Sunday, February 25, 2018

Revolusikan Pakaianmu!


Untuk sebagian perempuan, pakaian bisa menjadi kelemahannya. Lihat diskon baju, beli. Lihat motifnya lucu, beli. Lihat pakaian punya teman yang bagus, beli. Apalagi sekarang banyak banget platform belanja online yang memungkinkan hanya dengan mengetik jari, barang yang dibeli bisa sampai di depan rumah. Kalau tidak ditahan-tahan, pakaian suami bisa terusir dari lemari. Hahaha.

Konmari dan Capsule Wardrobe
Di tahun 2017 kemarin banyak berseliweran info tentang Konmari dan Capsule Wardrobe yang mengubah cara pandang saya terhadap pakaian. Saya belum selesai membaca buku Konmari tapi tertarik dengan konsep "spark joy"-nya, terutama untuk pakaian. Capsule Wardrobe konsepnya adalah membatasi pemakaian baju dalam rentang waktu tertentu. Karena konsep ini awalnya dibuat di negara 4 musim, jadi rentang waktu yang digunakan adalah 3-4 bulan per musim. Setiap musim baru dimulai, dilakukan pemilihan baju dengan jumlah tertentu (ada yang 37, 40, bahkan 12 baju saja) disesuaikan dengan musimnya. Dari pemilihan baju tersebut juga dilihat apakah bisa di-mix and match supaya tidak bosan.

Senang dan Nyaman
Melihat space di lemari yang semakin berkurang dan kondisi lemari yang berantakan, saya memutuskan untuk merevolusi pakaian saya. Dengan konsep "spark joy"-nya Konmari, saya memilah-milah pakaian mana yang memang membuat saya senang memilikinya dan mana yang tidak. Selain rasa "senang", saya juga menambahkan rasa "nyaman". Apakah saya senang dan nyaman memakai pakaian ini? Meskipun motifnya bagus tapi saya tidak nyaman atau tidak pede memakainya, akan saya pisahkan.

Palet Warna
Untuk Capsule Wardrobe belum bisa sepenuhnya saya lakukan tapi yang saya terapkan adalah konsep palet warna. Supaya tidak bosan dengan jumlah pakaian yang terbatas, palet warna bisa digunakan untuk memilih pakaian dengan warna-warna yang saling melengkapi. Untuk pakaian, saya "hanya" punya warna navy, biru, pink, maroon, tosca, ungu, abu dan hitam.  Dari kedua konsep itu, saya sisihkan pakaian saya yang:
1. Tidak membuat senang
2. Jarang digunakan karena tidak nyaman
3. Tidak masuk dalam palet warna

Get in, Get out
Selain Konmari dan Capsule Wardrobe, untuk membatasi jumlah pakaian saya menerapkan konsep Get in, Get out; yaitu jika ada satu pakaian baru (kadang saya lemah iman juga sih hahaha), maka satu pakaian lama harus disisihkan.

Dari penerapan konsep-konsep ini hasilnya lumayan juga, lemari jadi lebih rapi, space lemari bertambah dan membuat saya mikir berkali-kali kalau mau belanja pakaian. Dihitung-hitung, tahun kemarin jadi tahun paling sedikit belanja pakaian seumur punya uang sendiri. #prokprokprok

(disadur dari salah satu postingan 30haribercerita. Gambar dari tes.com)

Saturday, February 10, 2018

6 Tips Lebih Bahagia di Kondangan


Ada dua kata yang bisa membuat saya bahagia: makan gratis. Dulu saya suka sekali ikut orangtua ke acara pernikahan teman orangtua atau saudara. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah makan-makan! Tinggal pakai baju cantik, pasang senyum kalau ditanya, kenyang! Berdasarkan pengalaman mendatangi banyak acara pernikahan, berikut adalah tips yang bisa dilakukan supaya bisa mendapatkan hasil yang optimal.

1. Informasi Stand
Keliling dulu lihat stand-stand makanannya. Lebih bagus kl datang lebih cepat sebelum acara dimulai. Ruangan masih belum ramai dan pandangan ke arah stand-stand masih jelas. Lima menit cukup untuk keliling.

2. Target Stand
Setelah informasi stand-stand makanan didapat dengan lengkap, tentukan target stand yang ingin didatangi.

3. Porsi Makanan
Tentukan porsi makanannya. Porsi makanan tergantung jumlah target. Kalau targetnya banyak, porsi makan dibuat sedikit saja supaya ga cepet kenyang dan semua target stand makanan tercapai

4. Antrian
Perhatikan juga panjang antrian. Kalau antrian terlalu panjang dan mengular, skip saja. Jangan buang-buang waktu, kecuali ga ada pilihan lain

5. Lihat Piring Orang Lain
Lihat-lihat juga makanan di piring-piring orang lain. Mungkin ada makanan lain yang terlewat. Biasanya dessert yang suka habis duluan atau tempatnya tertutup orang-orang.

6. Doa untuk Pengantin
Jangan lupa doakan juga pengantinnya supaya makanannya lebih berkah. Sebagai bentuk terima kasih atas makanannya yang ena'-ena'.

 Selamat makan!
(disadur dari salah satu postingan 30haribercerita)

Saturday, February 03, 2018

Au Revoir Rabbithole

Hari ini dapat kabar kalau penerbit buku Rabbithole akan tutup (sementara). Sedih deh. Padahal buku-buku anaknya bagus-bagus. Saya punya yang buku emosi "Hmmm" dan "Suara Apa itu?". Sayang, dulu saya beli buku "Suara Apa Itu?" yang jenis paperback. Sekarang sudah engga jelas bentuknya lagi karena sering dibaca oleh anak.

Sangat disayangkan dengan rencana tutupnya Rabbithole. Entah apa penyebabnya, menjadi berkurang satu penerbit buku anak yang berkualitas. Saya senang beli buku-buku untuk anak untuk menumbuhkan minat bacanya. Dengan buku yang berkualitas, juga membantu menumbuhkan minat baca karena membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan.

Alhamdulillah kalau diperhatikan minat baca anak saya mulai tumbuh. Dalam sehari pasti ada buku yang dibaca. Entah dengan keinginan sendiri atau diajak oleh saya. Selain itu, penting juga memberi contoh dalam kegiatan membaca oleh orang tua. Anak saya juga sudah mengenali kebiasaan baca buku saya yang dilakukan sambil maskeran. Kalau sudah lihat saya pakai masker, anak saya akan bertanya, "Ibu mau baca buku?" Mudah-mudahan minat bacanya ada terus sampai dewasa.

Dari kabar hari ini, kira-kira nanti Rabbithole akan ada cuci gudang ga ya? *siap-siap dompet*

30 Hari Bercerita 2018


Di tahun 2018 ini saya ikut kembali 30 Hari Bercerita di Instagram. Awalnya ragu-ragu mau ikutan, dari dua kali ikut rasanya engga optimal. Banyak hari yang terlewat dan banyak rapel tulisan.

Setelah dipikir-pikir, banyak hari yang terlewat karena saya engga punya ide mau nulis apa. Tiba-tiba teringat tips bikin catatan kecil di ponsel untuk ide-ide tulisan yang muncul. Setelah dicoba, beberapa ide tertulis untuk beberapa hari. Akhirnya di detik-detik terakhir memutuskan untuk ikut tantangan ini.

Di akhir-akhir mulai terasa berat karena beban posting tiap hari. Ide-ide mulai menipis. Untuk ide untungnya tertolong dari tantangan tema 30 Hari Bercerita sendiri di hari-hari tertentu. Untuk tantangan tema juga tidak mudah karena tidak terpikir untuk mengembangkan tulisan seperti apa. Saya coba untuk membuat mind map dari tema atau googling tema tersebut. Seperti tema Hoaks yang blank banget. Akhirnya googling malah dapat berita tentang Hoaks Analyzer.

Tidak semua postingan dari catatan ide. Kadang saya posting apa yang terjadi di hari itu. Lumayan untuk nambah-nambah postingan.

Selain ide tulisan, saya pikir yang perlu diperhatikan adalah waktu posting tulisan. Dengan menentukan kapan akan posting tulisan membantu untuk disiplin menulis. Awalnya menentukan waktu istirahat siang untuk posting tulisan atau pagi hari sambil sarapan. Beberapa hari bisa disiplin seperti itu, tapi ada juga kadang di malam hari sebelum tidur.

Sebagian besar tulisan yang saya posting adalah non-fiksi. Terasa lebih mudah dibanding fiksi yang perlu usaha lebih. Kadang tulisannya pendek, kadang panjang. Kalau pendek artinya sedang buru-buru dan ga sempet mengembangkan tulisan. Sekedar menunaikan kewajiban posting saja.

Sedihnya, kali ini engga ada repost tulisan saya oleh 30 Hari Bercerita. Huhuhu. Dibanding sebelumnya yang ada satu kali repost. Padahal di tahun ini lebih niat lho. Hahaha. Yah, emang bukan itu sih tujuan utamanya. Yang penting berhasil menyelesaikan tantangan ini dengan baik dan lebih baik dari sebelumnya. Tetap semangat!