Saturday, May 19, 2018

Pengalaman Buat Paspor

Setelah bertahun-tahun paspor saya kadaluarsa, akhirnya semangat memperpanjang karena tiba-tiba ada 'motivasi'. Haha. Kalau baca-baca pengalaman orang yang sudah pernah urus paspor, sekarang urus paspor sepertinya mudah dan simpel. Bahkan bisa dilakukan di kantor imigrasi mana pun tanpa perlu melihat asal KTP. Kali ini, saya dan anak dengan kartu identitas Bandung tinggal di daerah Serpong, mencoba peruntungan membuat paspor di daerah Jabodetabek.

Langkah pembuatan paspor:
1. Daftar online lewat aplikasi Antrian Paspor


Di aplikasi ini untuk daftar antrian untuk mengurus paspor. Di dalam aplikasi akan ada sederet kantor imigrasi yang bisa dijangkau dari rumah kita karena aplikasinya berbasis GPS. Dari deretan kantor imigrasi ini tinggal dipilih kantor mana yang masih punya slot antrian. Berhubung saya daftarnya agak mendadak, kantor imigrasi 'terdekat' yang masih punya slot antrian ada di......Depok. Wakwawwaw. Setelah pilih hari dan jam yang diinginkan, nanti akan ada kode booking dan QR Code yang perlu ditunjukkan ke petugas. Jangan lupa di-screenshot, untuk back-up kalau tiba-tiba paket data habis. Hehehe.

2. Datang ke Kantor Imigrasi dengan berkas dokumen yang dibutuhkan dan mengisi form pengajuan paspor


Salah satu alasan pemilihan Kantor Imigrasi Depok karena mereka punya channel Youtube sendiri dan video yang dibuat cukup informatif. Asumsinya, pelayanannya bisa lebih oke dong karena sudah melek digital.

Jadwal antrian saya jam 14:00. Karena perjalanan yang sedikit macet, saya datang jam 14:00 lebih sedikit. Di jalan sudah khawatir engga boleh ikut antrian karena telat, padahal sudah jauh-jauh dari Serpong. Huhuhu. Alhamdulillah, boleh masuk meskipun telat sedikit. Tidak bisa jadi alasan boleh telat datang ya, karena tepat waktu itu lebih baik!

Anehnya, ketika datang ke kantor imigrasi, saya kira langsung bisa antri untuk pengecekan dokumen tapi ternyata masih harus mengisi form lagi. Padahal sudah ada data di e-ktp, seharusnya bisa menggunakan data-data tersebut, kecuali data tambahan yang diperlukan atau memang ada perbedaan data dengan e-ktp. Ya engga siiih?

Dokumen yang dibutuhkan untuk membuat paspor dewasa:
  1. KTP
  2. Kartu Keluarga
  3. Akte lahir/Ijazah/Surat Nikah/Baptis

Dokumen yang dibutuhkan untuk membuat paspor anak di bawah 17 tahun:
  1. KTP Orang tua
  2. Kartu Keluarga
  3. Akte lahir
  4. Surat Nikah/Surat Cerai + Hak Asuh
  5. Surat Izin Orang tua (dapat di-download di sini)

Karena paspor saya sudah kadaluarsa bertahun-tahun, saya kira saya perlu mengikuti syarat paspor baru, ternyata tidak. Tetap mengikuti syarat dokumen perpanjang paspor dengan membawa:
  1. KTP
  2. Paspor lama

Semua dokumen asli dan fotokopinya (ukuran A4, tidak dipotong-potong) dibawa ketika pengurusan paspor ini. Selain itu, jangan lupa bawa dan memakai pulpen hitam untuk pengisian form. Siapkan juga materai 6000 beberapa buah untuk dilampirkan di surat pernyataan.


3. Cek berkas
Setelah form diisi, petugas akan memberikan nomor antri untuk pengecekan berkas dokumen yang dibutuhkan. Lumayan lama juga nunggunya, sekitar satu jam. Mungkin karena harus dicek baik-baik dokumen yang dibawa ya. Ada saja orang yang kurang dokumen atau salah fotokopi, jadi harus bolak-balik dicek. Selama dokumen lengkap, seharusnya tidak ada masalah.

Yang saya salut dengan Kantor Imigrasi Depok ini, fasilitasnya cukup lengkap. Di tempat menunggu disediakan minum, snack, dan tempat charging. Selain itu ada kantin, ruang menyusui, mushalla, dan ada penyelamat emak-emak yang bawa anak kecil: playground! Looooveee. Mudah-mudahan di kantor imigrasi lain seperti ini juga ya.


4. Wawancara dan foto
Jika berkas sudah lengkap dilanjutkan dengan antrian wawancara dan foto untuk paspornya. Wawancaranya biasa saja sih, engga seperti wawancara kerja yang banyak pertanyaannya. Santai saja. Selesai foto, akan mendapatkan bukti pembuatan paspor dari petugas sebagai dasar pembayaran paspor di bank dan pengambilan nanti.

5. Pembayaran paspor
Katanya sih pembayaran paspor bisa dilakukan di bank mana saja tapi saya engga terlalu yakin. Hahaha. Jadi pilih saja pembayaran di bank-bank besar supaya aman. Alternatifnya, di kantor imigrasi Depok ini ada mobil Pos Indonesia yang dapat digunakan sebagai tempat pembayaran kalau merasa jauh ke bank. Biaya pembuatan paspor 48 halaman adalah Rp. 355.000,-

6. Pengambilan paspor
Sudah dibayar di bank, akan mendapatkan bukti lunas pembayaran yang digunakan untuk pengambilan paspor di kantor imigrasi. Dari petugas imigrasi, diberi alternatif untuk mendaftar di mobil Pos Indonesia agar paspor tersebut dikirimkan ke rumah. Jadi tidak perlu bolak-balik. Sayang, ketika saya selesai proses pembuatan paspor, sudah terlalu sore dan mobil Posnya sudah tutup :(

Cukup mudah kan pembuatan paspornya? Jadi, jalan-jalan kemana kita? :)

0 komentar: