essence-nya, bisa digunakan untuk sheetmask kedua. Cara pertama, untuk sheetmask kedua bisa menggunakan compressed sheetmask yang dibeli sendiri (saya beli di Minis*) dan dicampur dengan sisa essence. Kalau sisa essence terlalu sedikit, saya kadang tambahkan hydrating toner supaya agak banyak cairan yang diserap sheetmask dan lebih nempel di wajah. Cara kedua, kalau kehabisan sheetmask, saatnya pakai Chizu Saeki Method (CSM)! Pakai kapas yang dituangkan essence (dan toner, kalau kurang) dan ditempelkan ke bagian-bagian wajah, seperti pipi, kening, dagu, atau bagian lain yang bermasalah.

4. Preloved
Selain jualan preloved baju, sekarang banyak juga yang menjual preloved skin care. Kebanyakan alasan utama skin care tersebut dijual ya karena setelah dicoba pakai engga cocok di wajah. Kesempatan emas untuk membeli produk incaran dengan harga yang murah! Saat beli preloved skin care ini perlu diperhatikan tanggal kadaluarsa dan higienitas produk. Kalau preloved skin care saya lebih memilih untuk produk dengan kemasan botol atau pump karena higienitasnya bisa lebih terjaga dibanding produk dengan jar.

5. Share in Jar/Bottle
Yang marak dalam dunia per-skin care-an saat ini adalah sharing skin care di botol atau kontainer kecil. Cocok untuk produk-produk yang belum ada sample atau mini size-nya. Jenis ukuran botol atau kontainer juga banyak, bisa disesuaikan dengan budget dan keinginan. Perlu dipastikan juga higienitas dari kontainernya, pilih penjual yang juga perhatian terhadap hal ini.

6. Modis
Alias modal diskon! Kalau yang ini harus selalu sigap dalam mencari info-info diskon produk yang kita incar. Ikuti akun-akun sosial media produk dan toko-toko online supaya engga ketinggalan informasinya.

Engga susah kan untuk menyelamatkan dompet dari keratjunan skin care ini? Siapkan budgetnya dan selamat berburu skin care! :)

Tuesday, September 11, 2018

Manfaat Membaca Fiksi


Fiksi seringkali dipandang sebelah mata karena dianggap sebagai khayalan semata. Tunggu dulu. Membaca buku fiksi sama-sama bermanfaat lho seperti membaca buku non-fiksi. Apa saja manfaat membaca fiksi?

1. Hiburan
Menurut Wikipedia,
Fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi—dengan kata lain, tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta. ... Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya.
Memang fiksi adalah cerita khayalan sesuai imajinasi penulisnya, tetapi di situlah kekuatan fiksi. Penulis dapat menciptakan suatu dunia lain yang berbeda dengan kenyataan dan mengajak pembaca untuk 'merasakan' dunia yang berbeda itu. Sensasi ini menjadi hiburan tersendiri bagi pembaca hingga larut dalam dunia khayalan penulis. 

2. Menambah pengetahuan dengan cara menyenangkan
Tidak sedikit penulis yang melakukan riset mendalam untuk menunjang cerita. Sebut saja, serial Supernova dari Dee Lestari. Kadang baca serial Supernova ini seperti baca karya ilmiah yang dinovelkan. Buku terbarunya, Aroma Karsa, mengeksplor dengan detil tentang indera penciuman manusia, anggrek, dan parfum. Lain lagi dengan serial Dan Brown yang mengungkap banyak sejarah peradaban manusia dengan alur cerita yang menegangkan. Membaca buku-buku seperti ini tidak jarang menimbulkan rasa ingin tahu tentang fakta-fakta yang diceritakan.

3. Meningkatkan kualitas tidur
Berhubungan dengan poin 1, membaca fiksi dapat menjadi hiburan sebelum tidur. Hiburan ini membuat badan menjadi rileks, sehingga bisa tidur lebih lelap. Perlu diingat, hati-hati juga dengan pilihan ceritanya, jangan sampai malah mengganggu waktu tidur karena penasaran membaca bab-bab selanjutnya.

4. Meningkatkan kepekaan terhadap orang lain
Ada kalanya kita ikut larut secara emosi ketika membaca fiksi. Ternyata, emosi yang turun naik itu melatih kepekaan kita terhadap orang lain. Saat membaca, kita belajar mengenali emosi tokoh-tokoh dalam fiksi, mengapa mereka menangis atau marah atau bersikap biasa saja. Selain itu, kita juga melatih untuk melihat perspektif orang lain melalui tokoh-tokohnya.

5. Menambah perbendaharaan kata
Bahasa terus berkembang, banyak kata yang diserap dari bahasa asing atau dialihbahasakan atau dibuat kata baru. Tidak ada cara lain untuk tahu kata-kata baru selain dari membaca. Novel terakhir yang saya baca adalah Aroma Karsa dan banyak kata yang baru saya temui, seperti tempiar dan tergemap.

Cukup banyak ya manfaat membaca fiksi. Mungkin untuk sebagian orang, alasan tidak mau membaca fiksi adalah malas membaca novel buku yang tebal-tebal. Tidak perlu terburu-buru. Untuk memulai, bisa pilih cerita yang tidak terlalu panjang, misalnya kumpulan cerpen atau kumpulan flash fiction yang lebih pendek lagi (Pesan antologi flash fiction saya dan teman-teman di sini ;) ). Lalu, pilih genre tulisan yang disukai, seperti fantasi, chick-lit, petualangan, thriller, horor, dll.

Selamat menemukan asiknya membaca fiksi!

Friday, August 31, 2018

#Modyarhood: Tentang Mainan Anak

Bicara tentang mainan anak, saya termasuk yang pemilih, berusaha memilihkan mainan yang sesuai dengan usia, kebutuhan dan memang belum ada di rumah. Hal ini juga untuk menghindari tumpukan mainan yang terlalu banyak dan berantakan. Alhamdulillah anak saya bisa diajak kerjasama, kalau ke toko mainan jarang minta untuk dibelikan. Paling dipegang-pegang aja. Anak solehaaaa. #dompetaman

Tapiii...yang saya perhatikan, meskipun sudah dibelikan mainan yang sesuai usia, belum tentu anak akan tertarik atau malah cepat bosan dengan mainannya. Awalnya sedih sih, udah dibeli tapi engga dipakai. Tapi ternyata, mainan itu bisa jadi dimainkan lagi......beberapa bulan kemudian! Bahkan bisa sampai setahun, baru anak menemukan asiknya main mainan itu. Jadi, kalau ada yang senasib, engga usah sedih dulu, mungkin anak memang belum "butuh" dengan mainan itu.

Apalagi anak saya tipe yang engga mau diam, kalau dia sudah bosan dengan mainannya, saya menahan dulu untuk membeli mainan baru. Saya membebaskan anak untuk memakai barang-barang di rumah. Daripada stress tiap kali lihat dia pegang-pegang barang, menurut saya lebih baik membebaskan selama tidak berbahaya dan dalam pengawasan. Lebih aman untuk emosi saya dan anak :D (Remember, happy mom happy child!). Anak juga akan tertantang untuk berkreasi menggunakan barang-barang yang sudah ada. Berimajinasi.

- Main dokter-dokteran dengan botol obat luka
- Main cetak pasir kinetik dengan alat masak mainan
- Main beras dan sayur untuk masak-masakan
- Main tutup panci sebagai alat musik
- Main panci sebagai topi
- Main bowling pake botol-botol minum dan bola, dll.


iseng banget XD

Karena saya membebaskan anak untuk menggunakan barang-barang yang ada di rumah, childproofing menjadi penting. Benda-benda tajam dan berbahaya dijauhkan dari jangkauan anak dan menghindari terlalu banyak perabotan mudah pecah (kalau ini alasan utamanya malas beli perabotan aja sih karena rumah masih ngontrak hehehe).

Selain itu, di rumah saya juga membebaskan coret-coret tembok! Mungkin kalau orang lain bertamu ke rumah akan geleng-geleng melihat tembok-temboknya, but this is my house, my rule. :D


washi tape ditempel-tempel T_T padahal kan cita-citanya dipake buat journalling. baru cita-cita doang tapi. huehuehue.

Menurut Femi Olivia di bukunya "Gembira Corat-Coret":
Apalagi tembok bisa dibersihkan dari coretan, tapi kalau hati anak yang sedih karena dimarahi akibat mengotori tembok akan sulit diobati. Jadi jangan buru-buru melarang anak Anda coret-coret, tapi sediakan media yang tepat! Jika masih gagal, siapkan selalu cat tembok baru, karena kreativitas anak jauh lebih mahal ketimbang cat tembok.
See, selama engga berbahaya, bebaskaan saja permirsaaahhh :D

Tulisan ini dibuat dalam rangka ikutan proyek #Modyarhood oleh @byputy dan @mamamolilo.

Monday, August 13, 2018

Yang Lebih Baik dari Mainan

Suatu hari saya menemukan sebuah blog, The Babybirds, cerita tentang keluarga kecil kreatif yang senang membuat macam-macam DIY. Salah satu yang saya sukai dari keluarga kecil ini adalah kebiasaan mereka dalam merayakan ulang tahun anaknya, bukan dengan limpahan hadiah tetapi pergi liburan bersama keluarga. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel yang sejalan dengan kebiasaan The Babybirds ini. Daripada membelikan mainan baru, hadiah yang lebih baik untuk anak adalah dengan memberikannya pengalaman baru.

1. Stimulasi Otak Anak 
Liburan tidak hanya berguna untuk men-charge baterai orang dewasa, untuk anak pun perlu. Liburan ternyata juga menstimulasi perkembangan otak anak. Datang ke tempat-tempat baru menstimulasi otak anak area limbik bagian dalam, area "PLAY" dan area "SEEKING". Bagian ini jarang terstimulasi jika hanya di rumah saja. Area "PLAY" terstimulasi ketika mengubur kaki di dalam pasir atau bermain ciprat-ciprat air ketika berenang. Area "SEEKING" terstimulasi ketika mengeksplorasi tempat-tempat baru.

2. Membentuk kepribadian anak
Otak adalah organ tubuh yang unik. Area-area otak seperti otot yang perlu dilatih. Dengan lebih sering stimulasi area "PLAY" dan "SEEKING", membantu anak membentuk kemampuannya untuk menjadi lebih kreatif. Hal ini tentunya berguna hingga dewasa nanti.

3. Membangun hubungan emosional yang lebih baik
Berkegiatan bersama dapat menghasilkan hormon-hormon "bahagia" seperti oksitosin dan dopamine. Dengan perasaan bahagia tentu bisa mempererat hubungan antar keluarga lebih baik lagi.

Jadi tidak perlu ragu-ragu lagi untuk merencanakan liburan keluarga ya. Bisa dimulai dari yang sederhana, pergi piknik ke taman kota yang belum pernah didatangi. Bisa juga mengikuti jejak The Babybirds yang sudah melanglangbuana di dalam dan luar negeri. Atur saja sesuai budget masing-masing. :)

Friday, August 03, 2018

Lembaran baru

Beberapa waktu yang lalu ikut kulwhapp di Kejar (Kelas Belajar) Menulis IP Tangsel, narasumbernya Indari Mastuti - owner Indscript Creative. Tema kulwhappnya “Konsistensi Menulis”, ringan tapi sangat menampar. Lihat aja blog ini, tiap bulannya bisa dihitung pakai jari berapa tulisan yang diposting.

Mbak Indari ini sudah menelurkan 65 buku sejak 2004. Wow kan. Kenapa bisa sebanyak itu? Apa rahasianya? Konsisten menulis setiap hari. Dari sharingnya, konsistensi menulisnya benar-benar diukur, ada matriksnya dan ada targetnya. Kalau hari ini tidak mencapai target, akan di-rollover ke hari berikutnya. Macam kuota paket data.

Rahasia ini bukan hal baru sebenarnya. Setiap penulis hebat ditanya pasti jawabannya itu. Menulislah. Menulislah setiap hari. Meski hanya satu kalimat. Paksa pantat itu untuk duduk di depan laptop atau buku tulis, lalu menulis.

Selama ini, saya merasanya memang kurang motivasi untuk menulis. Kurang ‘paksaan’. Salah satu tujuan saya ikut Kejar Menulis dan Kontributor Artikel IP Tangsel ini untuk menciptakan ‘paksaan’ itu. Minimal satu tulisan setiap bulan untuk setoran artikel.

Matriks dan target ini bisa jadi pedang bermata dua. Bisa jadi paksaan yang positif, bisa jadi negatif. Bisa jadi beban yang bikin stres sendiri. Stres bisa bikin buntu ide. Buntu ide bisa bikin matriks dan target tidak tercapai. Jadinya, lingkaran setan.

Untuk saya sepertinya akan pelan-pelan dulu. Matriks bisa dipakai untuk evaluasi konsistensi dalam menulis. Target disesuaikan dengan tugas Kejar Menulis dan Kontributor Artikel. Nilai plus kalau ada ide tambahan yang bisa ditulis. Hehe.

Selain matriks dan target, mbak Indari juga mempunyai alokasi waktu tetap untuk menulis. Waktu menulis dijadwalkan, bukan di waktu-waktu sisa.

Selama ikut kelas di IP Tangsel yang banyak tugas menulisnya, saya jadi mempunyai waktu menulis yang pas. Setelah subuh, sebelum anak bangun. Atau selama anak tidur siang, dengan catatan engga ikut ketiduran. Hehe.

Tapi masalahnya, selama kelas libur, menulisnya ya libur juga. Kalau mau konsisten kan seharusnya menulis terus yaaa.

Oke, berhubung di Kejar Menulis mulai membuka lembaran baru, mari mulai konsisten menulisnya. *Pecut pecut pecut!*

Saturday, July 14, 2018

Membangun Self-esteem Anak Sensitif


Menyambung dengan topik anak sensitif yang pernah ditulis sebelumnya, salah satu kunci untuk membesarkan anak sensitif adalah membangun harga diri anak atau self-esteem. Bagaimana cara orang tua untuk membangun self-esteem itu?

1. Berikan contoh oleh orang tua
Kadang di lingkungan luar, kesensitifan anak dapat dianggap aneh atau tidak biasa. Hal ini dapat mempengaruhi pandangan anak terhadap dirinya sendiri, dengan menganggap dirinya aneh atau menjadi tidak percaya diri. Orang tua perlu yakin jika pandangan anak sensitif itu aneh hanya pendapat saja. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Orang tua juga harus percaya diri untuk memiliki anak sensitif.

2. Kata-kata yang berharga
Akui kesensitifan anak. Akui bahwa kesensitifannya tidak membuatnya menjadi lebih buruk dari anak lain. Puji sifat sensitifnya, perhatian terhadap detail atau berempati tinggi, itu adalah kelebihannya yang patut dimiliki.

3. Habiskan waktu bersama anak
Psikiater anak merekomendasikan untuk membersamai anak setengah jam setiap hari. Biarkan anak yang memilih permainannya, orang tua hanya mengikuti. Ini dapat menyembuhkan luka, seperti rasa sedih karena bersalah atau rasa malu.

4. Hargai anak
Hargai perasaan anak, kebutuhannya, pendapat, pilihan dan keputusan. Meskipun pilihannya salah, hargai keinginannya dalam memilih. Misal, "Ibu tahu kamu sangat suka kue, tapi kamu harus makan dulu." atau "Iya, main ke taman memang menyenangkan, tapi ini sudah malam, sudah waktunya tidur."

5. Bantu anak mengenali dirinya dalam berhubungan dengan orang lain
Anak sensitif perlu belajar jika tidak semua orang seperti dirinya. Kadang orang lain mengatakan sesuatu yang tidak mereka maksudkan, berbuat impulsif, atau tidak semua orang bisa membaca hal yang tersirat. Untuk orang-orang seperti ini, anak perlu latihan untuk mengungkapkan pendapatnya atau apa yang sebenarnya ia inginkan.

6. Ungkap kekuatan ketika anak mengalami kegagalan
Ketika anak sensitif mengalami kegagalan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah akui perasaannya. Lalu, ceritakan hal serupa yang bisa menunjukkan kekuatannya. Misalnya, "Adik sedih ya tidak dapat juara menggambar. Tidak apa-apa, kemarin adik kan sudah menang lomba menari bersama teman-teman." Tidak perlu berlebihan dalam memuji, ungkapkan pendapat orang tua dengan tulus.

Baru satu kunci pengasuhan yang dibaca tapi sudah banyak PR yang harus dilakukan. Bukunya juga masih banyak halaman yang belum dibaca. Mudah-mudahan bisa ditulis lagi di lain kesempatan.

(Dirangkum dari buku The Highly Sensitive Child oleh Elaine Aron)

Friday, June 22, 2018

Book Review: Yuk, Jadi Orangtua Shalih!

Di zaman now, arus informasi mengenai parenting mengalir sangat kencang. Banyak pakar parenting yang muncul di luar sana, orang tua tinggal pilih mau ikut madzhab mana. Adalah Abah Ihsan yang cukup populer dengan pelatihan Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)-nya. Pelatihan ini disenangi karena umumnya yang menjadi orangtua belum dibekali dengan ilmu yang mumpuni dalam pengasuhan anak. Abah Ihsan pun menerbitkan buku parenting yang terdiri dari 2 jilid, kali ini yang akan saya rangkum adalah buku jilid pertama Yuk, Jadi Orangtua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih.



Seperti judul buku, Abah Ihsan mengajak kita untuk mengevaluasi diri dahulu sebelum menghadapi anak: menjadi orangtua shalih terlebih dahulu sebelum meminta anak shalih. Karena keteladanan sangat penting dalam pengasuhan anak.

Menurut Abah Ihsan, sesungguhnya orangtua telah diberi lima karunia sebagai modal dalam pengasuhan anak:

1. Karunia Belajar
Belajarlah sebagaimana anak belajar. Setiap tahapan pertumbuhan anak, anak belajar dengan caranya masing-masing. Penting bagi orangtua untuk melihat dari 'kacamata' anak. Jika anak sedang bermain, sesungguhnya ia sedang belajar. Jika ia senang mengacak-acak isi tas, ia sedang melatih otot tangannya, sensorinya, dan koordinasi mata dan tangannya. Jika orangtua mengerti hal ini, tentu orangtua tidak akan buru-buru memarahi, yang malah akan menghambat proses belajarnya anak.

2. Karunia Konsistensi
Tidak jarang orang tua melonggarkan aturan karena alasan lelah atau anak merengek tak habis-habisnya. Konsistensi adalah salah satu kunci dalam pengasuhan anak. Konsistensi memberi anak rasa aman dan membantu anak merasa bertanggung jawab karena tahu apa yang diharapkan dari dirinya. Konsistenlah antara ayah dan ibu, konsisten dalam aturan, konsisten dalam rutinitas, konsisten antara kata dan perbuatan orang tua, dan konsisten dalam larangan.

3. Karunia Kiblat
Kiblat di sini maksudnya fokus. Kadang orang tua lupa untuk memfokuskan pada hal-hal yang lebih baik. Jika anak melakukan kegagalan dan orang tua fokus pada kegagalan itu. bisa berdampak negatif pada anak. Fokuslah pada keberhasilan, bahwa kegagalan adalah proses menuju keberhasilan. Fokuslah pada kelebihan, bukan kekurangan. Fokuslah pada solusi, bukan masalah.

4. Karunia Mendengarkan
Ada alasan Allah SWT menganugrahkan dua telinga dan satu mulut. Dengarkan dengan baik sebelum bereaksi (berbicara). Pertama, dengarkan diri sendiri. Telusuri diri orang tua adakah luka-luka masa kecil yang belum selesai. Selesaikan dan berdamailah. Dengarkan pasangan, komunikasi yang baik dengan pasangan menjadikan orangtua tim yang kuat untuk menghadapi berbagai masalah. Dengarkan anak, pahami kebutuhan dan kesulitannya. Berempati dan hargai perasaannya.

5. Karunia Al Shaffat
Komunikasi efektif adalah salah satu kunci penting dalam pengasuhan anak. Untuk membangun komunikasi efektif antara orangtua dan anak yang bisa dilakukan di antaranya adalah komunikasikan penerimaan. Setelah orang tua mendengarkan anak (karunia mendengarkan), orang tua menerima dan paham perasaan anak sepenuhnya. Penerimaan dari orang tua membuat anak lebih mudah berbagi permasalahan yang dihadapinya. Tidak lupa menggunakan kalimat positif dalam penyampaian kepada anak (karunia kiblat).

Yang saya senangi dari buku ini tidak banyak teori parenting yang bertele-tele. Di buku pertama ini, Abah Ihsan menjabarkan panduan-panduan praktis dalam berinteraksi antara orangtua dan anak, dengan disertai studi kasus yang dekat dengan keseharian. Kalau dibaca sepertinya mudah ya tapi prakteknya bisa lain ceritanya. Tetap semangat!

(Gambar dari auladi.net)

Sunday, June 03, 2018

Flashes of Life (Antologi)

Alhamdulillah, akhirnya setelah 12 tahun, bikin buku lagi! Hehehe.


Seperti yang pertama, bukunya antologi, kroyokan dengan yang lain, karena belum sanggup bikin sendiri. Kali ini genrenya fiksi, lebih tepatnya flash fiction.

Apa sih flash fiction?

Flash fiction adalah cerita yang sangat pendek yang umumnya selesai beberapa menit saja, in a flash! Karena ceritanya yang sangat pendek, untuk membuat flash fiction ini lebih menarik, biasanya dibuat plot twist yang bikin 'nendang'. Awal pengerjaan buku ini dari kulwhapp tentang flash fiction yang diakhiri dengan challenge ke peserta untuk membuat flash fiction. Iseng-iseng kirim, eh ternyata diterima!

Di buku Flashes of Life (FoL) ini mengangkat tema kehidupan manusia dari anak-anak, dewasa, masa tua, hingga kematian. Engga nanggung-nanggung, ada 99 cerita yang bisa dilahap!


Dan saya cuma kebagian satu cerita. Hahahaha.

Penasaran?

Beli bukunyaaa! :D

Bisa langsung pesan ke penerbit di sini. Selamat menikmati! :)

Saturday, May 19, 2018

Pengalaman Buat Paspor

Setelah bertahun-tahun paspor saya kadaluarsa, akhirnya semangat memperpanjang karena tiba-tiba ada 'motivasi'. Haha. Kalau baca-baca pengalaman orang yang sudah pernah urus paspor, sekarang urus paspor sepertinya mudah dan simpel. Bahkan bisa dilakukan di kantor imigrasi mana pun tanpa perlu melihat asal KTP. Kali ini, saya dan anak dengan kartu identitas Bandung tinggal di daerah Serpong, mencoba peruntungan membuat paspor di daerah Jabodetabek.

Langkah pembuatan paspor:
1. Daftar online lewat aplikasi Antrian Paspor


Di aplikasi ini untuk daftar antrian untuk mengurus paspor. Di dalam aplikasi akan ada sederet kantor imigrasi yang bisa dijangkau dari rumah kita karena aplikasinya berbasis GPS. Dari deretan kantor imigrasi ini tinggal dipilih kantor mana yang masih punya slot antrian. Berhubung saya daftarnya agak mendadak, kantor imigrasi 'terdekat' yang masih punya slot antrian ada di......Depok. Wakwawwaw. Setelah pilih hari dan jam yang diinginkan, nanti akan ada kode booking dan QR Code yang perlu ditunjukkan ke petugas. Jangan lupa di-screenshot, untuk back-up kalau tiba-tiba paket data habis. Hehehe.

2. Datang ke Kantor Imigrasi dengan berkas dokumen yang dibutuhkan dan mengisi form pengajuan paspor


Salah satu alasan pemilihan Kantor Imigrasi Depok karena mereka punya channel Youtube sendiri dan video yang dibuat cukup informatif. Asumsinya, pelayanannya bisa lebih oke dong karena sudah melek digital.

Jadwal antrian saya jam 14:00. Karena perjalanan yang sedikit macet, saya datang jam 14:00 lebih sedikit. Di jalan sudah khawatir engga boleh ikut antrian karena telat, padahal sudah jauh-jauh dari Serpong. Huhuhu. Alhamdulillah, boleh masuk meskipun telat sedikit. Tidak bisa jadi alasan boleh telat datang ya, karena tepat waktu itu lebih baik!

Anehnya, ketika datang ke kantor imigrasi, saya kira langsung bisa antri untuk pengecekan dokumen tapi ternyata masih harus mengisi form lagi. Padahal sudah ada data di e-ktp, seharusnya bisa menggunakan data-data tersebut, kecuali data tambahan yang diperlukan atau memang ada perbedaan data dengan e-ktp. Ya engga siiih?

Dokumen yang dibutuhkan untuk membuat paspor dewasa:
  1. KTP
  2. Kartu Keluarga
  3. Akte lahir/Ijazah/Surat Nikah/Baptis

Dokumen yang dibutuhkan untuk membuat paspor anak di bawah 17 tahun:
  1. KTP Orang tua
  2. Kartu Keluarga
  3. Akte lahir
  4. Surat Nikah/Surat Cerai + Hak Asuh
  5. Surat Izin Orang tua (dapat di-download di sini)

Karena paspor saya sudah kadaluarsa bertahun-tahun, saya kira saya perlu mengikuti syarat paspor baru, ternyata tidak. Tetap mengikuti syarat dokumen perpanjang paspor dengan membawa:
  1. KTP
  2. Paspor lama

Semua dokumen asli dan fotokopinya (ukuran A4, tidak dipotong-potong) dibawa ketika pengurusan paspor ini. Selain itu, jangan lupa bawa dan memakai pulpen hitam untuk pengisian form. Siapkan juga materai 6000 beberapa buah untuk dilampirkan di surat pernyataan.


3. Cek berkas
Setelah form diisi, petugas akan memberikan nomor antri untuk pengecekan berkas dokumen yang dibutuhkan. Lumayan lama juga nunggunya, sekitar satu jam. Mungkin karena harus dicek baik-baik dokumen yang dibawa ya. Ada saja orang yang kurang dokumen atau salah fotokopi, jadi harus bolak-balik dicek. Selama dokumen lengkap, seharusnya tidak ada masalah.

Yang saya salut dengan Kantor Imigrasi Depok ini, fasilitasnya cukup lengkap. Di tempat menunggu disediakan minum, snack, dan tempat charging. Selain itu ada kantin, ruang menyusui, mushalla, dan ada penyelamat emak-emak yang bawa anak kecil: playground! Looooveee. Mudah-mudahan di kantor imigrasi lain seperti ini juga ya.


4. Wawancara dan foto
Jika berkas sudah lengkap dilanjutkan dengan antrian wawancara dan foto untuk paspornya. Wawancaranya biasa saja sih, engga seperti wawancara kerja yang banyak pertanyaannya. Santai saja. Selesai foto, akan mendapatkan bukti pembuatan paspor dari petugas sebagai dasar pembayaran paspor di bank dan pengambilan nanti.

5. Pembayaran paspor
Katanya sih pembayaran paspor bisa dilakukan di bank mana saja tapi saya engga terlalu yakin. Hahaha. Jadi pilih saja pembayaran di bank-bank besar supaya aman. Alternatifnya, di kantor imigrasi Depok ini ada mobil Pos Indonesia yang dapat digunakan sebagai tempat pembayaran kalau merasa jauh ke bank. Biaya pembuatan paspor 48 halaman adalah Rp. 355.000,-

6. Pengambilan paspor
Sudah dibayar di bank, akan mendapatkan bukti lunas pembayaran yang digunakan untuk pengambilan paspor di kantor imigrasi. Dari petugas imigrasi, diberi alternatif untuk mendaftar di mobil Pos Indonesia agar paspor tersebut dikirimkan ke rumah. Jadi tidak perlu bolak-balik. Sayang, ketika saya selesai proses pembuatan paspor, sudah terlalu sore dan mobil Posnya sudah tutup :(

Cukup mudah kan pembuatan paspornya? Jadi, jalan-jalan kemana kita? :)

Saturday, April 28, 2018

Yang Saya Pelajari Tentang Skin Care


Beberapa waktu yang lalu saya membaca IG story Kinan's Review tentang skin care. Salah satu story-nya, menyebutkan bahwa hydrating dan moisturizing adalah dua hal yang berbeda. Saya pernah bertanya-tanya tentang hal ini. Kirain sama saja ya. Ternyata tidak.

Hydrate vs Moisture
Hydrate atau hidrasi berkaitan dengan kandungan air di kulit. Perawatan kulit yang menghidrasi artinya perawatan yang meningkatkan kandungan air di dalam kulit sehingga kulit menjadi sehat dan kenyal. Sedangkan moisture atau kelembapan berkaitan dengan kandungan minyak di kulit. Kulit memiliki kelenjar minyak yang menghasilkan minyak untuk menjaga kandungan air di dalam kulit sehingga tidak tampak kering dan kasar. Kulit yang sehat terjadi karena adanya keseimbangan antara air dan minyak.

Mind. Blown.

Evaluasi Kulit dan Skin Care
Dengan fakta ini membuat saya mengevaluasi kembali kondisi kulit dan skin care yang saya miliki. Selama ini kondisi kulit saya adalah berminyak dan mudah berjerawat. Bisa jadi lebihnya minyak karena kondisi kelembapan kulit yang hilang karena moisture barrier atau skin barrier yang saya miliki rusak. Kelebihan minyak ini mengundang betahnya bakteri-bakteri penyebab jerawat.

Mengapa kelembapan kulit saya bisa hilang? Yang saya curigai adalah pencuci wajah yang terlalu mengeringkan kulit, seperti kandungan SLS (Sodium Lauryl Sulfate) yang membuat kulit terasa kesat padahal rasa kesat ini menghapus minyak yang dibutuhkan kulit. Selain itu, kandungan alkohol dalam skin care juga bisa mengeringkan kulit. Selama ini saya memakai toner yang bersifat mattifying atau menghilangkan kilap wajah yang digunakan setelah mencuci muka. Sudah sebelumnya kulit kering karena SLS, ditambahkan dengan alkohol, kulit menjadi semakin kering. Keadaan kulit seperti ini yang membuat kelenjar minyak di kulit malah mengeluarkan minyak lebih banyak.

Dengan menggunakan website cosDNA.com, saya mulai memperhatikan kandungan-kandungan di dalam skin care yang saya miliki. Ternyata beberapa skin care yang saya miliki memang berpotensi untuk menimbulkan jerawat dan iritasi.

(Disclaimer: Website cosDNA.com memang belum sepenuhnya dapat dipercaya dengan penilaiannya tetapi setidaknya untuk saya menambah pengetahuan tentang kandungan skin care. Formula kandungan skin care adalah sesuatu yang kompleks. Suatu kandungan yang komedogenik belum tentu menjadi komedogenik jika digabungkan dengan kandungan lain. Sebaliknya, suatu kandungan non-komedogenik jika digabungkan dengan kandungan lain bisa berubah menjadi komedogenik. Atau suatu kandungan menjadi komedogenik bisa jadi tergantung dengan besar komposisinya dalam skin care. Kembali lagi untuk hasil yang valid adalah dengan mencoba skin care itu sendiri.)

