Friday, August 31, 2018

#Modyarhood: Tentang Mainan Anak

Bicara tentang mainan anak, saya termasuk yang pemilih, berusaha memilihkan mainan yang sesuai dengan usia, kebutuhan dan memang belum ada di rumah. Hal ini juga untuk menghindari tumpukan mainan yang terlalu banyak dan berantakan. Alhamdulillah anak saya bisa diajak kerjasama, kalau ke toko mainan jarang minta untuk dibelikan. Paling dipegang-pegang aja. Anak solehaaaa. #dompetaman

Tapiii...yang saya perhatikan, meskipun sudah dibelikan mainan yang sesuai usia, belum tentu anak akan tertarik atau malah cepat bosan dengan mainannya. Awalnya sedih sih, udah dibeli tapi engga dipakai. Tapi ternyata, mainan itu bisa jadi dimainkan lagi......beberapa bulan kemudian! Bahkan bisa sampai setahun, baru anak menemukan asiknya main mainan itu. Jadi, kalau ada yang senasib, engga usah sedih dulu, mungkin anak memang belum "butuh" dengan mainan itu.

Apalagi anak saya tipe yang engga mau diam, kalau dia sudah bosan dengan mainannya, saya menahan dulu untuk membeli mainan baru. Saya membebaskan anak untuk memakai barang-barang di rumah. Daripada stress tiap kali lihat dia pegang-pegang barang, menurut saya lebih baik membebaskan selama tidak berbahaya dan dalam pengawasan. Lebih aman untuk emosi saya dan anak :D (Remember, happy mom happy child!). Anak juga akan tertantang untuk berkreasi menggunakan barang-barang yang sudah ada. Berimajinasi.

- Main dokter-dokteran dengan botol obat luka
- Main cetak pasir kinetik dengan alat masak mainan
- Main beras dan sayur untuk masak-masakan
- Main tutup panci sebagai alat musik
- Main panci sebagai topi
- Main bowling pake botol-botol minum dan bola, dll.


iseng banget XD

Karena saya membebaskan anak untuk menggunakan barang-barang yang ada di rumah, childproofing menjadi penting. Benda-benda tajam dan berbahaya dijauhkan dari jangkauan anak dan menghindari terlalu banyak perabotan mudah pecah (kalau ini alasan utamanya malas beli perabotan aja sih karena rumah masih ngontrak hehehe).

Selain itu, di rumah saya juga membebaskan coret-coret tembok! Mungkin kalau orang lain bertamu ke rumah akan geleng-geleng melihat tembok-temboknya, but this is my house, my rule. :D


washi tape ditempel-tempel T_T padahal kan cita-citanya dipake buat journalling. baru cita-cita doang tapi. huehuehue.

Menurut Femi Olivia di bukunya "Gembira Corat-Coret":
Apalagi tembok bisa dibersihkan dari coretan, tapi kalau hati anak yang sedih karena dimarahi akibat mengotori tembok akan sulit diobati. Jadi jangan buru-buru melarang anak Anda coret-coret, tapi sediakan media yang tepat! Jika masih gagal, siapkan selalu cat tembok baru, karena kreativitas anak jauh lebih mahal ketimbang cat tembok.
See, selama engga berbahaya, bebaskaan saja permirsaaahhh :D

Tulisan ini dibuat dalam rangka ikutan proyek #Modyarhood oleh @byputy dan @mamamolilo.

0 komentar: