Sunday, August 18, 2019

Book Review: Filosofi Teras


Kali ini saya mencoba review buku dari Henry Manampiring yang berjudul Filosofi Teras. Membaca kata 'filosofi' kesannya topik yang berat banget tapi yang ini, tidak kok.

Berawal dari depresi yang dialami Henry Manampiring di tahun 2017, di sela menjalani pengobatan, beliau menemukan alternatif solusi untuk kondisinya, yaitu dengan menerapkan Filosofi Teras. Buku ini membagi pemahaman dan pengalaman Henry Manampiring dalam menerapkan Filosofi Teras di kehidupan sehari-hari, terutama mengatasi kegalauan atau permasalahan yang terjadi dalam hidupnya.

Di dalam buku Filosofi Teras juga diceritakan sejarah munculnya ajaran ini. Ungkapan 'Filosofi Teras' asalnya dari terjemahan 'Filosofi Stoa' yang diajarkan oleh Zeno di jaman Yunani dulu. 'Stoa' berasal dari tempat Zeno mengajari ajarannya yaitu di sebuah teras (stoa) berpilar. Pengikutnya disebut kaum 'Stoa' dan ajarannya disebut 'Stoisisme'.

Format buku ini terdiri dari dua belas bab plus epilog. Kadang saya membaca babnya loncat-loncat, tergantung topik yang dibahas. Meskipun bacanya loncat-loncat, tidak terlalu bingung untuk meneruskan bab lain, karena di setiap akhir bab ada poin-poin penting yang ada di bab tersebut. Selain itu, di akhir beberapa bab ada hasil wawancara dengan orang-orang dari berbagai latar belakang tentang Filosofi Teras ini.

Poin penting yang saya ambil dari buku ini adalah metode untuk mengatasi emosi negatif yang muncul, seperti sedih, marah atau galau, dll. Metode ini disingkat menjadi S-T-A-R:
1. STOP (Berhenti)
Ketika emosi negatif muncul, dengan sadar kita harus berhenti dulu. Jangan terus larut dalam emosi negatif tersebut.

2. THINKASSESS (Dipikirkan dan dinilai)
Kemudian, pikirkan dan nilai emosi negatif ini. Apakah emosi ini bisa dibenarkan atau tidak? Apakah emosi ini berdasarkan fakta yang ada atau interprestasi kita sendiri?
Dalam Filosofi Teras, cara menilai emosi adalah dengan bertanya, apakah emosi ini terjadi karena sesuatu di dalam kendali kita atau di luar kendali?
Jika sesuatu terjadi di luar kendali, maka percuma kalau mau marah-marah atau bersedih, tidak akan mengubah apapun.
Jika memang ini sesuatu di dalam kendali, lebih baik dipikirkan solusi atau jalan keluarnya daripada larut dalam emosi.

3. RESPOND
Jika sudah dipikirkan dengan nalar dan secara rasional dalam mengendalikan emosi, baru dipikirkan bagaimana cara memberikan respon atas situasi yang ada.

Ini hanya sebagian dari penerapan Filosofi Teras dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada waktu luang, lebih baik membaca bukunya langsung supaya memiliki pemahaman yang menyeluruh. Cara penyampaian dari penulis juga sangat ringan, disertai contoh-contoh riil, dan diselingi humor-humor kekinian yang menggelitik. Tidak akan sulit untuk menghabiskan buku ini dalam waktu singkat.

3 komentar:

Tri Wahyuni said...

Wah.. jadi penasaran sama bukunya mbak..

Makasih reviewnya mbak 😘😘

Chriesty Anggraeni said...

Makasih banyak sharingnya mba, alhamdulilah dapet ilmu baru nih🤩

af.umara said...

Bacaan berat kayaknya nih 😆
Makasih sharingnya mbaa