Selain itu, saya curigai karena pembersihan wajah yang tidak menyeluruh. Seperti yang sudah digaung-gaungkan oleh semua orang, pemakaian sunscreen adalah wajib. Saya memakai sunscreen setiap hari. Tetapi ternyata sunscreen bisa jadi tidak semudah itu dibersihkan dengan pencuci wajah biasa yang biasanya berbahan dasar air. Ada kandungan di dalam sunscreen yang hanya bisa dibersihkan dengan pencuci wajah berbahan dasar minyak. Karena saya bukan pemakai make-up, bisa jadi sunscreen ini yang tidak terhapus dengan baik di wajah menyebabkan tersumbatnya pori dan menimbulkan jerawat.

Perawatan Rutin
Oleh karena itu, saya memulai double cleansing setiap hari. Pencucian wajah pertama dengan pembersih wajah berbahan dasar minyak dan yang kedua dengan berbahan dasar air. Awalnya terasa agak merepotkan memang, tapi lama-lama menjadi terbiasa. Setelah mencuci muka, saya mencoba memberikan hidrasi dan kelembapan dengan toner dan pelembap. Terakhir, jika di pagi hari saya tambahkan sunscreen.

Selain perawatan dari luar untuk mengobati jerawat, saya memulai perawatan dari dalam alias menjaga pola makanan untuk mencegah jerawat. Makanan berindeks glikemi tinggi yang biasanya terdapat dalam makanan manis ternyata dapat memicu timbulnya jerawat. Makanan berindeks glikemi tinggi dapat meningkatkan hormon insulin yang mendorong kelenjar minyak di kulit untuk mengeluarkan minyaknya.

Semua ini adalah hipotesis saya semata dengan googling sana sini. Mungkin bisa diterapkan untuk orang lain, bisa jadi tidak karena kondisi kulit orang bisa bermacam-macam. But anyway, it seems work for me!

Sumber bacaan:
https://miignon.com/40354-2
http://editorial.femaledaily.com/blog/2017/08/14/menjaga-moisture-barrier-kulit-glowing-dan-bebas-jerawat/
https://theklog.co/what-is-cosdna/
http://www.beautifulwithbrains.com/how-to-remove-sunscreen-right-way/
https://health.detik.com/diet/2175660/ilmuwan-pastikan-susu-dan-makanan-manis-bikin-jerawatan

(Gambar dari: https://vitamindy.deviantart.com/art/Self-Improvement-668897925)

Saturday, April 07, 2018

Kenali Anak Sensitif

Anak saya baru satu dan saya masih belajar setiap hari tentang pengasuhan anak. Dari waktu membersamai anak, saya menyadari bahwa anak saya cenderung sensitif.

Lalu saya menemukan sebuah buku, The Highly Sensitive Child oleh Elaine Aron, yang mengupas dengan dalam tentang anak sensitif. Dari buku ini ada sebuah kuesioner singkat untuk mengenali anak sensitif. 
Kuesioner anak sensitif (highly sensitive child):
1. Gampang terkejut
2. Terganggu dengan tekstur kain, jahitan dalam kaos kaki, label pakaian
3. Tidak suka kejutan
4. Belajar lebih baik dengan koreksi yang lembut dibanding hukuman
5. Seperti bisa membaca pikiran
6. Memiliki perbendaharaan kata yang banyak di usianya
7. Mengenali bau-bau yang berbeda meski sedikit
8. Memiliki rasa humor yang tinggi
9. Intuitif
10. Susah tidur setelah mengalami hari yang menyenangkan
11. Tidak suka dengan perubahan besar
12. Ingin berganti baju jika basah atau kotor
13. Banyak bertanya
14. Perfeksionis
15. Menyadari jika ada kecemasan orang lain
16. Lebih memilih permainan yang 'tenang'
17. Bertanya pertanyaan yang 'dalam' dan 'thought-provoking'
18. Sensitif terhadap rasa sakit
19. Terganggu dengan tempat yang ramai
20. Mudah menyadari perbedaan (barang berpindah, penampilan orang lain yg berbeda, dll)
21. Mempertimbangkan keamanan dahulu jika ingin memanjat tempat yang tinggi
22. Performansi terbaik ketika tidak ada orang lain
Jika ada 13 poin yang benar, bisa jadi anak adalah highly sensitive. Jika ada satu poin tapi sangat mencerminkan sifat anak, bisa jadi anak highly sensitive. Kuesioner ini bukan panduan baku untuk mengenali anak sensitif tetapi setidaknya bisa menjadi pegangan untuk mengevaluasi karakter anak. Jika memang anak termasuk anak sensitif, kita sebagai orang tua bisa mempersiapkan pengasuhan yang sesuai dengan karakternya. Di buku Elaine Aron ini dibahas juga bagaimana cara pengasuhan untuk anak sensitif, mudah-mudahan bisa ditulis di lain kesempatan.

Sunday, March 11, 2018

Persiapan Big Bad Wolf 2018

Pameran buku diskon Big Bad Wolf (BBW) datang lagiii! Wuwuwuwuwuwuuwuuu...

Ini adalah BBW ketiga dan ketiga kalinya saya ingin datang! As a bookworm, we know how it feels to be surrounded by books. Browsing through every cover and page. Heaven on earth. Inginnya semua buku dibeli tapi engga bisaaa.

Kalau melihat BBW sebelumnya, di BBW pertama kurang puas karena meninggalkan anak yang berumur di bawah setahun di rumah, masih nemplok banget. Akhirnya datang beberapa kali dengan waktu yang sebentar. Pernah sekali datang waktu istirahat kantor, sudah pilih-pilih buku, menuju kasir...maaak, panjang kali antriannya! Langsung balik kanan, buku dibalikkan ke tempatnya sambil mengingat-ingat letaknya dan berdoa semoga nanti sore bukunya masih ada. The perks of living close to ICE. Hihihi.

Hasil BBW1

BBW kedua datang dua kali, pertama waktu Preview Sale, datang malam hari sepulang kantor. Ramaiiinyaaa. Sampai engga sanggup ngantri kasir karena sudah terlalu malam. Alhamdulillah hasil nguping dari orang-orang di sebelah waktu ngantri, ternyata buku bisa dititipkan di tempat penitipan dan bisa diambil dalam waktu 1x24 jam. Jenius! Akhirnya buku dititip dan diambil besok paginya waktu sepi.

Kedatangan kedua cukup puas menghabiskan setengah hari meski harus menahan sakit kaki karena plantar fasciitis. Pas banget mulai sakitnya sehari sebelum BBW, tapi tetap dibela-belain untuk datang. Mana BBW kedua ini hall-nya lebih besar. Fiuh. Sampai ndeprok di pinggiran karena cape dan sakit kaki.

Hasil BBW 2

Di BBW kedua, saya lebih selektif, tidak hanya memilih buku dari blurb, tapi juga cek review di Goodreads, minimal bukunya punya rating 3.8. Pengalaman dari BBW yang pertama, dari buku yang dipilih, blurb-nya sih tampak oke, tapi setelah dibaca, B aja. Kan rugi ya. Bisa jadi buku yang engga dipilih ratingnya lebih bagus. Budget juga agak membengkak, karena selain beli sendiri di BBW, juga ikutan grup jastip. Ratjuuun semuaaa.

Selama datang ke BBW, meskipun banyak selentingan komplain yang terdengar, alhamdulillah saya engga dapat banyak masalah atau masalahnya memang engga terlalu dipikirkan. Engga dapat buku yang bagus karena udah diborong sis jastip, ya mungkin memang bukan rezeki. Antrian kasir yang panjang, ya wajar karena orang yang datang juga banyak. Kuncinya cuma sabar mengantri sambil baca buku yang dibeli. Hahaha. Semoga di BBW yang ketiga ini lebih baik lagi dibanding sebelumnya yaa.

Dengan semua komplain dan masalah yang terjadi, tetap engga kapok untuk datang ke BBW. Persiapan BBW yang ketiga ini hampir sama dengan yang sebelumnya:
1. Selektif dalam memilih buku, cek review di Goodreads minimal rating 3.8
2. Pakai alas kaki yang nyaman supaya sakit kakinya engga kambuh lagi
3. Bawa air minum atau cemilan kecil supaya engga perlu bolak-balik masuk hall kalau haus dan lapar
4. Belanja sesuai budget yang sudah disiapkan dari tahun lalu! Yes, setiap ketemu Rp.20.000 senang banget deh karena bisa ditabung buat BBW. Semoga kuat iman untuk berpegang pada budget!

Uang Rp.20.000 ditabung di dalam tempat bekas kripik. Hihihi.

C'mon BBW, i'm ready! Auuuuwwwwww!

Sunday, February 25, 2018

Revolusikan Pakaianmu!


Untuk sebagian perempuan, pakaian bisa menjadi kelemahannya. Lihat diskon baju, beli. Lihat motifnya lucu, beli. Lihat pakaian punya teman yang bagus, beli. Apalagi sekarang banyak banget platform belanja online yang memungkinkan hanya dengan mengetik jari, barang yang dibeli bisa sampai di depan rumah. Kalau tidak ditahan-tahan, pakaian suami bisa terusir dari lemari. Hahaha.

Konmari dan Capsule Wardrobe
Di tahun 2017 kemarin banyak berseliweran info tentang Konmari dan Capsule Wardrobe yang mengubah cara pandang saya terhadap pakaian. Saya belum selesai membaca buku Konmari tapi tertarik dengan konsep "spark joy"-nya, terutama untuk pakaian. Capsule Wardrobe konsepnya adalah membatasi pemakaian baju dalam rentang waktu tertentu. Karena konsep ini awalnya dibuat di negara 4 musim, jadi rentang waktu yang digunakan adalah 3-4 bulan per musim. Setiap musim baru dimulai, dilakukan pemilihan baju dengan jumlah tertentu (ada yang 37, 40, bahkan 12 baju saja) disesuaikan dengan musimnya. Dari pemilihan baju tersebut juga dilihat apakah bisa di-mix and match supaya tidak bosan.

Senang dan Nyaman
Melihat space di lemari yang semakin berkurang dan kondisi lemari yang berantakan, saya memutuskan untuk merevolusi pakaian saya. Dengan konsep "spark joy"-nya Konmari, saya memilah-milah pakaian mana yang memang membuat saya senang memilikinya dan mana yang tidak. Selain rasa "senang", saya juga menambahkan rasa "nyaman". Apakah saya senang dan nyaman memakai pakaian ini? Meskipun motifnya bagus tapi saya tidak nyaman atau tidak pede memakainya, akan saya pisahkan.

Palet Warna
Untuk Capsule Wardrobe belum bisa sepenuhnya saya lakukan tapi yang saya terapkan adalah konsep palet warna. Supaya tidak bosan dengan jumlah pakaian yang terbatas, palet warna bisa digunakan untuk memilih pakaian dengan warna-warna yang saling melengkapi. Untuk pakaian, saya "hanya" punya warna navy, biru, pink, maroon, tosca, ungu, abu dan hitam.  Dari kedua konsep itu, saya sisihkan pakaian saya yang:
1. Tidak membuat senang
2. Jarang digunakan karena tidak nyaman
3. Tidak masuk dalam palet warna

Get in, Get out
Selain Konmari dan Capsule Wardrobe, untuk membatasi jumlah pakaian saya menerapkan konsep Get in, Get out; yaitu jika ada satu pakaian baru (kadang saya lemah iman juga sih hahaha), maka satu pakaian lama harus disisihkan.

Dari penerapan konsep-konsep ini hasilnya lumayan juga, lemari jadi lebih rapi, space lemari bertambah dan membuat saya mikir berkali-kali kalau mau belanja pakaian. Dihitung-hitung, tahun kemarin jadi tahun paling sedikit belanja pakaian seumur punya uang sendiri. #prokprokprok

(disadur dari salah satu postingan 30haribercerita. Gambar dari tes.com)

Saturday, February 10, 2018

6 Tips Lebih Bahagia di Kondangan


Ada dua kata yang bisa membuat saya bahagia: makan gratis. Dulu saya suka sekali ikut orangtua ke acara pernikahan teman orangtua atau saudara. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah makan-makan! Tinggal pakai baju cantik, pasang senyum kalau ditanya, kenyang! Berdasarkan pengalaman mendatangi banyak acara pernikahan, berikut adalah tips yang bisa dilakukan supaya bisa mendapatkan hasil yang optimal.

1. Informasi Stand
Keliling dulu lihat stand-stand makanannya. Lebih bagus kl datang lebih cepat sebelum acara dimulai. Ruangan masih belum ramai dan pandangan ke arah stand-stand masih jelas. Lima menit cukup untuk keliling.

2. Target Stand
Setelah informasi stand-stand makanan didapat dengan lengkap, tentukan target stand yang ingin didatangi.

3. Porsi Makanan
Tentukan porsi makanannya. Porsi makanan tergantung jumlah target. Kalau targetnya banyak, porsi makan dibuat sedikit saja supaya ga cepet kenyang dan semua target stand makanan tercapai

4. Antrian
Perhatikan juga panjang antrian. Kalau antrian terlalu panjang dan mengular, skip saja. Jangan buang-buang waktu, kecuali ga ada pilihan lain

5. Lihat Piring Orang Lain
Lihat-lihat juga makanan di piring-piring orang lain. Mungkin ada makanan lain yang terlewat. Biasanya dessert yang suka habis duluan atau tempatnya tertutup orang-orang.

6. Doa untuk Pengantin
Jangan lupa doakan juga pengantinnya supaya makanannya lebih berkah. Sebagai bentuk terima kasih atas makanannya yang ena'-ena'.

 Selamat makan!
(disadur dari salah satu postingan 30haribercerita)

Saturday, February 03, 2018

Au Revoir Rabbithole

Hari ini dapat kabar kalau penerbit buku Rabbithole akan tutup (sementara). Sedih deh. Padahal buku-buku anaknya bagus-bagus. Saya punya yang buku emosi "Hmmm" dan "Suara Apa itu?". Sayang, dulu saya beli buku "Suara Apa Itu?" yang jenis paperback. Sekarang sudah engga jelas bentuknya lagi karena sering dibaca oleh anak.

Sangat disayangkan dengan rencana tutupnya Rabbithole. Entah apa penyebabnya, menjadi berkurang satu penerbit buku anak yang berkualitas. Saya senang beli buku-buku untuk anak untuk menumbuhkan minat bacanya. Dengan buku yang berkualitas, juga membantu menumbuhkan minat baca karena membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan.

Alhamdulillah kalau diperhatikan minat baca anak saya mulai tumbuh. Dalam sehari pasti ada buku yang dibaca. Entah dengan keinginan sendiri atau diajak oleh saya. Selain itu, penting juga memberi contoh dalam kegiatan membaca oleh orang tua. Anak saya juga sudah mengenali kebiasaan baca buku saya yang dilakukan sambil maskeran. Kalau sudah lihat saya pakai masker, anak saya akan bertanya, "Ibu mau baca buku?" Mudah-mudahan minat bacanya ada terus sampai dewasa.

Dari kabar hari ini, kira-kira nanti Rabbithole akan ada cuci gudang ga ya? *siap-siap dompet*

30 Hari Bercerita 2018


Di tahun 2018 ini saya ikut kembali 30 Hari Bercerita di Instagram. Awalnya ragu-ragu mau ikutan, dari dua kali ikut rasanya engga optimal. Banyak hari yang terlewat dan banyak rapel tulisan.

Setelah dipikir-pikir, banyak hari yang terlewat karena saya engga punya ide mau nulis apa. Tiba-tiba teringat tips bikin catatan kecil di ponsel untuk ide-ide tulisan yang muncul. Setelah dicoba, beberapa ide tertulis untuk beberapa hari. Akhirnya di detik-detik terakhir memutuskan untuk ikut tantangan ini.

Di akhir-akhir mulai terasa berat karena beban posting tiap hari. Ide-ide mulai menipis. Untuk ide untungnya tertolong dari tantangan tema 30 Hari Bercerita sendiri di hari-hari tertentu. Untuk tantangan tema juga tidak mudah karena tidak terpikir untuk mengembangkan tulisan seperti apa. Saya coba untuk membuat mind map dari tema atau googling tema tersebut. Seperti tema Hoaks yang blank banget. Akhirnya googling malah dapat berita tentang Hoaks Analyzer.

Tidak semua postingan dari catatan ide. Kadang saya posting apa yang terjadi di hari itu. Lumayan untuk nambah-nambah postingan.

Selain ide tulisan, saya pikir yang perlu diperhatikan adalah waktu posting tulisan. Dengan menentukan kapan akan posting tulisan membantu untuk disiplin menulis. Awalnya menentukan waktu istirahat siang untuk posting tulisan atau pagi hari sambil sarapan. Beberapa hari bisa disiplin seperti itu, tapi ada juga kadang di malam hari sebelum tidur.

Sebagian besar tulisan yang saya posting adalah non-fiksi. Terasa lebih mudah dibanding fiksi yang perlu usaha lebih. Kadang tulisannya pendek, kadang panjang. Kalau pendek artinya sedang buru-buru dan ga sempet mengembangkan tulisan. Sekedar menunaikan kewajiban posting saja.

Sedihnya, kali ini engga ada repost tulisan saya oleh 30 Hari Bercerita. Huhuhu. Dibanding sebelumnya yang ada satu kali repost. Padahal di tahun ini lebih niat lho. Hahaha. Yah, emang bukan itu sih tujuan utamanya. Yang penting berhasil menyelesaikan tantangan ini dengan baik dan lebih baik dari sebelumnya. Tetap semangat!


Sunday, January 28, 2018

31

Bulan ini saya "ganjil" berumur 31 tahun. Dengar angka 31 seperti udah tua banget tapi rasanya masih seperti berumur 24 tahun.
Tidak seperti waktu masih single yang biasanya saya habiskan hari dengan nonton bioskop dan makan enak, kali ini di rumah saja sambil menghitung syukur.
Semoga selalu bahagia dan berumur panjang!

Saturday, January 06, 2018

Mencoba hal baru


Melihat di tahun 2017 kemarin, saya punya banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal baru. Menyenangkan sekali. Dari dulu saya selalu terpikir hal-hal apa yang bisa saya lakukan supaya hidup ini tidak begitu-begitu saja. Hal-hal baru yang ingin dicoba ini memunculkan semangat-semangat kecil untuk memulai hari. Semangat melakukan sesuatu yang ditunggu-tunggu atau semangat hasil melakukan hal yang baru. Menurut artikel ini, melakukan hal-hal baru mempunyai banyak keuntungan untuk diri kita sendiri.

1. Mengalahkan rasa takut
Rasa takut kadang menjadi penyebab utama untuk memulai sesuatu yang baru. Takut tidak bisa dan takut gagal. Semua itu adalah kekhawatiran yang belum tentu terjadi. You never know until you tried.

2. Kenal diri lebih dalam
Melakukan sesuatu yang baru bisa jadi mengeluarkan potensi yang tidak pernah kita ketahui. Waktu ikut Kelas Jahit IIP, pengajarnya berkomentar kalau saya lancar menjahitnya. Wah, kalau tidak ikut kelas ini, saya tidak pernah tahu kalau saya bisa juga menjahit.

3. Menstimulasi kreativitas
Ketika melakukan hal-hal baru, otak kita terstimulasi untuk berpikir di luar "kotak". Memang kerja otak itu ajaib ya. Selain itu, saya pikir rasa senang dalam melakukan hal baru juga berperan dalam kreativitas. Refresh the brain!

4. Membuat diri kita lebih menonjol
Lebih bagus kalau hal-hal baru yang kita lakukan juga untuk menambah atau meningkatkan skill yang berguna. Tahun lalu saya ikut pelatihan singkat Basic Life Support Skill yang mengajarkan pemberian bantuan dalam keadaan darurat seperti tersedak, terluka atau membutuhkan CPR. Bukan skill yang ingin saya pakai sering-sering tapi tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga kan?

Mungkin bisa jadi masih banyak keuntungan yang dirasakan dalam mencoba hal baru. Hal-hal baru apa yang akan dicoba di tahun 2018 ini? :)

Wednesday, January 03, 2018

Uli dan Flip


Perkenalkan sahabat saya yang sudah menemani selama hampir 7,5 tahun. Sedikit flashback, kami bertemu seperti jodoh, tidak diduga-duga. Awalnya laptop yang saya incar bukan yg ini. Sudah menimbang-nimbang laptop yang lain sampai bolak-balik dua kali ke toko, tapi tiba-tiba ditawarkan ASUS UL20A a.k.a si Uli ini. Langsung klik, bungkus!

Katanya umur laptop (dan perangkat mobile lainnya) itu sekitar 4-5 tahun, optimalnya. Setelah itu performanya mulai menurun dan muncul teknologi-teknologi baru yang akan menggantikan. Seperti adik (atau cicit??) Uli yang baru muncul, ASUS Vivobook Flip TP410, mari kita sebut saja Flip.



Cakep ya?

Sepertinya Flip cocok untuk menggantikan Uli. Flip memiliki prosesor Intel® Core™ i7 7500U. Generasi ketujuh mikroprosesor Intel ini memiliki dua core dengan kecepatan maksimal 3,5 GHz dan daya 15W dinilai lebih efisien dalam power dan lebih tinggi performanya dibanding generasi sebelumnya. Dengan Hyper-Threading, mikroprosesor ini dapat menangani beberapa task tanpa hambatan yang berarti.

(Intermezzo: Ternyata Intel juga punya nama kode untuk prosesornya. Kalau Android punya kode makanan manis untuk sistem operasinya, Intel menggunakan nama tempat yang dekat dengan fasilitas Intel. Untuk i7 nama kodenya adalah Kaby Lake (mengingatkan saya pada Krabby Patty #penting), kependekan dari Kabinakagami Lake di dekat Ontario, Kanada.)

Untuk SDRAM, Uli cuma punya 2 GB sedangkan memory SDRAM Flip bisa sampai 16 GB.  Dulu punya 2 GB tuh rasanya udah gede banget! Untuk sistem operasinya menggunakan Windows 10 asli. Entah kenapa, setelah instal Windows 10 di Uli, performanya terasa lebih lambat dibanding sebelumnya. Ini yang paling terasa di Uli. Mungkin karena spesifikasi Uli yang kurang cocok untuk Windows 10. Atau mungkin Ulinya saja yang sudah uzur. Hiks.

Dengan spesifikasi ini, saya pikir Flip cukup untuk kebutuhan kerja saya yang sudah tidak berat di programming lagi. Untuk mengerjakan dokumen, presentasi, atau sekedar remote ke server, Flip bisa menjadi pilihan yang tepat. Engga hanya untuk kerja, kalau pakai laptop sebagus ini sih bisa menambah semangat untuk nge-blog atau buat tulisan untuk kelas menulis IIP ya kaaan. #modus

Flip memiliki storage 1 TB HDD dan 128 GB SSD. Jauh banget dengan Uli yang "hanya" 320 GB! Sekarang saja dua drivenya udah merah, hahahaha. Apalagi setelah punya anak, isinya foto dan video anak semua yang memakan banyak tempat.
Mengklaim sebagai laptop 2-in-1 (laptop dan tablet), Flip memiliki display touch screen berukuran 14.0" dengan ukuran body 13.0". Ngiler sama touch screen-nya sih. Kalau sudah ada anak, lihat ibunya pakai laptop, pasti ingin ikutan. Entah lihat foto-foto (fotonya sendiri, narsis memang), video, atau menggambar di aplikasi Paint atau 3D-Paint. Dengan posisi Flip yang bisa standing display, enak banget buat dipakai anak. Kalau untuk menggambar pakai touch pad agak susah ya, apalagi anak baru 2.5 tahun, koordinasi tangannya masih belum bagus. Dengan touch screen yang akurat, ibu ga perlu susah-susah pake touch pad anak bisa bebas berekspresi dalam menggambar. Tinggal clickswipescroll! Cucok!

Selain itu, dengan standing display, layar resolusi Full HD, built-in stereo ASUS SonicMaster Technology dan prosesor i7 yang disebut cocok untuk penggunaan video,  jadi perpaduan yang mantap untuk streaming film! Terbayang kejernihan layar dan suara saat dipakai nonton. Daripada nonton di layar ponsel yang kecil terus bikin sakit mata, apalagi TV di rumah juga belum diperbaiki sama suami udah berbulan-bulan. #curcol

Keyboard menggunakan jenis yang sama dengan Uli, chiclet keyboard. Perbedaannya, Flip punya backlit, Uli engga. Untuk otentikasi, Flip menyediakan fingerprint. Dengan fingerprint proses login bisa lebih cepat! Soalnya sekarang kalau laptop mau dipakai oleh anak, harus mengetik password dulu kan, loading dulu, dan anaknya sudah engga sabaran. Lalu dipencetlah tombol Power lagi, dikiranya bakal bisa buat lebih cepat. Zzzzzzzz.

Web camera VGA masih oke untuk dipakai video call. Sekarang sih biasanya video call dengan orang tua yang kangen dengan cucunya. Kalau dulu video call-nya sama.....*sinyal hilang*
Konektivitas dengan perangkat lain bisa menggunakan 1 Microphone-in/Headphone-out jack, 2 port USB 3.0, 1 port USB-C, slot card reader, dan port HDMI. Cukup banget lah ya. Uli saja masih pakai port VGA. Hahaha. Hari gini...

Yang paling penting lagi untuk saya adalah berat Flip yang 1.6 kg. Berat adalah salah satu faktor penting dalam memilih laptop karena saya punya skoliosis. Tidak boleh membawa beban terlalu berat di pundak. ASUS pun mengklaim baterai dapat bertahan selama 10 jam. Lebih dari cukup kalau ingin jalan-jalan cantik sambil bawa laptop.

ASUS juga memberikan garansi 2 tahun untuk Flip. Dengan service center-nya yang tersebar dimana-mana, engga perlu khawatir lagi kalau ada kerusakan. Ah, semoga saya berjodoh juga dengan kamu Flip!



(Informasi dari ASUS, sini, sana, situ, dan sebelah sana. Gambar dari ASUS dan sini.)
(Tulisan ini dibuat untuk #DianaRikasarixASUSGiveaway)

Tuesday, January 02, 2018

Selamat tinggal 2017!



Tahun 2017 ini terasa berjalan cepat sekali. Di akhir tahun 2016, saya pindah divisi di kantor dan kerjaannya makin banyak. Akhir-akhir ini malah sampai ga sempet ngecek feed reader di kantor. We o we.

Alhamdulillah di tahun 2017 banyak hal baru yang dialami. Mulai dari ikut komunitas Institut Ibu Profesional dan grup ITB Motherhood cabang Jakarta, Tangerang dan Tangerang Selatan. Ikut IIP karena saya merasa menjadi ibu itu perlu banyak belajar dan di IIP pembelajaran sebagai ibu tersusun dengan rapih dengan kurikulumnya. Salut dengan pendiri IIP, Ibu Septi dan Pak Dodik beserta komunitasnya. Semoga amal dan ilmunya menjadi amal jariyah. Aamiin.

Dari komunitas IIP, pertama kalinya saya belajar jahit. Dari bikin pola, gunting, sampai jahit sendiri. Ternyata saya bisa juga buat baju sendiri dan engga sesulit yang dibayangkan. Di komunitas IIP juga saya ikut kelas menulis rutin sebagai "motivasi" menulis di blog. Dibandingkan tahun 2016 saja jumlah postingan sudah naik 50%! Amazing. #keprok

Di komunitas ITB Motherhood JakTangSel juga rutin setiap bulan mengadakan playdate untuk ibu dan anak. Selain serangkaian playdate anak, diadakan juga beauty class untuk ibu-ibu dan basic life training (CPR). Kayaknya kalau engga diinisiasi di grup, saya engga akan ada kesempatan untuk ikut seperti itu. Ibu-ibu hebat! #jempol

Menjelang akhir tahun 2017, saya mulai olah raga rutin dengan aerobic di rumah dan ikut kelas Muay Thai di klub dekat rumah. Dari dulu sebenarnya saya ingin ikut kelas bela diri. Sebelumnya pernah ikut Taekwondo dengan ibu-ibu ITBMh, sayang tidak diteruskan. Memilih Muay Thai juga karena tidak ada pilihan lain dengan waktu yang cocok. Ternyata asyik juga ikut Muay Thai, kalau lagi kesal atau bad mood tinggal pukul-pukul samsak sekuat tenaga. Hahaha.

Target membaca tahun 2017 tercapai! Membaca 13 buku dari target 12 buku. Kesal sendiri dengan tumpukan buku yang belum terbaca dari tahun-tahun kemarin, ditambah dengan tumpukan BBW baru, mulai konsisten baca satu buku per bulan.

Tahun 2017 juga pertama kalinya saya kena radang tumit (plantar fasciitis) karena ternyata saya memiliki flat feet. Penyebabnya adalah saat hamil, berat badan bertambah tapi tidak ditopang dengan sandal yang mumpuni. Dulu saya pakai sendal teplek saja. Ternyata sendal seperti itu kurang bagus sebenarnya, yang bagus adalah yang bersol dan empuk. Untuk kasus flat feet seperti saya, alas kaki harus mempunyai "gundukan" di tengah telapak kaki, karena dengan gundukan itu bisa memperbaiki postur kaki ketika menopang tubuh. Alhamdulillah radangnya sembuh setelah berkali-kali fisioterapi yang menguras jatah medis di kantor. Akibat flat feet ini sekarang engga bisa pakai sepatu unyu-unyu lagi. :(

Di tahun 2017 saya sedikit mempraktekkan konsep Konmari: miliki barang yang membuat diri kita senang, terutama masalah baju. Selain karena faktor Konmari dan ukuran lemari yang terbatas, baju yang dibeli harus sama dengan baju yang dikeluarkan. Tahun 2017 bisa dibilang paling sedikit belanja baju, lebih banyak baju yang dikeluarkan malah. Tapi ternyata baju yang membuat saya senang itu banyak, jadi ukuran lemari masih menjadi masalah. Hahahah.

Untuk pengalaman yang bukan pertama kali adalah kedua kali anak masuk rumah sakit karena kejang demam. Pengalaman terburuk sebagai orang tua. Saya kesal sekali dengan diri sendiri karena lupa stok obat anti kejangnya. Padahal dengan penanganan yang baik, kejang demam dapat dicegah. Sekarang tiap sebentar, mengecek kepala anak dan selalu siap siaga dengan obatnya. Jangan sampai terjadi lagi ya Allah.

Tahun 2017 ditutup dengan kejutan yang mampir di inbox email! Hihihi..rasanya engga sabar untuk mengumumkan tapi harus ditunda dulu. Sabaaarrrr.

Not a bad year, eh?

Terima kasih 2017, selamat datang 2018! Let's seize the day(s)!